Amurang, Fajarmanado – Kwalitas pekerjaan proyek jalan Desa Timbukar dan Desa Maruasey kini mulai dipertanyakan. Ruas alternatif penghubung Kabupaten Minahasa dan Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) yang baru dihotmix ini, mulai terbawa longsor.
Selain tidak didukung dengan tanggul, ketebalan aspal betonnya diduga tidak sesuai. Kini jalan berkelok-kelok di antara tebing dan jurang ini mulai dihiasi longsoran.
“Kalau ini dibiarkan terus, tak lama sudah ada bagian jalan yang akan putus,” kata Andre H, sopir asal Tumpaan kepada Fajarmanado, Rabu (9/11).
Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Sulawesi Utara (Sulut) dalam beberapa pekan terakhir mulai menyebabkan longsor. Jalan penghubung Sonder dan Tomohon sempat putus total selang sekitar delapan jam.
Dua titik longsoran terjadi di antara Desa Kolongan Atas dan Desa Leilem Tiga, sekitar 400 meter utara SPBU Sonder. Satu rumpun bambu ambrol mengubur badah jalan dan satu longsor kecil lainnya menutupi sebagian badan jalan.
Ruas jalan nasional yang jadi nadi utama penghubung Tomohon-Sonder tersebut baru bisa normal sekitar pukul 9.30 malam.
“Kami sempat terjebak sekitar dua setengah jam di jalan perkebunan Sonder ketika mencoba menempuh jalan alternatif tadi malam,” ungkap Erly Watung, Jumat (11/11).
Ancaman yang sama, juga rentan terjadi di ruas jalan pintas Sonder-Tumpaan melalui Desa Timbukar dan Desa Maruasey. “Sudah ada dua titik yang mulai tergerus akibat longsor di jalan Timbukar-Maruasei ini,” ungkap Andre.
Hukum Tua Desa Tangkunei, Ventje R. Karundeng menyatakan, kondisi ini menjadi tanda awas bagi para pengguna jalan baik mobil maupun motor yang akan melewati jalan tersebut.
Karundeng mengatakan, kerawanan tersebut telah dilaporkannya secara tertulis kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sulut.
“Saya akan mengecek lagi laporan yang sudah saya kirimkan ke Dinas PU Sulut. Ini memang masih menjadi tanggung jawab propinsi sehingga perlu segera dilakukan perawatan,” ujar Karundeng.
(andries/ely)
