oleh

KPK Indentifikasi Empat Potensi Korupsi Penanganan Covid 19

Jakarta, Fajarmanado.com – Meski di tengah pandemi dan puluhan pegawainya terpapar Coronavirus Disease 2019 atau Covid 19, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tetap melakukan upaya pemberantasan korupsi.

Ketua KPK Firli Bahuri mengatakan, tugas pemberantasan korupsi tetap dan tetus intens dilakukan KPK. Walaupun di tengah pandemi upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi tak pernah berhenti.

Bahkan, KPK telah mengendus dan mengidentifikasi empat potensi korupsi pada penanganan Covid 19.

“(KPK)  sekaligus membuat empat langkah antisipasi yang dilihat juga di aplikasi JAGA BANSOS KPK,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (29/8/2020).

Ke empat potensi dan langkah pencegahan tersebut, yaitu;

1. Potensi Korupsi Pengadaan Barang/Jasa mulai dari kolusi, mark-up harga, kickback, konflik kepentingan & kecurangan.

Antisipasinya, KPK mengeluarkan SE No.8 Th 2020 tentang Penggunaan Anggaran Pelaksanaan Barang/Jasa dlm Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 Terkait Pencegahan Korupsi.

Isi dari SE tersebut adalah memberikan rambu-rambu pencegahan untuk memberi kepastian bagi pelaksana PBJ hingga mendorong keterlibatan aktif APIP dan BPKP untuk melakukan pengawalan dan pendampingan proses pelaksanaan PBJ dengan berkonsultasi kepada LKPP.

2. Potensi korupsi filantropi/sumbangan pihak ketiga.
Kerawanan pada pencatatan penerimaan, penyaluran bantuan & penyelewengan bantuan.

Upaya pencegahannya, KPK menerbitkan panduan berupa Surat KPK Nomor B/1939/GAH.00/0 1-10/04/2020 tentang Penerimaan Sumbangan/Hibah dari Masyarakat. Ditujukan kepada Gugus Tugas dan seluruh kementerian/lembaga/pemda.

Baca Juga :  Digelar KPK, Wali Kota Tomohon Ikut Monev Pencegahan Korupsi Terintegrasi

3. Potensi korupsi pada proses refocusing dan realokasi anggaran Covid-19 untuk APBN dan APBD.
Titik rawannya terletak pada alokasi sumber dana dan belanja serta pemanfaatan anggaran.

Upaya pencegahan: Koordinasi, monitoring perencanaan refocusing/realokasi anggaran, dan memberikan rekomendasi kepada Kementerian/lembaga/pemda apabila menemukan ketidakwajaran penganggaran atau pengalokasian.

4. Potensi korupsi penyelenggaraan bantuan sosial (Social Safety Net) oleh pemerintah pusat dan daerah. KPK mengidentifikasi titik rawan pada pendataan penerima, klarifikasi dan validasi data, belanja barang, distribusi bantuan, serta pengawasan.

Upaya pencegahan, mendorong Kementerian/Lembaga/Pemda untuk menggunakan DTKS sebagai rujukan pendataan penerima Bansos dan mendorong keterbukaan data penerima Bansos serta membuka saluran pengaduan masyarakat.

“Insya Allah upaya ini dapat menutup semua celah atau potensi anggaran penanggulangan pandemi Covid 19 yang berasal dari uang rakyat,” imbuhnya.

Kembali saya ingatkan, jangan pernah berfikir, coba-coba atau berani korupsi dana bansos. KPK pasti akan mengambil opsi tuntutan hukuman mati seperti tertuang pada ayat 2 pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang berbunyi: “Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.”

Baca Juga :  Dipimpin Fatoni, Sekkot Harold Hadiri Rakor Pilkada 2020 dan Penanganan Covid 19

Kondisi pandemi Covid 19 tentunya masuk atau memenuhi unsur ‘dalam keadaan tertentu’ sesuai yat 2 pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sehingga hukuman mati layak menjadi hukuman bagi pelaku koruptor Bansos.

“Miris, sangat kejam dan sungguh tega apabila bansos ditengah pandemi seperti ini, masih saja di korupsi untuk kepentingan sendiri.
Orang yang berani korupsi jelas tidak beriman. Ketamakan dan nafsu membutakan mata, menutup rapat daun telinga dari pilu nyaring jeritan pedih saudaranya,” ketusnya.

“Saya teringat pesan sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib RA, yang menyatakan bahwa dia yang bukan saudaramu seiman, adalah saudara mu dalam kemanusiaan,” sambung dia.

Dalam kesempatan ini, Ketua KPK kembali mengingatkan kepada semua pihak bahwasanya virus Corona memang tidak kasat mata, tapi keberadaannya nyata dan sudah banyak menelan korban jiwa.

“Dimulai dari diri sendiri, Perbanyak amal dan ibadah, selalu berdoa dan gelorakan semangat anti korupsi, jaga diri dengan menerapkan pola hidup sehat, jaga jarak, gunakan masker, selalu cuci tangan dan bawa selalu handsinitizer, Insya Allah dapat mengindari kita terpapar virus Corona,” papar Firli Bahuri.

Editor : Herly Umbas

Sumber: JMSI

News Feed