Manado, Fajarmanado.com – Pemerintah menunjuk PT Pertamina (Persero) bersama badan usaha milik daerah untuk mengelola sendiri Blok Offshore North West Java (ONWJ).
Saat ini, Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ memiliki hak kelola Blok ONWJ di Laut Jawa sebesar 58,28 persen, PT Energi Mega Persada ONWJ Ltd sebesar 36,72 persen, dan Kufpec Indonesia (ONWJ) BV sebesar 5 persen.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan sebelumnya menegaskan, kontrak pengelolaan Blok ONWJ telah selesai. Selanjutnya Pertamina yang melanjutkan pengelolaannya.
Keputusan untuk mengajak mitra atau tidak, sepenuhnya berada di tangan Pertamina.
“Nanti terserah Pertamina mau ajak partner lagi atau bagaimana. Silahkan saja business to business,” tegas Jonan di sela kunjungan kerja ke Pembangkit Listrik Panas Bumi Lahendong, Minahasa, Sabtu (26/11).
SKK Migas dan Pertamina pada akhir Desember 2015, telah meneken perpanjangan kontrak Blok ONWJ. Dari hasil perpanjangan tersebut, komposisi hak kelola blok pasca berakhirnya kontrak per 19 Januari 2017 disetujui berubah menjadi PHE ONWJ sebesar 73,5 persen, Energi Mega 24 persen, dan Kufpec 2,5 persen.
Selain itu, hak partisipasi sebesar 10 persen diberikan pemerintah kepada PT Migas Hulu Jabar, badan usaha milik daerah Provinsi Jawa Barat.
Namun, pasca berakhirnya kontrak pertengahan Januari tahun depan setelah Kuwait Foriegn Petroleum Exploration Company (Kupfec) mundur dari Blok ONWJ, hingga kini Energi Mega sebagai pemegang hak partisipasi Blok ONWJ lainnya belum menyatakan minat untuk berpartisipasi kembali.
Pengamat Energi dari Refor Miner Institute Komaidi Notonegoro menilai Pertamina sebaiknya mendapat hak pengelolaan ONWJ secara penuh.
“Saya kira fleksibel untuk masalah pengelolaan. Jika keuangan mencukupi, lebih baik dikelola sendiri. Namun, tidak ada salahnya membuka peluang kerja sama dengan pihak lain,” ujar Komaidi, dikutip Senin (28/11).
Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam menjelaskan, Pertamina akan menguasai hak partisipasi Blok ONWJ sesuai penunjukan pemerintah.
Terkait adanya permintaan pemerintah agar BUMD Provinsi Jawa Barat memiliki hak partisipasi 10 persen, Syamsu mengatakan, hingga kini belum ada pembicaraan.
“Yang mau farm in, business to business dengan Pertamina, termasuk BUMD Jabar. Tapi belum ada komunikasi sampai saat ini. BUMD Jabar juga harus setor jika ingin ikut serta,” tegas Syamsu.
Menurut Syamsu, saat ini Blok ONWJ praktis dikelola sendiri oleh Pertamina melalui PHE ONWJ, anak usaha Pertamina Hulu Energi.
Meski ada mitra lain di Blok ONWJ, kata Syamsu, para mitra tersebut tidak banyak memberikan kontribusi terhadap arus kas (cash flow) perusahaan.
Saat ini, PHE ONWJ mencatatkan produksi minyak 37.112 barel minyak per hari (bph) dan gas 172,5 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) di Blok ONWJ.
PHE ONWJ memasok gas ke PT PLN (Persero) melalui Pembangkit Tenaga Listrik Muara Karang dan Tanjung Priok dan Pupuk Kujang di Cikampek, Jawa Barat dan Refinery Unit VI Balongan, Indramayu.
Selain itu, gas PHE-ONWJ juga dialirkan untuk Bahan Bakar Gas (BBG) nasional.
(Fred)

