oleh

Aksi Kecil Lawan Pandemi Covid 19

Oleh: Alter Imanuel Wowor, penduduk Indonesia, warga Sulawesi Utara.

IZINKAN saya sebagai salah satu anak Negeri Pancasila mencoba peduli dengan keadaan yang meresahkan ini lewat kata-kata. Sekalipun nanti mungkin tidak akan dibaca oleh seorang pun, saya tetap akan menuliskannya.

Saya ingin menegaskan beberapa pendapat atau pandangan saya terkait pandemi Corona Virus Disease 2019 yang familiar dipersingkat dengan istilah CoViD-19, merupakan penyakit yang tidak diinginkan oleh satu pun manusia di dunia ini.

Tidak ada satu orang pun yang ingin mengalami atau terjangkit penyakit/virus ini. Sebagian besar mereka yang statusnya positif terpapar Virus Corona atau Covid-19, tidak menyadari bagaimana dan kapan mereka bisa terpapar virus ini. Tidak ada yang mau terpapar atau didera penyakit ini dengan sengaja (secara sadar). Oleh sebab itulah, Penderita Covid 19 ini TIDAK BOLEH DIANGGAP sebagai suatu AIB.

Pandemi Virus Corona bisa dipastikan telah berhasil meresahkan semua manusia di dunia ini. Semua sektor kehidupan manusia merasakan atau mengalami dampaknya. Dampak dari serangan wabah ini membuat dinamika kehidupan manusia yang hidup di dunia ini semakin kompleks.

Oleh sebab itulah, jangan menambah kompleksitas keadaan yang sudah kompleks ini dengan aksi atau tindakan yang tidak diperlukan. Salah satunya, dan mungkin yang terpenting, adalah SALING MENYALAHKAN.

Tidak ada yang benar dan salah dalam keadaan yang pelik ini. Semua manusia di masa krisis ini mengalami atau memasuki keadaan yang asing sama sekali.

Kita semua memasuki keadaan baru yang belum pernah dialami atau dihadapi oleh generasi yang hidup di zaman ini.

Kita semua tanpa diminta oleh siapa pun telah masuk ke dalam keadaan yang disebut dengan “new normal.” Suatu keadaan yang mengondisikan manusia akan melakukan berbagai aktivitas, rutinitas, atau habit yang baru.

New normal tentu saja memerlukan new perspective. Perspektif baru yang kita bangun dalam keadaan yang asing dan baru ini pasti akan menentukan dan mempengaruhi peradaban umat manusia pada konteks atau locus hidupnya masing-masing.

Keadaan yang kompleks saat ini, tidak perlu ditambah kompleksitasnya dengan menyebar berita palsu (hoax) yang menyesatkan dan mengutarakan ujaran kebencian kepada pihak yang lain.

Keadaan ini sungguh TIDAK WAJAR UNTUK DIPOLITISASI. Nilai kemanusiaan harusnya mengatasi nilai-nilai yang lain saat ini.

Bonum commune atau common good (kebaikan bersama), harusnya menjadi orientasi bersama semua manusia saat ini.

Menjadi egois atau individualis pada masa ini sungguh merupakan pilihan dan sikap yang memalukan serta tidak terpuji. Saatnya bergandengan tangan dan mainkan peran sesuai porsi atau domain masing-masing.

Jika kita memiliki berkat atau rezeki yang lebih, marilah donasikan sebagian dari apa yang kita punya untuk dibagikan kepada mereka yang lebih membutuhkan. Namun, jika tidak bisa membantu dalam skala yang besar atau tidak bisa berdonasi, minimal bantulah diri kita masing-masing untuk tidak merugikan atau membahayakan (menjadi batu sandungan bagi) orang lain.

Keadaan yang sukar ini bisa kita lewati dengan selamat jika kita bekerja sama.

Dunia ini dipenuhi oleh banyak orang baik. Apabila kita tidak menemui salah satunya, maka jadikanlah diri kita sebagai orang yang baik itu.

Kejahatan dan keadaan yang memprihatinkan di dalam dunia ini bukan hanya disebabkan oleh karena adanya orang jahat atau sebab yang di luar kendali manusia, melainkan juga karena banyaknya orang baik yang hanya diam dan mendiamkan situasi yang pelik ini.

Untuk itu, jadikanlah diri kita masing-masing untuk mau bergerak bagi mereka yang tidak mau dan tidak mampu untuk bergerak.

Bersuaralah bagi mereka yang tidak mau dan tidak mampu bersuara. Menjadi berkatlah bagi mereka yang tidak mau dan tidak mampu menjadi berkat. Menjadi pahlawanlah bagi mereka yang tidak mau dan tidak mampu untuk menjadi pahlawan.

