oleh

Melawan Stigma Korban dan Pejuang Covid 19 di Tengah Pandemi

Oleh: Gerry Nelwan, seorang penduduk Indonesia, warga Sulawesi Utara.

TULISAN kecil ini, saya spesifik menyoroti fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat di masa pandemi Corona Virus Disease tahun 2019 atau Covid 19. Mulai dari penyebarannya pada tahun 2019, respon masyarakat sampai dampak yang ikutannya.

Semoga, ulasan kecil ini akan menjadi catatan dan suara dari masyarakat kepada masyarakat lainnya maupun kepada pemegang pemerintahan di negeri ini.

Beberapa bulan terakhir, masyarakat dunia termasuk di negeri tercinta, Indonesia sedang mengalami keadaan buruk. Wabah Covid 19 meluas cepat dan dinyatakan pandemi.

Covid 19 berawal dari Kota Wuhan di Negara China. Siapa yang menyangka, hanya menghitung beberapa bulan, warga 118 negara, termasuk Indonesia sudah ada terpapar virus yang tak kasat mata, hanya dapat dilihat dengan mikroskop ini.

Seakan terhenyak dari mimpi buruk, setiap negara pun bergegas menanggapi untuk menangkal dan memutus mata rantai penyebarannya di tengah-tengah masyarakat dengan metode yang berbeda-beda.

Saat Presiden Republik Indonesia mengumumkan bahwa sudah ada masyarakat  yang terpapar Covid 19 pada awal bulan April lalu, semua kaget. Ruang-ruang isolasi disiapkan. Rasa takut pun mulai bermunculan di tengah-tengah masyarakat.

Saya melihat dari media sosial, berita di televisi dan di tengah-tengah masyarakat Indonesia, ketakutan yang diakibatkan oleh covid 19 ini berlangsung secara bertahap.

Mereka yang berada di lingkungan dengan kepadatan aktivitas masyarakatnya dari latar belakang berbeda-beda dan tidak saling kenal, lebih merasakan ketakutan akan terpapar covid 19, di bandingkan dengan masyarakat yang berada jauh dari keramaian dan kehidupan sosial yang masih erat.

Namun, saat ini ketakutan akan Covid 19 dirasakan oleh sebagian besar masyarakat yang ada di Indonesia.

Ketakutan adalah hal yang wajar sehingga memicu kepedulian melindungi diri agar tidak terpapar akan Covid 19 yang bisa berujung kepada hilangnya nyawa seseorang.

Ketakutan yang diakibatkan oleh pandemi Covid 19 yang begitu cepat membuat masyarakat mulai berpikir untuk melindungi diri, namun juga ada yang berpikir akan keberlangsungan hidup secara pribadi juga keluarga (dalam hal makan dan minum).

Pemerintah juga bergerak dalam menanggapi akan penyebaran Covid 19 di tengah-tengah masyarakat, meski dengan kesiapan yang belum maksimal.

Semakin hari, data yang memperlihatkan, penyebaran Covid 19 begitu cepat dan mulai meluas ke beberapa daerah.

Data tersebut diterima masyarakat dengan respon balik yang berbeda-beda namun tetap dibalut dengan rasa takut terpapar.

Baca Juga :  Aktif Cegah Corona, Brimob Maluku Gencar Sosialisasikan Prokes dan Semprotkan Disinfektan

Masyarakat menjadi over responsif terhadap gejala-gejala yang mengindikasikan seseorang terpapar covid 19, yaitu seperti flu, batuk, sesak nafas, suhu tubuh tinggi dan cairan yang keluar dari tubuh seseorang positif terpapar Covid 19.

Kehidupan sosial kemasyarakatan mulai selektif. Masyarakat mulai ketat menerapkan physical distancing. Menjaga jarak dengan orang-orang tak dikenal. Apalagi tahu berasal atau datang dari luar negeri atau daerah zona merah pandemi Covid 19.

Masyarakat luas semakin waspada bersosialisasi, menghindar apabila bertemu dengan orang-orang yang mengalami gejala seperti terpapar covid 19. Meskipun hanya mengalami flu atau batuk biasa.

Keadaan ini akan berujung pada terjadinya stigma negatif kepada orang dan keluarga dekat yang menjadi korban pandemi covid 19 tersebut.

saya akan membagi stigma negative ini kebeberapa menjadi beberapa poin.

Stigma terkecil di mulai dari masyarakat yang mengalami sakit seperi gejala dan mengindikasi terpapar Covid 19, meskipun mereka bisa jadi hanya sakit biasa.

Ketakutan ini biasanya dimulai lewat gerak tubuh dan tatapan dari oknum kepada mereka yang mengalami sakit serupa dengan gejala pada korban covid 19. Seperti saat menghindar dengan gerakan yang bisa menimbulkan kesan yang tidak baik dan juga menatap seakan-akan mereka adalah korban covid 19.

