Todung Mulya Lubis: Kita Kehilangan Seorang Patriot

Todung Mulya Lubis: Kita Kehilangan Seorang Patriot

Jakarta, Fajarmanado.com – Meniti karir mulai dari aparatur sipil negara (ASN), Dr. Drs. Sinyo Harry Sarundajang, akhirnya dikenal sebagai politikus ulung yang negarawan.

Tak heran, di usia 73 tahun, putra Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) ini masih dipercayakan mengemban tugas negara sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBPP).

SHS, sapaan karib suami Dietje Laoh Tambuwun ini dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Duta Besar LBBP untuk Filipina merangkap Kepulauan Marshal dan Republik Palau pada Kamis, 18 Mei 2018 lalu.

SHS dilantik Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta bersama 16 Duta Besar Negara Sahabat lainnya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 30p Tahun 2018 dan 31p Tahun 2018 tentang Pengangkatan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh oleh Deputi Bidang Administrasi dan Aparatur Kementerian Sekretariat Negara.

Di mata Todung Mulya Lubis, Duta Besar Norwegia merangkap Islandia ini, SHS adalah sosok yang kritis dan penuh kritik yang solutif.

“Kita telah kehilangan seorang patriot yang seluruh hidupnya diabdikan buat negara, seorang yang setia dan mencintai negerinya,” ungkap Todung Mulya Lubis dalam grub Whats Up Duta Besar Indonesia, Sabtu (13/2/2021), pagi tadi.

Pria yang juga dikenal pengacara kondang ini, dalam akun facebooknya, Todung Mulya Lubis juga mengaku sangat dekat dengan SHS.

Ketika diangkat bersama-sama sebagai Duta Besar, Todung mengungkapkan sering duduk berdampingan dengan SHS dalam orientasi dan acara informal.

“Dia sangat terbuka dan selalu mendorong saya untuk terus bicara kritis apa adanya,” ungkapnya.

Sekitar 3 minggu lalu, katanya, dirinya bertanya kepada Yudi Fitriandi, diplomat bidang politik di KBRI Oslo, mengenai keberadaan SHS.

“Ada apa dengan Sarundayang?” tanyanya. “Duta besar kita itu tak pernah menandatangani brafax (berita rahasia dan berita biasa) dari KBRI Manila. Yang selalu tanda tangan adalah KUAI KBRI Manila,” sambung dia.

Todung mengungkapkan tak berkomunikasi lagi dengan SHS kecuali saat bertemu di Jakarta ketika ada rapat bersama duta besar lain.

SHS diketahuinya, punya WA. Tapi tak telaten memakai WA. Cucunya selalu membantunya. SHS juga tak aktif dalam grup WA duta besar.

“Tapi saya ada feeling bahwa dia sedang tidak sehat,” ungkapnya.

Todung mengaku tahu persis SHS adalah orang yang sangat disiplin, kerja keras dan menimakti pekerjaannya. Tapi dia juga seorang yang kritis walau dia tak menyuarakan kritiknya ke media.

“Saya mengenalnya sudah cukup lama kala dia menjadi dirjen di kementerian dalam negeri, lalu menjadi gubernur Sulawesi Utara. Saya sering bertemu dan berbincang meski dia selalu menahan diri sebagai pegawai negeri yang tak mau kritiknya muncul ke publik,” tulisnya.

“Saya menghormati sikapnya tapi saya tahu bahwa dia punya banyak kritik dan memilih melakukannya dari dalam pemerintahan,” lanjut dia.

Ketika kami sama- sama diangkat jadi duta besar, SHS sebagai calon duta besar paling senior diangkat menjadi ketua angkatan.

“Saya sering duduk bersebelahan dalam orientasi dan acara informal. Dia sangat terbuka dan selalu mendorong saya untuk terus bicara kritis apa adanya. Dia tahu sifat saya yang memang selalu terbuka dan sering tanpa rem. Dalam banyak sesi saya selalu bicara kritis dan dia tersenyum saja,” ungkap Todung.

Terakhir, lanjutnya, ketika rapat para duta besar sekitar Januari 2020, dirinya makan siang berdua di Restaurant Shima, Aryaduta Hotel Jakarta.

“Dia masih terlihat sehat. Dia masih bicara tentang rencananya untuk memberikan waktunya untuk tanah kelahirannya di Sulawesi Utara pada waktu dia menyelesaikan tugasnya sebagai duta besar,” papar Todung.

Namun demikian, SHS, menurutnya, minta dirinya untuk memberikan lebih banyak waktu buat negara, membantu Jokowi karena SHS percaya bahwa Jokowi adalah orang yang harus dibantu karena Indonesia musti diurus oleh semua orang yang punya visi dan integritas.

Dalam grup WA duta besar, kepergian SHS belum muncul. Todung lalu saya cek di berbagai sumber sehingga meyakini SHS telah meninggal.

“Barulah saya memberitahu pada duta besar tentang kepergiannya. Kita telah kehilangan seorang patriot yang seluruh hidupnya diabdikan buat negara, seorang yang setia dan mencintai negerinya,” tulis Todung.

“Doa saya semoga duta besar Sarundayang mendapat tempat yang indah dan damai di surga. Semoga keluarga yang ditinggalkan kuat dan tabah. Selamat Jalan Bung,” demikian akhir postingan FB Todung Mulya Lubis.

Selama menjabat sebagai dubes, SHS berjasa menyelamatkan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

Penulis: Herly Umbas