Warga Tompaso, Ronny Sumilat juga mengungkapkan penilaian senada. Menurut pria asal Desa Tonsewer ini, Tompaso raya nyaris pula tidak ada pembangunan infrastruktur publik dari APBD Minahasa beberapa tahun terakhir.
“Yang menyolok justru pembangunan di desa-desa, tapi sumber dananya sebagian besar dari Dana Desa dan ADD. Kalau dari APBD hampir tidak ada. Yang ada baru sampai sebatas program-program yang disampaikan Pemkab,” tandasnya.
Hal yang sama, juga diungkapkan warga Langowan. Donny Rumagit menyatakan, belum ada pembangunan infrastruktur publik yang menonjol calon DOB Kota Langowan. “Ya, kecuali pembangunan Taman Cita Waya di kompleks pusat kota,” ungkapnya.
Oleh karena itulah, mereka senada mengharapkan warga Dapil IV harus bersikap selektif, arif dan bijaksana dalam menentukan pilihan pada Pilkada Minahasa 2018.
“Jangan lagi kita dibodohi dengan janji kandidat Bupati nanti memperjuangkan DOB. Buktinya, usai Pilkada 2012 nyaris tidak ada upaya Pemkab menggolkan DOB Langowan dan Minteng,” kata Rumagit.
“Setahu saya, setelah JWS-Ivansa dilantik, hanya satu kali perjuangan yang dilakukan Pemkab Minahasa dalam rangka DOB. Yaitu, ketika Pak Ivansa memperjuangkan Kota Langowan dan Minteng masuk dalam Prolegnas pada 2016 lalu, dan melengkapi berkas Minteng pada akhir 2013 lalu,” kata Demke Laoh, didampingi John Sinengkeian, petani cengkih yang juga warga Sonder ini.
Menurut mereka, menghadapi Pilkada 2018, pemilih Dapil IV jangan lagi termakan dengan komitmen para pasangan calon soal perjuangan pemekaran daerah. “Sudah cukup kita dibodohi selama ini. Mana hasilnya sekarang ini,” ujar Banteng, yang juga Panitia DOB Minteng ini.
“Torang di Dapil IV ini harus buka mata, di banding di kecamatan lain, 10 kecamatan di Dapil IV ini terkesan dianaktirikan. Di kecamatan lain ada satu lokasi yang sampai dua kali dapat anggaran dalam satu tahun, sementara di wilayah ini hampir tidak pernah ada alokasi dana APBD dalam satu tahun,” tandas Moneng, sapaan familiar Johny Rumondor ini.
(jefry/ely)