Baca Juga :  Aktif Cegah Corona, Brimob Maluku Gencar Sosialisasikan Prokes dan Semprotkan Disinfektan

Suatu waktu kebaikan yang kita lakukan bisa saja dilupakan, tapi teruslah berbuat baik. Ini bukan tentang siapa mereka, tetapi tentang siapa saya, siapa anda, dan siapa kita.

Mari menjadi solusi dan jalan keluar, jangan menjadi penyebab masalah dan penambah masalah dalam situasi yang sukar ini.

Ada pepatah bijak mengatakan bahwa; “Small acts, when multiplied by milions of people, can transform the world. Even a small act of kindness can make a big difference in someone’s world. No act of kindness, however small, is ever wasted.

Lakukanlah kebaikan walau hanya sekedar suatu aksi yang kecil. Berdoa dalam keheningan merupakan suatu aksi kecil yang bisa saja kita lakukan saat ini, sebab iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa tidak akan pernah sia-sia.

Izinkan saya menyampaikan sedikit saran untuk menjadi bahan pertimbangan bagi para pemangku kepentingan dan para penentu/pengambil kebijakan publik.

Keseriusan pemerintah sebagai pengelola berbagai instrumen dan sektor kehidupan manusia merupakan faktor terpenting saat ini. Karena hanya di tangan pemerintahlah, haluan hidup masyarakat bisa dengan mudah dikondisikan.

Hanya pemerintahlah yang bisa memainkan berbagai instrumen besar kehidupan manusia (masyarakat) dalam waktu yang sangat singkat, lewat peraturan atau kebijakan yang diambil atau dikeluarkan.

Sekalipun proses perumusan kebijakan/peraturan itu tidak bisa diambil secara tergesa-gesa juga, tetapi ketika peraturan atau kebijakan telah keluar, maka pada detik itulah isi peraturan itu mulai berlaku dan sifatnya mengikat.

Yang hendak saya tegaskan pada poin ini adalah masyarakat ingin melihat secara jelas INDIKATOR KESERIUSAN PEMERINTAH.

Saya meyakini bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini sudah cerdas atau melek untuk mengakses serta mempelajari berbagai informasi yang tersebar di berbagai media, baik yang elektronik maupun yang cetak, termasuk apa sikap dan langkah yang diambil pemerintah dalam menghadapi serta menanggulangi keadaan yang sukar ini.

Contoh konkretnya, kemarin diberitakan di banyak media bahwa alat rapid test yang dibeli pemerintah dalam jumlah jutaan ternyata tidak akurat untuk menilai/menguji status positif/negatif Covid-19 pada diri seseorang.

Jika benar adanya demikian, maka langkah yang diambil pemerintah untuk membeli alat itu menjadi kontra-produktif.

Apabila menghitung secara kasar berdasarkan harga jual yang bisa dilihat pada sejumlah aplikasi e-commerce, maka jumlahnya bisa mencapai ratusan miliar untuk membeli 1 juta alat rapid test yang tidak akurat itu.

Sekalipun bisa dikatakan itu merupakan langkah yang keliru, tapi setidaknya indikator kerja pemerintah pusat bisa diukur untuk menjadi acuan evaluasi bersama.

Kekompakan pemerintah dari tingkat tertinggi sampai terendah menjadi faktor penting saat ini. Saatnya melepaskan atribut politik yang membatasi atau menghalangi kerja sama dan koordinasi yang sehat.

Tak bisa dipungkiri bahwa pemerintah sudah bergerak cepat untuk membangun berbagai fasilitas layanan kesehatan dan menyiapkan berbagai instrumen medis demi menghadapi serangan wabah ini.

Namun demikian, keseriusan pemerintah kemudian dipertanyakan dengan melihat pemberitaan sejumlah media yang menggambarkan bahwa kinerja antara pemerintah pusat dan daerah tidak terkoordinasi dengan baik.

Pemerintah pusat sudah berlari, namun pemerintah daerah seakan hanya berjalan pelan dengan minimnya aksi solusi yang dilaksanakan.

Jika hanya mengandalkan himbauan untuk melaksanakan physical distancing dan mengikuti pola hidup sehat menurut protokol kesehatan yang bisa diakses informasinya pada berbagai website resmi pemerintah, menurut hemat saya itu tidak bisa terlalu diandalkan.

