oleh

ODSK Dinilai Tak Berpihak Pada Rakyat Kecil, Ini Pilihan Alternatif di Pilgub 2020

Kawangkoan, Fajarmanado.com — Harga Cengkih dan Kopra terus merosot, dan penilaian ketidakberperpihakan terhadap rakyat kecil lainnya, menyebabkan Olly Dondokambey dan Steven Kandouw (OD-SK) mulai ditinggalkan.

Pernyataan asal bukan petahana, yakni OD-SK pada Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur 2020 semakin santer mengemuka.

Di media sosial, penolakan terhadap pasangan petahana yang telah diproklamirkan olel Ketua Umum PDIP pada Ibadah Natal bersama PDIP di Sulawesi Utara (Sulut) semakin meluas.

Kali ini,  datang dari pedagang Pasar Esa Waya Kawangkoan, Minahasa yang terkena penertiban. “Kalau begini, kami yang selama ini pilih PDI perjuangan akan pilih calon dari partai lain,” tandas Marije Ulla, warga Minahasa Tenggara kepada Fajarmamado.com di Kawangkoan, Rabu (12/3/2020).

Ulla mengatakan, selama ini PDIP dan kadernya terus mengklaim sebagai partai wong cilik.

“Kenyataannya, kami wong cilik ini yang sedang berusaha mencari sesuap nasi, digusur tanpa solusi yang masuk akal,” ujarnya didampingi dua rekannya yang sesama pedagang ikan laut.

Baca Juga :  Cekcok Saat Pesta Miras, Badik Besi Putih Makan Korban, Satu Tersangka Diburu Polisi

Ulla bersama sejumlah pedagang ‘dipaksa’ pindah lokasi berjualan di kawasan pasar. Namun, tempat yang ditunjuk,  selain minim pembeli,  juga dinilai tak layak menjadi tempat berusaha.

Selain Ulla, sejumlah warga di kompleks Pasar Esa Waya Kawangkoan menyatakan kesal dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa,  yang notabene dipimpin kader PDIP.

“Saya pendukung PDIP.  saya punya andil mengantarkan JWS-Ivansa dan ROR-RD menang Pilkada Minahasa dua periode terakhir, termasuk kader-kader PDIP duduk di kursi legislatif. Kalau begini, saya siap berjuang dan memenangkan calon dari partai lain,” tandas Vemtje Mukuan, SmH.

Ketidaktersediaan lahan di Pasar Kawangkoan, Om Ventje mengaku terbeban membantu Pemkab Minahasa. Pedagang yang butuh tempat perjualan,  disediakannya lokasi di depan rumahnya. Tak hanya tempat,  tetapi juga tenda terpal agar terlindungi dari hujan dan panas.

Bahkan, ketika sosialisasi  pedagang dimulai pada Kamis, 5 Maret 2020 dan penertiban dua hari kemudian, atas negosiasi dengan pengelola pasar, dilakukan penataan kembali. Lokasi tempat berjualan diundur sampai di atas drainase.

Baca Juga :  Libur Panjang, Kapolres Henzly Sebut Akan Gelar Operasi Justisi dan Rapid Tes

“Kami pun menyewa orang buat penutup drainase supaya pedagang tidak lagi memanfaatkan jalan sebagai tempat berjualan,” ujarnya.

“Eh,…tiba-tiba tadi,  datang petugas Satpol PP dan membongkar lokasi yang sudah kami buat sebagai tempat berjualan. Saya coba menentang, tapi mau apa lagi,  mereka (petugas) bermohon karena hanya menjalankan perintah atasan,” imbuhnya.

Om Ventje mengaku bahwa para pedagang yang berusaha di depan rumahnya memberikan imbal jasa atas lokasi yang mereka siapkan.

“Saya tidak. Munafik. Mereka memang memberikan imbalan sesuai kesepakatan. Tapi mereka (pedagang)  tetap memenuhi kewajibannya sebagai pedagang kepada pihak pasar,” ujarnya.

“Tapi,  dengan masalah sekarang ini, mereka (pedagang)  tak mau lagi membayar retribusi pasar,” kata Meita Tumiwa, pemilik pekarangan rumah yang digunakan pedagang Pasar Kawangkoan lainnya.

Penulis: Herly Umbas

News Feed