oleh

Hebat! Kelola Objek Wisata 5 Air Terjun, Desa Kayuuwi Buka Akses Jalan Masuk

Kawangkoan Barat, Fajarmanado.com — Hutan lindung dan marga satwa Pararangen yang dihiasi 5 air terjun dan aneka satwa langka di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara dipastikan segera mudah dikunjungi wisatawan.

Akses jalan masuk dari Desa Kayuuwi, Kecamatan Kawangkoan Barat kini tengah dibuka menuju di dasar lebah hutan yang dilintasi daerah aliran sungai (DAS) Nimang, sungai terbesar ke dua di Kabupaten Minahasa setelah DAS Tondano ini.

Satu unit eskavator sejak 16 Maret 2020 mulai melakukan pembukaan jalan, mengcutting tebing ngarai ke arah Air Terjun Nimanga yang di sekitarnya ada pula sumber mata air panas itu.

“Ada sekitar 650 meter panjang jalan yang akan dibuka dan dilebarkan menuju ke Air Terjun Nimanga,” kata Hukum Tua (Kumtua) Desa Kayuuwi, Willem Raintung kepada Fajarmanado.com di Kayuuwi, Jumat (20/3/2020).

Didampingi operator escavator, Willem Raintung mengatakan, pekerjaan cutting jalan diproyeksikan berlangsung sekitar satu bulan.

“Soalnya, jalan yang dibuat menyusuri sisi tebing. Tinggi tanah yang dicutting ada yang mencapai 20 meter,” sambung Faisal, operator alat berat itu.

Kumtua Wellem, sapaan akrabnya, mengakui bahwa pengelolaan objek wisata hutan lindung dan marga satwa Pararangen sudah lama diprogramkan bersama pemerintah dan masyarakat Desa Kayuuwi.

Beberapa tahun terakhir, upaya pembangunan jalan reprentatif menuju ke sana terus dilakukan, baik kerja bakti maupun dengan alokasi dana desa.

“Tahun lalu kami sudah berhasil melebarkan dan melakukan betonisasi jalan. Sudah ada sekitar 350 meter dari pemukiman yang kami bangun. Sekitar 650 meter lainnya memang harus gunakan alat berat ini,” jelasnya.

Pekerjaan pembukaan dan pelebaran jalan ini, lanjutnya, merupakan hasil musyawarah bersama pemerintah, BPD dan tokoh masyarakat desa pada tahun 2019 lalu.

“Sesuai musyawarah tahun lalu, pekerjaan jalan ini kami ambil dari pos anggaran dana desa tahun 2020 ini, sebesar 300 juta (rupiah),” ujarnya.

Hutan Pararangen yang berada di wilayah Kecamatan Kawangkoan Utara dan Kawangkoan Barat itu, dihiasi dengan tak kurang lima air terjun.

Kian menakjubkan lagi, hutan lindung sekaligus hutan margasatwa tersebut dihuni oleh aneka hewan langka, tak tetkecuali tarsius spectrum.

Suhu airnya pun, beraneka. Selain lazimnya, dingin, juga ada air panas dan air suam-suam kuku.

Konon, di dasar lembah Hutan Pararangen, di sekitar DAS Nimanga, sempat didiami seorang putri nan cantik, yang dikenal dengan sebutan Laundano, sehingga menarik minat para ‘tonaas’ setempat berkumpul dan melakukan rapat.

Di wilayah Desa Kiawa Satu Barat, Kecamatan Kawangkoan Utara, oleh almarhum Jantje Worotitjan, SE pernah dirintis penataan objek wisata Laundano atau wanita air sehingga sempat digelar pemilihan Putri Laundano pada tahun 1992.

Sayangnya, objek wisata Laundano yang dilengkapi jejak Viadolorosa, patung Bunda Mari dan tempat-tempat khusus berdoa itu tidak dikelola profesional karena tidak ada akses jalan kendaraan bermotor masuk, sehingga kini sudah terbengkalai.

“Sampai saat ini,  target kami baru sampai membuat jalan masuk agar mudah dikunjungi orang. Wahana wisata lainnya, nanti kemudian,” kata Kumtua Wellem, yang pensiunan ASN ini.

Penulis: Herly Umbas

News Feed