oleh

Antara Permesta, Joop Warouw, dan Pdt Kelly Rondo

MEMBAHAS mengenai Permesta, rasanya tidak akan habis-habis. Bukan saja cerita-cerita lisan berbau nostalgia, tetapi juga banyak tulisan-tulisan yang sudah dibukukan mengenai Permesta.

Di saat memperingati HUT ke-60 Permesta yang jatuh pada 2 Maret 2017, ada satu kisah menarik yang pernah menghebokan di balik penemuan kerangka yang diduga kerangka Kol. Joop Warouw.

Sebagaimana diketahui, pada tahun 1992, rakyat Minahasa, dihebokan dengan berita ditemukannya kerangka Joop Warouw, yang di zaman Permesta terbunuh oleh sesama anggota Permesta sendiri, yang didalangi oleh seorang dedengkot Permesta, Jan Timbuleng.

Penemuan kerangka itu sendiri melibatkan almarhum Pdt Kelly Herman Rondo, MTh, yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Sinode GMIM. Keterlibatannya dalam penemuan kerangka ini, menimbulkan reaksi keras dari warga GMIM, khususnya dari kalangan Komisi Pemuda Remaja, yang saat itu dipimpin oleh Jeremia Damongilala. Persoalannya, penemuan kerangka tersebut berbau mistis. Sehingga pada saat itu muncul tuduhan Pdt Kelly Rondo percaya pada “opo-opo” atau tahyul.

Apa yang dituduhkan terhadap Pdt Kelly Rondo, ternyata bukan hanya sebatas tuduhan. Dalam suatu pertemuan yang tidak direncanakan, almarhum Pdt Kelly Rondo menceritakan kronologis kisah penemuan kerangka itu kepada penulis.

Pertemuan dengan penulis, terjadi di Hotel Ritzy Manado, yang sekarang berubah nama menjadi Hotel Arya Duta di Jalan Boulevard Manado. Pertemuan kami terjadi sekitar tahun 2002.

Antara Permesta, Joop Warouw, dan Pdt Kelly Rondo
Jacob Frederick Warouw, tokoh Permesta yang dikenal dengan panggilan Joop Warouw (1917-1960), jasadnya ditemukan di hutan wilayah Kabupaten Mitra pada tahun 1992.

Kelly Rondo mengisahkan, sebagai orang Minahasa, ia sudah banyak mendengar mengenai peristiwa Permesta. Dan dari berbagai kisah Permesta, ia tertarik dengan cerita terbunuhnya Joop Warouw, salah satu pemimpin Permesta. Ia mendapat informasi, Joop Warouw terbunuh di seputar Tombatu, Minahasa Tenggara (Mitra).

Pada suatu saat, ia bertugas melayani di salah satu jemaat di Tombatu. Ia kemudian bertanya-tanya kepada beberapa orang di Tombatu yang setidaknya mengetahui lokasi dimana Joop Warouw terbunuh. Dari beberapa informasi, ia kemudian tertarik untuk mencari kerangka Joop Warouw.

Berdasarkan beberapa informasi yang ia terima itu, Pdt Kelly Rondo kemudian berinisiatif untuk mencari lokasi yang disebutkan. Dengan didampingi seorang pengantar dan seorang pendeta, mereka kemudian menelusuri sebuah hutan di Tombatu, yang pendeta Kelly sendiri akui, ia tidak tahu nama lokasi hutan tersebut.

“Ketika kami memasuki lokasi hutan tersebut, ada burung yang sepertinya membuntuti kami. Burung tersebut berkicau dengan nada kikikik kikikik. Saya merasa berdiri bulu roma saya mendengar bunyi burung tersebut. Saya kemudian secara spontan berbicara, kalu ngana tau Joop Warouw pe kerangka, kase tunjung akang. Burung itu kemudian berbunyi di suatu lokasi, dan kami berbegas menuju ke lokasi dimana burung itu berbunyi,” cerita Pdt Kelly Rondo.

“Dan benar, setelah kami menggali lokasi tersebut, kami kemudian menemukan kerangka tersebut,” ujar mantan Ketua Sinode GMIM (1990-1995) ini.

Ia kemudian menyuruh untuk menggalinya, dan kerangka itu selanjutnya diangkut dengan kendaraannya. Karena akan pulang menuju ke Tomohon, Pdt Kelly kemudian berniat untuk menyemayamkan dulu kerangka tersebut di Bukit Inspirasi Tomohon.

Selanjutnya Klik 2 >>>

News Feed