Stigma yang dilakukan kepada masyarakat yang berstatus Orang Dalam Pantauan (OPD).

Biasanya stigma ini terjadi saat ada orang yang baru datang dari luar lingkungan kehidupan suatu kelompok masyarakat. Lebih khususnya apabila mereka yang berasal dari tempat atau daerah yang terpapar covid 19. Mereka ini, ditakuti karena dianggap membawa virus dari loaksi di mana mereka berasal.

Stigma bagi mereka yang berstatus Pasien Dalam pantauan (PDP). Stigma yang diberikan kepada PDP mulai lebih dari yang dirasakan oleh mereka yang berstatus OPD. Karena PDP sudah dianggap sebagai pasien dari Covid 19.

Menjauhi PDP memang wajar. Namun, itu sudah menjudge mereka sebagai penyebar virus adalah tindakan yang sangat tidak wajar.

Stigma terhadap positif terpapar covid 19. Bukan saja mendapatkan stigma negative di sebagian besar kehidupan masyarakat namun juga berujung kepada tindakan yang merugikan pribadi korban dan keluarga.

Stigma terhadap para pejuang covid 19 atau garda terdepan dalam membantu korban dan memutus mata rantai covid 19 seperti, dokter, perawat, TNI, Polri, relawan dan semua yang terjun langsung dalam penaganan covid 19.

Saya rasa di media maupun di lingkungan sekitar kita pasti sudah mengetahui bagaiaman para pejuang Covid 19 ini ditolak oleh masyarakat dengan dasar pemikiran bahwa mereka membawa virus dari tempat mereka bekerja.

Baca Juga :  Brimob Polda Maluku 'Hujani' Kota Ambon dengan Cairan Disinfektan

Apakah kita sebagai penonton, pembaca berita tersebut ataukah kita sebagai oknum memikirkan hal yang sama maupun tindakan untuk menolak mereka datang di lingkungan kita.

Bagaimana kita menanggapi stigma yang terjadi terhadap mereka yang saya sudah uraikan di atas?

Apakah kita pernah melihat, berpikir atau sejenak mencoba seakan kita ada di posisi mereka.

Entah, apakah yang membaca tulisan ini pernah melihat orang-orang di atas menerima stigma, ataukah malahan sebagai oknum.

Saya akan memaparkan dalam beberapa poin bagaimana dampak dari stigma yang dilakukan oleh para oknum tersebut.

Dampak psikis yang diterima secara pribadi, tentu mereka yang menerima stigma tersebut menimbulkan stres yang terkadang selalu menghantui pikiran. Tidak mengelola emosi hidup dalam tekanan saat melawan Covid 19 yang menuntut kesiapan kondisi baik juga melawan stigma dari para oknum tidaklah mudah.

Dampak bagi keluarga. Dalam berjuang melawan Covid 19, keluarga adalah lingkungan terkecil yang selalu membantu korban, namun bagaiman saat mereka juga terdampak stigma dari para oknum?

Dasar pemikiran para oknum yang memberikan stigma bagi keluarga korban adalah ketakutan karena apabila anggota keluarga mereka terpapar atau berdekatan dengan para korban Covid 19 pastinya keluarga mereka akan terpapar virus tersebut.

Seharunya masyarakat adalah support terbesar bagi para korban dan pejuang Covid 19 dan juga kepada pemerintah.

Pada kesempatan ini,  izinkan saya menguraikan beberapa saran untuk melawan stigma bagi korban maupun pejuang Covid 19 ini.

Sosialisasi, mulai dari upaya memutus mata rantai penyebaran Covid 19 dan perlakuan maupun penanganan para korban dan pejuang melawan virus corona telah gencar dilakukan pemerintah dan stakeholder terkait.

Masyarakat harus mengetahui bahwa mulai dari yang positif, OPD, PDP adalah korban. Siapa pun tak menginginkan hal itu. Para dokter dan tenaga medis yang menangani korban paparan Covid 19, juga harus diapresiasi. Bukan dikucilkan.

Masyarakat, kita semua, harus memahami dengan benar informasi yang tepat seputar pandemi Covid 19 ini sebelum mengambil sikap dan tindakan. Semoga..!

Sebuah kebaikan berawal dari hati yang berusaha untuk memahami apa yang orang lain butuhkan.

Penulis Adalah:

Alumni Institut Agama Kristen Negeri Manado 2019
Sekretaris GMKI Komisariat Solafide 2018-2019
Sekretaris Komisi Mahasiswa GMIM “Fungsional” Kampus Manado 2017-sekarang

News Feed