FGD Kain Kawanua, Steven: Kain Tradisional Menguatkan Persatuan
Wagub Steven Kandouw saat membuka FGD Kain Sulut atau Kawanua yang diikuti para budayawan di salahsatu hotel di Manado, Kamis (16/2), hari ini.

FGD Kain Kawanua, Steven : Kain Tradisional Menguatkan Persatuan

Manado, Fajarmanado.com –Hotel Gran Puri di Jalan Sam Ratulangi, Manado, Kamis (16/2) hari ini, ramai dikunjungi budayawan yang mengikuti kegiatan Focus Grup Discussion Kain Khas Kawanua yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulawesi Utara (sulut).

Acara yang dibuka oleh Wakil Gubernur Drs. Steven OE Kandow ini bertujuan membahas motif desain kain Kawanua yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat.

Sulut, yang dikenal dengan sebutan Kawanua ini memang dikenal sebagai provinsi yang memiliki kekayaan corak kain yang beragam. Setiap daerah memiliki ciri khas berbeda. Seperti kain Bentenan dan Pinawetengan dari Minahasa dan Kinatola dari Bolaang Mongondow.

Setiap kain bak lukisan yang memiliki cerita, ciri khas dan pesan yang ingin disampaikan. Kain-kain ini juga sangat beragam dan mewakili daerah asalnya.

Jika dulu kain tradisional dinilai kuno dan ketinggalan zaman, kini citra kain tradisional akan dibuat sebagai identitas warga Sulawesi Utara.

“Pertemuan ini harus menghasilkan kesepakatan. Kita harus bisa sepakat menentukan motif kain Sulawesi Utara. Ini akan menguatkan jati diri dan persatuan kita,” kata Steven.

Hal itu dikatakan Steven untuk mencegah kesalahan penentuan corak kain yang bisa berujung keberatan dari sebagian masyarakat daerah lainnya di Sulawesi Utara.

Melalui Focus Grup Discussion ini juga, Steven Kandouw ingin mengajak masyarakat Sulawesi Utara untuk mencintai daerahnya melalui kain tradisional.

“Motif kain yang kita sepakati nantinya akan digunakan dalam berbagai kegiatan. Tak hanya sekedar di kantor namun juga di sekolah,” ujar Steven.

Harapannya sederhana, wakil gubernur ingin masyarakat Sulut yang beragam budayanya ini tak lagi kaku melihat corak kain di daerahnya masing-masing. Sebaliknya kebanggaan timbul saat menggunakannya sebagai pakaian.

“Semua masyarakat kabupaten dan kota di Sulut akan bangga menggunakannya. Kain yang motifnya diterima oleh semua masyarakat,” ucap ayah tiga anak ini.

Hal senada disampaikan budayawan Reiner Ointoe. Dia mengatakan identifikasi latar belakang kain di Sulawesi Utara yang beragam menjadi pintu masuk pencapaian motif desain kain yang nantinya digunakan.

“Kita harus mengetahui motif-motif desain kain dahulu dan perkembangannya hingga sekarang,” ujar Reiner.

Budayawan lainnya. Alex Ulaan menyebutkan tentang koleksi kain tradisional yang tersimpan di luar negeri.

“Kain tradisional kita malah disimpan di Leiden. Saya sudah melihatnya langsung di sana,” ucap Alex sambil menyebutkan nama Museum Leiden di Belanda.

Kegiatan Focus Grup Discussion ini juga diharapkan Kepala Dikbud Dr Fredrik Rotinsulu dapat bermanfaat bagi kebudayaan Sulawesi Utara.

“Acara ini diharapkan berjalan lancar dan menghasilkan manfaat bagi kebudayaan kita,” ujar Fredrik.

(ely)