Likbar,Fajarmanado.com – Hukum tua desa Teremaal kecamatan Likupang Barat, Lea Mangaehe mengajak masyarakat untuk menjaga kerukunan dan keakraban yang selama ini telah terjalin dengan baik. Hal ini disampaikan Mangaehe saat membawakan sambutan dalam perayaan pesta adat Tulude di lapangan desa Teremaal, Selasa (5/1).
Mangaehe mengatakan, pelaksanaan pesta adat tulude ini bukan sekedar ritual tahunan semata. Selain sebagaih ungkapan syukur kepada tuhan sang pecipta yang telah memberikan berkatnya ditahun 2018, perayaan ini juga merupakan sarana untuk mempererat tali silaturhami dan sikap gotong – royong.

“ Dalam pelaksanaan pesta adat tulude ini, kelompok masyarakat penyelenggara secara gotong-royong menyediakan jamuan makanan, dimana setiap orang yang datang dapat ikut menikmatinya dalam suasana akrab dan gembira. Inilah salah satu makna penting yang terkandung dalam perayaan tulude yang diwariskan oleh leluhur dari Nusa Utara yang hingga saat ini masih tetap lestari.”Kata Mangaehe.
Mangaehe menambahkan, pesta adat Tulude atau Mandullu’u Tonna merupakan merupakan media komunikasi tradisional yang berisikan ungkapan syukur kepada Tuhan sebagai wujud pemeliharaan dan penyertaanNya dalam kehidupan mereka,yang didalamnya mengandung nilai etika, moral, patriotik serta bernilai religius.

Senada dikatakan Camat Likupang Barat, Alvons Tintingon, AP MSi. Ia mengingatkan kepada seluruh masyarakat desa Teremaal untuk menjaga soliditas dan kekompakan dalam menghadapi tahun politik 2019 ini. Perbedaan warna dan pilihan politik jangan sampai merusak hubungan keluarga dan masyarakat ,sebab dalam berdemokrasi perbedaan itu adalah hal yang lumrah karena setiap warga negara dijamin hak konstitusinya untuk memilih sesuai dengan hati nuranis masing-masing.
“Tahun ini kita akan menghadapi pesta demokrasi, pemilihan Presiden dan legislatif. Jangan sampai di desa Teremaal, tahun 2019 ini ada yang ganti keluarga atau ganti birman hanya karena berbeda warna dan pilihan politik. Di Pemilu nanti setiap warga bebas memilih sesuai dengan hati nuraninya, dan jangan dijadikan perbedaan itu sebagai akar pemusuhan atau perselihan.”himbaunya.

Sementara sesepuh adat warga nusa utara, Herman Papia menjelaskan salah satu bagian penting dalam upacara adat tulude adalah pemotongan Kue Tamo. Pemotongan dan pembagian kue tamo ini menurutnya memiliki makna mendalam yang diantaranya sebagai bentuk penghargaan dan kebersamaan masyarakat.
“Tulude ini sebagai bentuk pernyataan syukur atas perlindungan Tuhan semesta alam ‘I Ghenggona Langi’ pada tahun yang sudah berlalu, serta permohonan berkat dan kesuksesan untuk tahun baru yang sedang dijalani, serta permintaan agar dijauhkan dari penyakit, bencana dan perselisihan dalam masyarakat.”jelas Papia.
Hadir pada perayaan tulude tersebut, Anggota DPRD Minahasa Utara, Abraham Eha, Arlens Pungus, tokoh adat nusa utara serta ratusan masyarakat desa Teremaal.
Penulis : Joel