Idealnya, pemerintah perlu bergerak lebih cepat dari cepatnya virus corona itu menyebar. Selain menyemprotkan cairan desinfektan di berbagai lokasi, menyediakan fasilitas tempat cuci tangan, pembagian masker, pembagian sembako, pembatasan keramaian, menutup pusat-pusat pertokoan, dan pembangun fasilitas kesehatan lainnya, pemerintah di masing-masing provinsi atau kabupaten/kota perlu membangun fasilitas gedung karantina bagi pengunjung yang masuk ke daerahnya.

Baca Juga :  Brimob Polda Maluku 'Hujani' Kota Ambon dengan Cairan Disinfektan

Pemerintah bisa bekerja sama dengan pihak pengelola hotel di daerah masing-masing yang dekat dengan airport atau pelabuhan, untuk mengalih-fungsikan hotel-hotel tersebut untuk menjadi tempat “transit” bagi siapapun yang masuk ke daerah tersebut, sebagaimana juga usulan pak Dahlan Iskan yang tersebar di banyak postingan media sosial.

Pengunjung yang telah dievaluasi negatif dari virus atau penyakit itu dalam periode masa perhitungan inkubasi, bisa dipersilahkan pulang ke rumah atau mengunjungi lokasi tujuannya.

Langkah ini perlu dilakukan sebagai konsekuensi dari airport dan pelabuhan yang tetap beroperasi.

Waktu, energi, dan anggaran untuk membangun fasilitas serta menyediakan instrumennya memang lumayan besar, dan ini merupakan pekerjaan besar, tapi opsi ini bisa menghambat laju penyebaran covid-19 ini. Apalagi mengingat Sulawesi Utara sudah tercatat sebagai salah satu lokasi atau daerah yang telah mengalami transmisi lokal.

Keseriusan pemerintah juga bisa dibuktikan dengan membangun laboratorium pemeriksaan spesimen virus corona di masing-masing provinsi.

Memang ada resikonya membangun laboratorium itu, tapi demi aspek efektivitas dan efisiensinya, semua provinsi harusnya sudah memiliki minimal 1 laboratorium di daerahnya masing-masing.

Aksi ini sekaligus juga bisa sedikit menjawab kerisauan masyarakat yang menilai bahwa data jumlah kasus penderita, kematian, dan sembuh yang diumukan juru bicara pemerintah setiap harinya itu telah terlambat 2-3 hari dari jumlah aktual di lapangan (sampel masyarakat yang dites).

Pemerintah harus segera melakukan test atau pemeriksaan status positif/negatif covid-19 kepada seluruh masyarakat, setelah alat tes yang baru (harusnya yang hasilnya akurat) telah tersedia.

Aksi ini pun perlu melibatkan semua lurah dan kepala desa sampai kepala lingkungan untuk mendampingi tim medis yang masuk ke rumah-rumah warga untuk memeriksa semua penghuni rumah.

Hal ini perlu dilakukan karena masyarakat akan lebih beresiko terpapar atau menyebarkan virus yang membahayakan itu apabila datang langsung ke fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas, atau klinik (tempat praktik dokter).

Pemerintah perlu pula memastikan persediaan bahan pokok, suplemen makanan, obat-obatan, alat perlindungan diri, serta kebutuhan masyarakat lainnya tetap di terjaga di pasaran dengan harga yang wajar. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka mengondisikan dan memastikan agar masyarakat bisa turut serta menjaga kesehatan diri masing-masing, baik dari segi fisik maupun mental/psikis.

Setidaknya catatan singkat ini perlu saya tuliskan dan bagikan sebagai bentuk kepedulian bagi semua masyarakat dunia, khususnya dalam konteks Sulawesi Utara.

Selain telah menerapkan physical distancing dan ikut berdonasi, inilah bentuk kreasi lainnya yang bisa saya lakukan demi menjaga kewarasan diri saya menjalani dan melewati keadaan yang sukar ini. Saya hanya merasa enggan untuk merasa selamat sendiri dan merasa tidak berguna dalam keadaan yang pelik ini.

Di tengah kesukaran, pasti selalu ada harapan, pasti selalu ada pertolongan.
Di tengah kesukaran, jagalah dirimu dari keserakahan.
In a world where you can be anything, choose to be kind.
in articulo mortis, caelitus mihi vires..
this too shall pass.

Penulis: Alter Wowor, 8 April 2020.
*Mahasiswa Doktoral (S3) di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta.
*Akademisi/Dosen di Fakultas Teologi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado.
*Plt. Ketua Program Studi Teologi pada Fakultas Teologi di IAKN Manado.
*Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Manado, 2017-2019.
*Wakil Sekretaris Karang Taruna Sulawesi Utara, 2015-2020.
*Ketua Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Manado, 2016-2019.

News Feed