Soal BUMDes Unggulan, Camat Tumilantow Sebut Milik Desa Sunuian
Kumtua Semuel Kussoy memantau transaksi jual beli dalam BUMDesMart Gagaran Sinuian, Remboken, Kamis (27/6/2019) siang. Foto: Heru.

Soal BUMDes Unggulan, Camat Tumilantow Sebut Milik Desa Sunuian

Remboken, Fajarmanado.com — Pengelolaan BUMDes di semua 11 desa wilayah Kecamatan Remboken, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) diklaim berjalan baik.

Bahkan, meski baru mendapat modal dari dana desa sejak tahun 2015, ada beberapa BUMDes yang kini mulai mendapat profit.

“Ada beberapa desa yang pengelolaannya sangat baik. Tapi yang akan saya ikutkan lomba adalah BUMDes Desa Sinuian,” kata Camat Remboken, Joris Tumolantow kepada Fajarmanado.com di kantornya, Kamis (27/6/2019) siang.

Pengelolaan usaha milik desa, katanya, bukan baru dimulai pemerintah bersama Badan Perwakilan Desa (BPD) ketika mendapat modal dana hibah dari dana desa pada tahun 2015.

“BUMDes Sinuian jadi unggulan saya ikut lomba BUMDes,” tandasnya.

Penampakan aktivitas di depan BUMDes Gagaran Sinuian yang berada di pinggir jalan Remboken-Kakas, Jumat (27/6/2019) siang. Foto: Heru.

Usaha Desa Sinuian ternyata sudah dimulai sejak tahun 2003 pasca mendapat bantuan sarana dan prasaranan air minum dari Pemerintah Provinsi Sulut.

“Ya, kami mulai ada usaha pada tahun 2003. Yaitu, mengelola air minum bantuan pemerintah. Saat itu, kami buatkan Perdes sebagai dasar,” komentar Kepala Desa (Kades) Sinuian, Semuel Kussoy yang ditermui terpisah.

Dengan adanya iuran bulanan sesuai Perdes, pengelola usaha air minum mampu melakukan perawatan mulai dari sumber mataair sampai jaringan pipa dan bak-bak penampungan.

“Malahan, pengelola dua kali mengganti mesin pompa masing-masing 25 juta dan 35 juta,” ungkapnya, yang saat itu didampingi Ketua TP PKK Desa Sinuian, Helda Engka.

Seiring dengan petunjuk pemerintah pusat, maka pengelolaan usaha air minum tersebut dialihkan kepada BUMDes.

“Dua tahun awal menerima dana desa, kami masih menyisihkan sedikit untuk BUMDes. Saat itu hanya untuk membuat tenda dan membeli kursi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

“Nanti mulai tahun 2017, atas arahan Kepala Dinas PMD Sulut, Roy Mewoh kami pun berpikir ke depan. Dana desa yang sebelumnya terfokus membangun infrastruktur mulai lebih diarahkan ke usaha ekonomi produktif yang berorientasi untuk kepentingan masyarakat secara umum,” sambung dia.

Karena itulah, berdasarkan musyawarah bersama pemerintah desa, BPD dan para tokoh masyarakat, maka APBDes 2017 disisihkan Rp.50 juta dan dibangunkan gedung usaha.

“Kebetulan, desa kami punya tanah 8×32 meter di pinggir jalan. 50 juta itu kami gunakan membangun gedung berukuran 6 kali 14 meter, di atas lahan desa itu,” jelasnya.

Mencermati keberadaan gedung itu, Kades Semuel mengakui apabila biaya pembangunannya didukung dengan dana swadaya masyarakat.

“Tahun ini, sesuai APBDes 2019 akan dialokasikan tambahan dana hibah dari dana desa sebesar 300 juta rupiah. Selain untuk merampungkan bangunannya, juga untuk tambahan modal usaha BUMDes,” jelasnya.

Pantauan Fajarmanado.com, siang tadi, bangunan tersebut tampak belum dilengkapi plafon. Bahkan, dinding-dinding dan lantainya belum diplester.

Namun, aneka barang sudah tersedia di dalam bangunan, yang di depannya berdiri pom bensin mini.

Penampakan aneka barang jualan BUMDes Gagaran Sinuian, Kecamatan Remboken, Minahasa. Foto: Heru.

Menariknya, barang dagangan BUMDesMart Gagaran itu tak hanya sebatas sembako, tapi ada juga beragam barang kebutuhan sehari-hari dari masyarakat pesisir Danau Tondano ini.

Terpantau, tersedia pula gas elpiji 3 kilogram, balon lampu, tali rafiah, aneka suku cadang sepeda motor bahkan alat memancing dan pukat.

“Yang kami jual di sini adalah sesuai dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Harganya bersaing, malah lebih murah di banding di pasaran umum,” papar Hukum Tua (Kumtua), sapaan khas Kades di Minahasa ini.

Kumtua Semuel kemudian menyebut gula pasir, misalnya. Harga per kilo di pasar-pasar, seperti Pasar Remboken, Langowan dan Kawangkoan saat ini Rp.13 ribu per kilogram. Namun di BUMDesMart Gagaran cuma Rp.12.500 per kilogram.

“Masyarakat maupun pemilik warung-warung senang dengan kehadiran BUMDesMart Gagaran ini, sehingga mereka meminta untuk membuka cabang di wilayahnya,” ungkapnya.

Atas permintaan warga, kini telah dibuka cabang di Jaga 3 Desa Sinuian. Akan menyusul kemudian di Jaga 1.

“Untuk itulah, melalui proposalnya, BUMDes mengajukan tambahan modal sekaligus biaya perampungan gedungnya tahun ini sebesar 300 juta,” jelasnya.

Apabila ke dua warung cabang BUMDesMart Gagaran beroperasi, maka total tenaga kerja yang digunakan akan bertambah dari sekarang ini tiga orang menjadi minimal lima orang.

Tahun 2019 ini APBDes Desa Sinuian bernilai total Rp.1,1 miliar lebih yang bersumber dari  dana desa, alokasi dana desa serta bagi hasil pajak dan retribusi.

Penulis: Herly Umbas