Sudahkah Minahasa Berubah?
Bupati Drs Jantje Wowiling Sayow, MSi memegang penghargaan Minahasa Kabupaten Berprestasi 2015 dari Presiden Joko Widodo di depan Istana Negara Jakarta, Senin (14/12/2015)

Sudahkah Minahasa Berubah?

Situs budaya Benteng Moraya, yang lama terbenam di sisi selatan kota, ikut digali dan dibangun. Monumen peristiwa heroik mengusir tentara kolonial  Belanda, yang berada di sebelah barat hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano itu, kini hampir rampung disulap menjadi objek wisata budaya dan pusat kuliner khas daerah Malesung ini. 

Kawasan hulu DAS Tondano, juga tak luput dibangun dan dipersolek. Selain untuk mencegah banjir yang terus mengancam pemukiman penduduk, dan menata alur DAS Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tanggari, juga  dilengkapi fasilitas jogging track untuk olah raga dan tempat wisata.

Infrastruktur publik, terutama jalan dan jembatan juga dibangun dan ditata. Fokus utama adalah ruas jalan penghubung kantong-kantong perekonomian dengan jalan akses pasar dan  penghubung antarobjek wisata yang tersebar di daerah Malesung ini.

Ruas Tombariri-Tomohon, yang lama tak disentuh, yang lama tak ‘dipoles’ tak luput diperlebar dan diaspal, sebagimana jalan antarkecamatan dan desa di bagian timur Minahasa. Meski belum mulus semuanya, namun sudah mulai disentuh program pembangunan. Pun jalan Tondano-Remboken-Kawangkoan dan Remboken-Langowan. Dalam dua tahun terakhir, jugu terus giat dilebarkan dan dihotmix..

Ruas-ruas jalan tersebut memang sudah lama dikeluhkan masyarakat karena kondisinya sempit dan berlubang. Padahal, fungsinya menciptakan multyplier effect. Untuk kenyamanan dan keamanan turis yang berkunjung dan menciptakan peluang bisnis sekaligus menggairahkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) warga setempat dan sekitarnya.

Jalan Tondano-Remboken menuju Kawangkoan dan Langowan memang menghubungkan objek wisata beberapa objek wisata potensial di daerah Toar Lumimuut ini. Yakni, Danau Tondano dan Sumaru Endo Remboken, Batu Toar dan Lumimuut di Desa Palamba Langowan, sentra pengrajin  keramik Pulutan, objek wisata budaya Watu Im Pinawetengan di Tompaso Barat, goa-goa peninggalan Jepang, pemandian air panas Kinali dan waruga di Kawangkoan, serta objek wisata relegi Bukit Kasih Kanonang di Kawangkoan Barat, yang telah mendunia ini.

Di kawasan tersebut ada pula industri Kain Pinawetengan di Tompaso,  Patung Yesus  yang tengah dibangun mantan Gubernur DR Sinyo Harry Sarundajang di Bukit Emung, perbatasan Kecamatan Kawangkoan dan Kecamatan Tompaso . Dan, kian menarik lagi, di samping  patung Yesus ini, telah hadir Stadion dengan lintasan sintetis dan  sedang  Sekolah Keberbakatan (Olah raga).

Pembangunan infrastruktur yang paling fenomenal dilakukan pemerintahan JWS-IvanSa, tak lain adalah pelebaran jalan penghubung langsung Kota Tondano dan Kota Manado melalui Kecamatan Tombulu. Ketersediaan dana yang masih sangat terbatas tidak membuat Bupati JWS patah arang.

JWS pun rela mengalihkan Rp.1 miliar lebih dana rumah tangga bupati untuk membangun jembatan di Desa Koka Kecamatan Tombulu agar program pelebaran jalan berliku dan sempit itu benar-benar dapat segera dimulai tahun 2013 lalu.

Melihat keseriusan ini, pemerintah pusat ‘terpaksa’ menambah penggelontoran dana ratusan miliar untuk merampungkan program prestisius tersebut. Alhasil, jalan yang bakal berdampak mengurai kemacetan ruas Manado-Tomohon itu, kini hampir rampung dibangun. Sebagian besar telah berhasil dilebarkan dan dipintaskan dengan aspal hotmix.

Sikap rela berkoban pimpinan daerah untuk ‘memancing turun’ dana dari pemerintah pusat seperti ini nyaris tak pernah terdengar dilakukan pemerintahan Minahasa sebelumnya. Padahal, membangun Minahasa, yang cukup luas ini,  hanya bisa cepat terwujud apabila pimpinannya memiliki sikap rela berkoban demi kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya.

Baca dari awal: Sudakah Minahasa Berubah?

(herlyumbas)