Kawangkoan, Fajarmanado.com – Wakil Ketua DPD KNPI Minahasa Leslie Sarayar, SIP menilai pernyataan JWS mengenai pencalonannya pada Pilkada Minahasa 2018 sangat tendensius dan arogan.
“Bahkan, saya menilai pernyataannya itu cenderung berorientasi untuk mempertahankan kekuasaan. Saya pikir ini tidak baik ke luar dari mulut seorang Bupati,” katanya kepada Fajarmanado.com di Kawangkoan (5/3) tadi malam.
Ketika memberikan keterangan pers di Tondano, Senin (27/3), pekan lalu, Drs Jantje Wowiling Sajow (JWS), yang kini Bupati Minahasa, menyatakan kesiapan maju kembali sebagai Pilkada Minahasa 2018 sebagai bupati.
“Lebih bagus ada lawan, supaya seru,” ujar Sajow, Senin (27/2). Bahkan, ketika itu, ia menantang beberapa pejabat untuk mencalonkan diri menjadi lawannya di Pilkada.
“Silakan saja, tidak boleh menghalangi orang untuk mencalonkan diri, bahkan saya mendorong wakil bupati untuk maju mencalonkan diri sebagai Bupati Minahasa, sudah cukup lima tahun, tidak enak jadi wakil harus jadi bupati,” kata JWS.
Menurutnya, lebih baik jika ada tiga calon bupati supaya Pilkada seru. “Soalnya kalau hanya sendiri pilkada namanya bukan pilkada,” ujarnya.
Dia tidak mempermasalahkan jika lawannya nanti orang dekat sekalipun. “Pemilihan lalu saja saya hadapi gorango (ikan hiu), lalu saya belum ada apa-apa tapi saya menang, apalagi sekarang,” ujar JWS seperti dikutip manado.tribunnews.com.
Menurut Sarayar, sebagai seorang pemimpin JWS seharusnya bijak dalam mengeluarkan setiap statetment. Sebagai kepala daerah seyogianyalah JWS bersikap dan betutur kata yang mengayomi masyarakat bukan untuk tantang menantang.
Ia mengatakan, Pilkada 2018 masih jauh karena tahapannya pun belum dimulai. “Seharusnya JWS fokus dengan persoalan yang terjadi di Mminahasa belakangan ini, seperti musibah banjir dan tanah longsor yang sampai saat ini belum tertangani dengan baik,” ujar Sekretaris Generasi Penerus (GP) Minahasa Tengah (Minteng) ini.
Sarayar menilai masih banyak urusanpemerintahan yang masih jauh dari kepuasan masyarakat. Selain penanganan korban bencana alam, juga program Pesona Minahasa yang telah dilaunching di Jakarta.
“Launching Pesona Minahasa itu dikabarkan menghabiskan dana miliaran rupiah pada tahun lalu tapi belum terasa juga dampak terhadap masyarakat Minahasa secara umum,” ujarnya.
“Saya rasa hal ini menyakitkan hati masyarakat Minahasa ketika JWS sudah berpikir Pilkada kendati program pemerintah belum dapat diselesaikan tuntas,” sambung dia.
Sarayar juga menilai, pernyataan JWS soal menantang siapa saja yang maju Pilkada 2018 bukan merangkul segenap elemen masyarakat untuk mendukung sukses program pembangunan di daerah ini.
“Justru hanya membuat masyarakat menjadi terkotak-kotak, apalagi pernyataannya yang menyingung soal menghadapi Gorango pada Pilkada lalu tapi menang ketika belum ada apa-apa, apalagi sekarang yang baginya sudah banyak apa-apa,” imbuhnya.
Pemuda yang juga aktivis organisasi gereja terbesar di Sulut ini menilai pernyataan JWS soal belum dan sudah ada apa-apa ini, patut dipertanyakan.
“Kalau soal belum berbuat apa-apa untuk rakyat Minahasa, saya kira bukan itu, karena sebelumnya JWS beberapa periode sebagai angota DPRD Minahasa dan Golkar, Kadispora Minahasa dan Wakil Bupati Minahasa. Jadi, entah apa maksudnya, uangkah atau apa,” paparnya.
Soal pencalonan pada Pilkada 2018, Sarayar menyarankan serahkanlah sesuai keinginan masyarakat. Fokus saja bekerja sesuai dengan visi misi JWS-Ivansa karena masa kepemimpinan mereka masih satu tahun 12 hari terhitung hari ini,” ujar Sarayar.
(fiser/ely)

