oleh

Rondonuwu: Menghadapi Pandemi Mapalus Butuh Galakkan

Manado, Fajarmanado.com — Secara umum peradaban dunia kini dibedakan dalam dua kondisi, sebelum dan pasca pandemi Covid 19.

“Terima atau tidak terima, tatanan baru menjalani protokol kesehatan anti Covid 19 adalah kemutlakan. Ini pasti menggeser banyak hal termasuk dalam tatanan kebudayaan,” kata Sandra Rondonuwu, STh, SH, pegiat sosial budaya.

SaRon, sapaan akrab Sandra Rondonuwu melihat bahwa di situasi new normal ini ada perluang untuk kembali memantapkan lagi penghargaan budaya termasuk kearifan lokal yang bergeser selama ini.

Ia menilai, di era new normal, kearifan lokal seperti budaya Mapalus yang seirama dengan semangat gotong-royong harus menjadi etos budaya yang terutama bagi masyarakat.

“Sulawesi Utara sendiri secara umum dapat dikembangkan semangat Mapalus yang selama ini mulai hilang,” ujarnya.

Mantan Aktivis 98 ini mengingatkan, konsepsi mapalus penting digalakan agar manusia bisa survive menghadapi pandemi coronavirus disease ini.

“Jadi, modal sosial kita adalah semangat mapalus,” kata SaRon, yang juga anggota DPRD Sulut ini kepada Fajarmanado.com, Rabu (3/6/2020).

Mapalus yang dimaksudkan SaRon ini, dalam pemahaman universal yang tentu bisa dimaknai secara luas. “Di mana dengan saling bermapalus kita bisa mengatasi berbagai hal termasuk masalah ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan,” jelasnya.

Lebih lanjut SaRon memaparkan, perlu digali lagi etos-etos mapalus yang selama ini mulai hilang dan ditinggalkan karena pengaruh globalisasi yang membuat orang makin individualistik.

“Bila mapalus ini kembali digalakan maka diharapkan kepedulian sosial akan mendorong pada semangat persatuan pada akhirnya bisa membereskan urusan keadilan sosial yang selama ini menjadi keprihatinan,” tandasnya.

Penulis: Prokla Mambo

Editor : Herly Umbas

News Feed