Minim Pembangunan, Dapil IV Harus Selektif Pada Pilkada 2018
Demke Laoh, SH

Minim Pembangunan, Dapil IV Harus Selektif Pada Pilkada 2018

Sonder, Fajarmanado.com – Warga calon daerah otonom baru (DOB) Kota Langowan dan Kabupaten Minahasa Tengah (Minteng) harus selektif memilih pasangan calon (Paslon) pada Pilkada 2018.

“Wilayah DOB Kota Langowan dan Minteng yang masuk Dapil IV ini punya posisi tawar yang kuat, punya pemilih terbesar dari 4 Dapil di Minahasa. Jadi harus bersatu bersikap selektif, jangan lagi hanya tergiur dengan janji-janji palsu, apalagi menggunakan isu perjuangan pemekaran,” kata Demke Laoh, SH kepada Fajarmanado.com, Senin (3/04) tadi.

Laoh, yang juga Sekretaris Forum Generasi Muda Minahasa Tengah (FGMMT) ini menilai empat tahun kepemimpinan Bupati Drs Janjte Wowiling Sajow, MSi (JWS) tidak menaruh banyak perhatian terhadap pembangunan di 10 kecamatan yang berada di daerah pemilihan (Dapil) IV ini.

“Memang saya tidak memungkiri kalau ada pembangunan yang dibayai dengan APBD di wilayah ini, tapi nilainya terlalu sedikit dibanding Dapil lain. Kalau dihitung dari populasi penduduk dan luas wilayah terlalu sedikit alokasi APBD yang masuk di wilayah ini,” ujarnya didampingi Johny Rumondor, mantan Kumtua Kolongan Atas Satu, Sonder ini.

Meski demikian, alumni Fakultas Hukum Unsrat ini tidak menampik jika perkembangan pembangunan di desa-desa telah maju pesat dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. “Itu benar, tapi sebagian besar anggarannya bersumber dari Dana Desa dan ADD, bukan APBD kabupaten,” tandasnya.

Drs Eddy F Ruata, Teddy Mapasa dan Pekan Surya Masengi juga mengungkapkan penilaian yang sama. Ke tiga warga bendar Kawangkoan ini senada menegaskan, perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa terhadap pembangunan infrastruktur di ibu kota calon DOB Minteng ini relatif kecil semasa dipegang Bupati JWS, apalagi dalam dua tahun terakhir.

“Kalau pun ada proyek ratusan juta dan miliaran yang masuk, itu berasal dari APBN, baik melalui kementerian maupun lembaga. Seperti Pasar Kawangkoan dan proyek air baku di Sendangan Selatan serta air bersih di Kanonang. Pasar dari Kementerian Perdagangan, air baku dari Balai Sungai,” ujar Ruata.

Proyek APBD terbesar di Kawangkoan dalam beberapa tahun terakhir, kata Masengi, baru pembangunan kantor, lengkap dengan jalur kendaraan trayek dan gapura di Terminal Kawangkoan. Nilainya ada berkisar 6 ratus juta lebih,” ungkap Banteng, sapaan akrab pria yang dikenal vokal ini.

Yang memiriskan, kata Mapasa, alokasi APBD 2015. “Tapi Kawangkoan patut berbangga, daripada tidak ada samasekali, 45 juta (rupiah) cukup untuk Kawangkoan dibangunkan toilet umum di Terminal Kawangkoan,” tuturnya, sambil mengumbar senyum.