Tondano, Fajarmanado.com – Sejarah dan budaya harus menjadi identitas daerah.
Hal tersebut diungkapkan Bupati Minahasa Drs Jantje Wowiling Sajow (JWS) saat membuka pelaksanaan Seminar Sejarah dan Budaya Minahasa dalam rangka Visit Pesona Minahasa 2017 yang dihelat di situs sejarah Loji Tondano Senin, (27/3) tadi.
Menurut JWS, momentum tersebut seharusnya dilakukan diawal-awal dirinya dan Wakil Bupati Ivan Sarundajang memimpin Kabupaten Minahasa pada 2014 silam. “Kegiatan seperti ini seharusnya dilaksanakan diawal periode kepemimpinan saya dan wakil bupati Ivan Sarundajang. Supaya dasar kami dalam melangkah khususnya di sektor budaya dan pariwisata semakin mantap,” ujar JWS.
Lanjutnya, momentum tersebut jangan dijadikan sebagai ajang untuk berdebat soal budaya dan sejarah. Melainkan bagaimana membangun komitmen bersama terkait sejarah dan nilai-nilai budaya Minahasa. “Dahulu, tidak ada istilah Manado, Tomohon, Bitung, Tondano, Minut, Minsel, Mitra. Yang ada hanya Suku Minahasa yang terdiri dari Sembilan sub entins. Untuk itu, Sejarah dan Budaya Minahasa harus menjadi identitas kita sebagai Orang Minahasa,” jelas JWS.
Selain itu dikatakanya, pemekaran wilayah pemerintahan menjadi daerah otonomi sendiri, agar tidak menjadi sumber pemecah. Untuk itu, kesepakatan bersama tentang sejarah dan budaya Minahasa harus dipertegas. “Walau Tanah Minahasa telah terbagi dalam beberapa daerah otonomi sendiri, tapi harus dipahami kalau sejarah kita sebagai orang Minahasa tidak akan berubah,” tegasnya.
Yang menjadi pemateri dalam momentum tersebut yakni Dr Fendi Parengkuan yang mebawakan materi Sejarah Minahasa, Dr Paul Richard Renwari yang membawakan materi Budaya Minahasa, dan Prof Dr RAD Siwu yang membawakan materi Penganugerahan Gelar Adat Minahasa.
Hadir juga dalam kegiatan tersebut para pemerhati budaya dari berbagai daerah di tanah Minahasa. Antaranya Bert Supit, Rikson Karundeng, Mantan Bupati Minahasa Utara Sompi Singal, dan para tokoh budaya dan sejarah lainya yang hadir.
(fis)

