Tondano, Fajarmanado.com – Sudah sebulan lebih Sungai Tondano, tepatnya dari hulu sampai di pintu air Tonsea Lama tertutup enceng gondok. Namun sampai saat ini pemerintah serta instansi terkait yang bertanggungjawab tidak melakukan langkah apa pun dan terkesan hanya dibiarkan DAS Tondano dikepung terus tanaman gulma yang liar ini.
Keberadaan ini, sontak saja mengundang reaksi minor para nelayan, terutama mereka yang menambatkan perahunya di sepanjang alur sungai tersebut. Keberadaan eceng gondok yang tumbuh subur di sepanjang daerah aliran sungan (DAS) tersebut, membuat sebagian nelayan tak bisa melakukan aktivitas akibat perahu mereka ‘terjebak’ di tengah tanaman gulma tersebut.
Saat dijumpai wartawan, para nelayan mengungkapkan kekecewaan mereka atas situasi ini. Bahkan ada yang beranggapan kalau pemerintah tidak perhatian lagi dengan nasib mereka karena hanya rakyat kecil.
Situasi tersebut membuat tokoh pemuda Katolik, Siskus Tolokon angkat suara. Kepada Fajarmanado.com, ia mengatakan, pembiaran terhadap penyebaran eceng gondok di DAS Tondano ini amat menghambat nelayan beraktivitas menuju danau. Tidak mungkin para nelayan yang membersihkan Sungai Tondano dari kepungan enceng gondok.
Oleh karena itulah, ia mengharapkan pemerintah kabupaten serta instansi terkait harus turun tangan secepatnya membersihkan Sungai Tondano dari eceng gondok agar memudahkan nelayan mengais rejeki di danau.
“Dengan kondisi seperti itu, untuk membersihkanya memang harus menggunakan alat berat. Kalau memang itu adalah tanggungjawab Pemerintah Provinsi Sulut, bukan dalam arti Pemerintah Kabupaten Minahasa hanya berdiam. Menurut saya, Pemprov Sulut dan Pemkab Minahasa harus berkoordinasi untuk masalah tersebut,” ujar lelaki berkacamata tersebut, Kamis, (28/09/2017) tadi.
Lanjutnya, jangan sampai terbentuk stigma negatif oleh masyarakat buat pemerintah. Karena waktu sebulan lebih adalah waktu yang lama. “Coba saja kalau tanah longsor yang menutupi ruas jalan utama kemudian tidak dibersihkan selama sebulan, pasti akan ada demonstrasi besar-besaran. Karena itu, dengan situasi sekarang, yang dibutuhkan adalah tindakan nyata,” jelasnya.
Penulis : Fiser Wakulu

