TOMOHON, Fajarmanado.com –DUA puluh tujuh tahun yang lalu (1990), saya dan Theodorus M Tuerah bertemu dalam suatu perjuangan bersama di Surabaya. Theo, panggilan akrabnya, sedang berkarir sebagai wartawan di media Surya (grupnya Kompas). Sedangkan saya berkarir sebagai wartawan di Jawa Pos. Entah suatu kebetulan, kami mempunyai pos peliputan yang sama. Theo jadi Redaktur IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), sementara pos liputan saya adalah Kesehatan dan Pendidikan. Kami sering bertemu di berbagai rumah sakit yang ada di Surabaya, terutama di RSUP dr Soetomo Surabaya, di Karamenjangan. Begitu pula kalau peliputan pendidikan, kami selalu bersama mengelilingi berbagai universitas dan perguruan tinggi lainnya. Karena sering bertemu, kami menjadi sangat akrab.
Keakraban kami pun bertambah, setelah kami bersama komunitas Kawanua membidani Kerukunan Keluarga Kawanua Surabaya (K3S) dan Kerukunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Kawanua Surabaya (KPPMKS). Dua organisasi ini memberi warna kangen-kangenan sebagai orang Minahasa di perantauan.
Bagi saya, Theo adalah seorang yang kreatif dengan berbagai pikiran dan karyanya. Ia sangat aktif berorganisasi, dan selalu berinisiatif untuk melakukan berbagai kegiatan positif.
Pada suatu waktu, akhirnya saya kembali ke Manado setelah mendapat penugasan dari Jawa Pos untuk ikut membenahi harian Manado Post. Setelah sekian waktu lamanya, saya pun mendengar Theo sudah pulang di Manado.
Meskipun sudah di Manado, kami jarang bertemu. Saya hanya mengetahui lewat pemberitaan dia sudah ikut memperjuangkan Tomohon menjadi kota otonom. Setelah itu, saat Tomohon sudah menjadi kota otonom, saya juga mendapat informasi dia menjadi salah satu Badan Pengawas di PDAM Tomohon.
Setelah lama tidak bertemu, secara tidak sengaja kami bertemu di salah satu tempat di Tomohon. Terus terang, saat bertemu itu saya tidak mengenalnya lagi. Maklum, bukan karena sudah lama tidak bertemu, tapi perawakannya sudah jauh berbeda. Dulunya, ketika saya mengenal dia di Surabaya, tubunya gempal berisi dan agak gendut. Tapi saat pertemuan di Tomohon itu, badannya sangat kurus, dan wajahnya pun sudah berubah. Diapun menyapa saya, “Jeffry kang? So lupa pa kita?
Waktu dia berbicara itu, saya pun berucap,” Hey Theo kang? Maaf Theo, ngana pe wajah deng badan so berubah sekali. Dia pun membalas, “Jeff kita ada saki gula, makanya badan deng muka so jadi kurus.”
Setelah itu, kamipun sering berkomunikasi melalui telepon. Dan belum lama ini, dia mengajak saya untuk bergabung dalam suatu media tabloid yang dipimpinnya. Tapi saya secara halus menolaknya, karena sesuai pengalaman saya, kalau tidak memiliki modal yang cukup, maka media yang tidak kuat, pasti akan tenggelam.
Pada beberapa waktu kemudian, sekitar seminggu yang lalu, saya mendapat informasi dari Om Theo Kussoy (mantan manajer Phillips di Surabaya), teman kami yang sama-sama berkarir di Surabaya, bahwa Theo Tuerah dalam keadaan sakit, dengan menguploadnya di Facebook. Om Theo Kussoy kemudian menelpon saya, sebisanya mengunjungi Theo Tuerah yang lagi sakit. Pada Jumat (28 Juli 2017) saya pun bergegas ke Tomohon mengunjungi dia di rumahnya, di Kelurahan Matani. Saya melihat kondisinya sudah cukup parah, pasca operasi (amputasi). Tapi istrinya Ivone Kaparang, terus memotivasi dia untuk bersemangat dan bangkit dari sakit. Ivone pun meminta saya untuk mendoakan Theo. Saat itu kami berdoa bersama-sama dengan Ibu Frida Rengkung-Malonda dan adiknya Ivone, Terry Kaparang (yang baru pulang dari Surabaya ke Tomohon).
Setelah beberapa hari kemudian, saya mendapat informasi dari Terry yang sudah kembali ke Surabaya, bahwa Theo sudah kembali di rawat di rumah sakit Gunung Maria Tomohon di kamar ICU. Pada Kamis 3 Agustus 2017 saya pun pergi mengunjungi dia di rumah sakit. Saat di ICU saya lihat dia dalam keadaan tidur, dan hanya dijaga anaknya perempuan. Sementara Ivone, istrinya, lagi pulang ke rumah mereka. Saya enggan membangunkan dia, dan akhirnya saya pulang ke Noongan.
Dan pada akhirnya, pada Jumat 4 Agustus 2017 pagi, saya menerima infromasi dari Terry, bahwa Theo sudah meninggal pada pukul 05.00 (pagi). Pada sorenya, setelah mengikuti beberapa kegiatan gereja, saya pun pergi mengunjungi rumah duka. Istrinya Ivone, terus mendampingi jenazah Theo. Meski sudah terbujur kaku, saya hanya berbisik, “Theo, selamat jalan. Ngana so senang.”
Dari sahabatmu, Jeffry Th. Pay

