oleh

Menuju Desa Wisata, Kayuuwi Tuntaskan Akses Jalan Masuk Hutan Marga Satwa

Kawangkoan Barat, Fajarmanado.com – Pemerintah dan masyarakat Desa Kayuuwi, Kecamatan Kawangkoan Barat, Minahasa, Sulawesi Utara, kompak mewujudkan Kayuuwi sebagai Desa Wisata Dunia.

Untuk itu, akses jalan masuk kawasan hutan lindung dan hutan marga satwa Pararangen, yang dihiasi 5 air terjun dan aneka satwa langka ini, menjadi prioritas utama pembangunan infrastruktur desa pada tahun 2022 mendatang.

“Pembangunan jalan masuk kawasan wisata itu menjadi prioritas tahun depan,” kata Hukum Tua (Kumtua) Desa Kayuuwi, Willem Raintung menjawab Fajarmanado.com di Kayuuwi, Jumat (2/12/2021).

Soal sumber dana, Kumtua Wellem, sapaan karib pensiunan ASN ini, seperti tahun 2020 lalu, sebagian disisihkan dari pos dana desa.

“Tidak banyak yang bisa diambil dari dana desa di tengah pandemi Covid Nineteen. Kami sangat berharap bantuan dana dari Kementerian Pariwisata,” ujarnya.

Penuntasan pembangunan sekira 650 meter menuju ngarai di kawasan Hutan Pararangen itu, lanjutnya, membutuhkan dana miliaran rupiah.

“Kami sudah mengajukan proposal seperti permintaan dari pihak Kementerian Pariwisata. Semoga saja disetujui,” katanya berharap.

Kumtua Willem Raintung bersama sebagian warga Desa Kayuuwi di sela kerja bakti dengan latar belakang salahsatu air terjun di kawasan Hutan Lindung dan Hutan Margasatwa Pararangen, beberapa waktu lalu.

Seperti diberitakan, akses jalan masuk dari Desa Kayuuwi menuju di dasar lebah hutan Pararangen, yang dilintasi daerah aliran sungai (DAS) Nimang, sungai terbesar ke dua di Kabupaten Minahasa setelah DAS Tondano ini, tuntas dibuka pada tahun 2020 lalu.

Baca Juga :  Komite II DPD RI dan Kemenhub Terus Bersinergi, Senator stefa Liow Kembali Buka Program Padat Karya

Satu unit eskavator sejak 16 Maret 2020 mulai melakukan pembukaan jalan, mengcutting tebing ngarai ke arah Air Terjun Nimanga yang di sekitarnya ada pula sumber mata air panas itu.

“Ada sekitar 650 meter panjang jalan yang telah dibuka dan dilebarkan menuju ke Air Terjun Nimanga,” ungkapnya.

Didampingi operator escavator, Willem Raintung mengatakan, pekerjaan cutting jalan diproyeksikan berlangsung sekitar satu bulan.

“Soalnya, jalan yang dibuat menyusuri sisi tebing. Tinggi tanah yang dicutting ada yang mencapai 20 meter,” sambung Faisal, operator alat berat itu.

Kumtua Wellem mengakui bahwa pengelolaan objek wisata hutan lindung dan marga satwa Pararangen sudah lama diprogramkan bersama pemerintah dan masyarakat Desa Kayuuwi.

Beberapa tahun terakhir, upaya pembangunan jalan reprentatif menuju ke sana terus dilakukan, baik kerja bakti maupun dengan alokasi dana desa.

Tahun 2019 lalu, sekitar 350 meter dari pemukiman berhasil dilebarkan dan dibetonisasi. Sekitar 650 meter lainnya, dibuka dan dicutting menggunakan eskavator.

Baca Juga :  Serap Aspirasi, VaSung Bagikan Beasiswa PIP di SMK Negeri Airmadidi

Hutan Pararangen yang berada di wilayah Kecamatan Kawangkoan Utara dan Kawangkoan Barat itu, dihiasi dengan tak kurang lima air terjun.

Kian menakjubkan lagi, hutan lindung sekaligus hutan margasatwa tersebut dihuni oleh aneka hewan langka, tak terkecuali tarsius spectrum.

Suhu airnya pun, beraneka. Selain lazimnya, dingin, juga ada air panas dan air suam-suam kuku.

“Dengan potensi alam dan margasatwa ini, saya yakin Desa Kayuuwi nantinya akan menjadi Desa Wisata Dunia. Karena akan kami tata rapi dan apik lengkap dengan kolam renang dan tempat mandi sauna alami,” paparnya optimistis.

Konon, di dasar lembah Hutan Pararangen, di sekitar DAS Nimanga, sempat didiami seorang putri nan cantik, yang dikenal dengan sebutan Laundano, sehingga menarik minat para ‘tonaas’ setempat berkumpul dan melakukan rapat.

Di wilayah Desa Kiawa Satu Barat, Kecamatan Kawangkoan Utara, oleh almarhum Jantje Worotitjan, SE pernah dirintis penataan objek wisata Laundano atau wanita air sehingga sempat digelar pemilihan Putri Laundano pada tahun 1992.

Sayangnya, objek wisata Laundano yang dilengkapi jejak Viadolorosa, patung Bunda Maria dan tempat-tempat khusus berdoa itu tidak dikelola profesional karena tidak ada akses jalan kendaraan bermotor masuk, sehingga kini sudah terbengkalai.

“Target awal kami baru sampai membuat jalan masuk agar mudah dikunjungi orang. Wahana wisata lainnya, nanti kemudian,” ungkapnya.

Penulis: Herly Umbas