oleh

Olly Klaim Tak Pakai APBD, Sulut United Dinilai Kepentingan Pilgub

Manado, Fajarmanado.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) mulai menunjukkan kepedulian terhadap prestasi sepak bola putra Nyiur Melambai di tingkat nasional.

Diduga membeli ‘prestasi’ Bogor FC, duet Gubernur Olly Dondokambey, SE dan Wakil Gubernur (Wagub) Steven Kandouw (OD-SK) bertekad membawa kembali Sulut dikenal melalui sepak bola, cabang olah raga profesional yang merakyat di kancah nasional, seperti tertoreh di erah tahun 1990-an semasa Gubernur EE Mangindaan (1995-2000).

Kendati demikian, sesuai rilis Humas Pemprov Sulut, OK-SK menjamin tidak akan ada pengucuran dana APBD untuk membiayai klub sepakbola Sulut United dalam mengarungi kompetisi Liga 2 yang bakal bergulir mulai 22 Juni 2019.

“Hal itu sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 22 Tahun 2011 tentang larangan penggunaan dana APBD bagi klub profesional,” demikian yang dilansir dari laman  resmu Humas Pemprov Sulut, Senin (10.6/2019).

Meski begitu, simbiosis mutualisme alias saling menguntungkan ke dua pihak, baik Pemprov Sulut dan manajemen Sulut United akan terwujud.

Di satu sisi, peran pemerintah daerah menyediakan stadion Klabat sebagai home base akan memberikan kemudahan manajemen Sulut United (SU) mempersiapkan diri dan memperoleh pendapatan pada partai kandang, di pihak lain berdampak pada pemasukan klub melalui tiket dan pemasukan PAD Pemprov melalui  pembagian hasil pendapatan dengan klub.

Selain itu, bagi Pemprov Sulut sendiri juga menjadi suatu keuntungan karena mereka bisa melakukan promosi daerah lewat kehadiran SU.

Pemprov Sulut berkeyakinan bahwa pendapatan partai kandang akan semakin terdongkrak karena kompetisi liga 2 dewasa ini selalu ditayangkan langsung oleh televisi swasta di semua pertandingan.

“Ini membuat mereka secara tidak langsung melakukan promosi atas Sulut United sekaligus membuat Provinsi Sulawesi Utara semakin dikenal masyarakat Indonesia dan seluruh klub Liga 2 lainnya yang menjalani partai tandang di Sulut,” tulis Humas Pemprov Sulut.blogspot.

Sememtara itu, sejumlah kalangan mengungkapkan keterkejutan mereka dengan kehadiran klub sepak bola SU ini.

“Kenapa baru sekarang. Kabarnya, posisi di liga dua itu dialihkan, kalau tidak mau dibeli dari Bogor FC. Kenapa tidak dilakukan pembinaan secara kontinyu sejak tahun 2015 lalu, misalnya,” komentar mantan pemain Pesma Manado  di era tahun 1990-an, Jantje Watung.

Eks palang Persma ini pun menyangsikan keseriusan para pihak yang membentuk SU FC kalau sungguh-sungguh membina karir pesepakbolaan di daerah ini.

“Jangan jangan hanya untuk kepentingan politik untuk meraih simpatik menjelag Pilgub Sulut,” katanya.

“Mudah-mudahan tidak, motovasinya bisa sama dengan klub klub sepak bola seperti Persipura, Sriwijaya FC, Persib Bandung, PSM dan klub-klub lain yang terus eksis sampai sekarang ini,” sambung dia.

Ia pun menyarankan agar Pemprov Sulut dapat mencari perusahaan-perusahaan yang bisa menjadi donatur tetap manajemen SU.

“Saya ini orang awam. Tapi setahu saya, setiap perusahaan berkewajiban menyisihkan dana community social respinsibility  untuk wilayah sekitar tempat usaha,” paparnya.

Penulis: Herly Umbas

News Feed