oleh

Berniat Buka Pasar Desa, Kumtua Ini Ancam Pecat Pala Bila Ada Warga Tidak Punya Makanan

Remboken, Fajarmanado.com–Pasca 249 dari 487 kepala keluarga menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa dan Bantuan Sosial Tunai (BST) Kemensos, Pemerintah Desa (Pemdes) Parepei, Kecamatan Remboken, Minahasa kini berencana membuka Pasar Desa.

Namun, pasar rakyat ini tidak memanfaakan sarana dan prasarana Pasar Desa Parepei yang dibangun pemerintah sekitar tahun 2004 di sebelah selatan desa.

“Pasar Desa itu tidak bisa digunakan. Kami akan mengambil lokasi di dalam pemukiman. Kemungkinan di jalan desa,” kata Hukum Tua (Kumtua) Parepei, Tenny Harter Kasenda kepada Fajarmanado.com, Senin (25/5/2020).

Menjawab pertanyaan, Harter mengakui bila keabsahan pemilikan tanah tempat berdiri los dan kios pasar desa itu belum jelas. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa belum bisa menunjukkan dokumennya.

“Memang lokasi pasar itu agak terpencil di ujung desa. Makanya, kemungkinan besar akan menggunakan jalan ini, yang untuk sementara ditutup,” ujarnya.

Ruas jalan yang dimaksud Kumtua Harter adalah jalan konstruksi paving block yang memanjang di tengah pemukiman. Bukan jalan pariwisata penghubung Objek Wisata Sumaru Endo Remboken, Pemandian Air Panas Kinali dan Bukit Kasih Kanonang.

Di ujung barat jalan itu, tampak telah dipalang atau ditutup akses masuk ke luarnya. Layaknya, lokasi Pasar Desa Kiawa Dua, Kecamatan Kawangkoan Utara.

“Tapi akan kami bicarakan lagi dalam rapat bersama BPD dan tokoh-tokoh masyarakat,” ujarnya.

Kumtua Harter menilai pembukaan pasar desa sangat tepat untuk program social distancing dan physical distancing agar masyarakat yang berniat membeli bahan sembako tidak lagi jauh-jauh pergi berkerumum di Pasar Remboken atau Pasar Kawangkoan.

“Kalau sudah ada pasar desa, yang memprioritaskan menjual sembako, untuk apa lagi jauh-jauh pergi berbelanja ke Pasar Remboken dan Pasar Kawangkoan,” paparnya ketika ditemui di kediamannya.

Begitu pula dengan pedagang sembako atau petani yang hendak menjual hasil produksi, seperti beras, pisang, umbi-umbian dan hortikultura dengan produksi terbatas.

“Bukan ikut-ikutan. Setidaknya, dengan hadirnya pasar desa maka memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat sekaligus uang BST dan BLT yang diterima masyarakat hanya dibelanjakan dan berputar di desa ini,” tuturnya.

Kumtua Harter menambahkan, semua 295 keluarga di Desa Parepei telah menerima bantuan sosial terdampak ekonomi akibat pandemi coronavirus disease atau Covid 19. Terdiri dari, 163 penerima BLT Dana Desa dan 86 BST Kemensos.

“BLT sudah lebih dulu diserahkan, BST diserahkan langsung pihak Kantor Pos kepada keluarga penerima manfaat, kemarin sore (Minggu, 23/5/2020,” jelasnya.

Selain  249 penerima BST dan BLT, tercatat ada 241 KPM Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). PKH 107 KPM sedangkan BPNT 134 KPM.

jika ditotal, maka penerima bansos pemerintah di Desa Parepei mencapai 491 KPM, melebihi jumlah KK yang sebanyak 487.

“Persoalannya ada banyak penerima PKH, juga menerima BPNT. Masih banyak warga yang tidak menerima BST dan BLT karena tergolong mampu. Ya, termasuk perangkat desa, ASN dan para pensiunan,” jelasnya.

Kumtua Harter mengungkapkan, pagu Dana Desa Parepei tahun 2020, yang sebesar Rp760 juta lebih telah sekitar 40 persen teralokasi untuk BLT Dana Desa. Belum terhitung penambahan tiga bulan, Rp300 ribu per bulan.

“Bagi saya tidak persoalan kalau semua dana desa diberikan kepada masyarakat sepanjang masih sesuai regulasi,” ujarnya.

Di masa pandemi Covid 19 yang sudah berjalan hampir tiga bulan, ekonomi masyarakat semakin terpuruk. Termasuk di Desa Parepei.

“Makanya, saya tidak mau kalau ada warga saya lapar. Saya sudah ingatkan kepada semua kepala jaga (pala) supaya rutin memantau, jangan sampai ada masyarakat yang tidak punya lagi makan. Cepat laporkan,” tuturnya.

“Kalau lalai, sampai ada warga yang tidak ada makanan lagi,  tidak dilaporkan, saya bilang akan saya pecat,” tandas Kumtua Harter.

Penulis: Herly Umbas

News Feed