Tondano, Fajarmanado.com – Animo masyarakat melakukan perekaman data KTP Elektronik (KTP-El) di Kabupaten Minahasa semakin besar. Dalam dua pekan terakhir, Kantor Disdukcapil setempat terus dijubeli warga.
Lokasi Kantor Disdukcapil Minahasa kini dipindahkan sementara di ruangan yang memenjang di sisi Timur Wale ‘Ne Tou, sekitar 100 meter Utara Kantor Disdukcapil setempat yang tengah dibangun kembali.
Ruangan yang memanjang sekitar 40 meter dengan lebar 10 meter itu, ternyata tak mampu menampung pengunjung. Masyarakat yang terus berdatangan sejak pagi setiap harinya terpaksa menunggu di selasar gedung serba guna di kompleks Stadion Maesa Tondano tersebut.
Bangku yang disediakan di bagian luar pun, tak mampu menampung warga yang terus membludak. Tak sedikit orang yang terpaksa berdiri bersandar di pagar stanlist still, duduk di meja dan tangga bangunan, bahkan juga ditemui tidur beralaskan koran di beberapa pojok.
“Soalnya di dalam sesak sekali dan pengap. Lebih baik tunggu panggilan di sini saja supaya agak adem,” kata Novan Massie, pemuda warga Kecamatan Lanngowan Selatan.
Sesuai prosedur, setiap pemohon harus mengambil nomor antrian dengan memencet layar komputer yang ditempatkan di sisi kanan pintu masuk ruang pelayanan, sesuai jenis pelayanan yang dibutuhkan.
“Kalau saya tidak ada nomor tapi sudah dilayani, karena kebetulan ketika datang tadi pagi komputernya lagi ngadat,” kata Edwin Simbar, warga Kelurahan Sendangan Selatan, Kecamatan Kawangkoan.
Hal yang sama juga dialami Agnes Laloan, saat tiba sekitar jPukul.10.30 Wita, Selasa (19/9). “Wah, macet lagi,” komentar petugas berseragam Satpol PP, sambil beranjak dan muncul kembali mengfungsikan computer.
Fajarmanado.com sempat melihat kejanggalan di loket 2 siang itu. Seorang ibu mengenakan kaos merah muda mengumpulkan berkas tiga gadis, kemudian menyodorkannya kepada petugas.
Petugas pria berinisial DM itu pun tampak terhenyak. “Apa ini,” tanyanya sambil menatap ibu itu. “Ini berkas punya cewek-cewek ini,” jawabnya tersenyum, sambil menoleh ke belakang, di mana ke tiga gadis itu berdiri. “Oh, silahkan duduk,” kata DM.
Dalam tiga berkas tersebut tidak terlihat lembaran nomor antri. Sedangkan pemohon lainnya, ketika duduk harus menunjukkan nomor antre yang telah dipanggil melalui alat pengeras suara baru kemudian dilayani.
Sementara itu, siang itu, seorang oknum ASN juga sempat juga terlihat sibuk mengisi formulir pendaftaran di meja penerima tamu yang berada di samping kiri depan pintu masuk pelayanan. Pria berkacamata baca yang disebut-sebut sebagai Sekdes Senduk ini memfasilitasi tiga warganya.
“Belum tahu, bapak itu yang urus semua berkas kami. Dia Sekdes kami, Desa Senduk,” kata seorang ibu sambil menunjuk pria berusia sekitar 50-an tahun itu. “Pokoknya, sesuai pembicaraan kami tinggal tanda tangan berkas dan foto,” sambung ibu lainnya namun enggan menyebut apabila memberikan uang jasa kepada oknum sekdes tersebut.
Sementara itu pula, lokasi dan penataan tempat pelayanan, terutama perekaman data dan pemotretan terkesan sangat sempit dan sangat mudah diakses pengunjung. Petugas nyaris tak henti-hentinya menegur pengunjung yang menerobos masuk wilayah yang sebetulnya harus ‘steril’ tersebut.
Kadis Dukcapil Minahasa, Riviva Maringka sempat memonitor dan mengawasi suasana pelayanan di instansinya. Pelayanan pemotretan sempat diarahkannya agar pengunjung yang belum dipanggil tidak diizinkan berada di sekitar situ.
Namun selang sekitar dua jam kemudian, insiden kecil sempat terjadi siang itu. Kamera beserta kaki penyanggahnya sempat jatuh menimpa lantai keramik. Untung saja, setelah didudukkan kembali dan digunakan, kamera tersebut masih tetap berfungsi.
“Cuma (Disdukcapil) masih banyak kamera cadangan,” komentar pria warga Desa Leilem, Kecamatan Sonder.
(ely)

