Target Swasembada Beras Minsel Terancam Batal, Karena Bendungan Sulu-Paslaten Terbengkalai
KEPALA Dinas Pertanian Minsel, Frans D Tilaar, SP, MSi

Target Swasembada Beras Minsel Terancam Batal, Karena Bendungan Sulu-Paslaten Terbengkalai

Tatapaan, Fajarmanado.com – Upaya keras Bupati Christiany Eugenia Paruntu, SE soal swasembada beras tahun 2017 terancam batal. Pasalnya, produksi beras dari hasil pencetakan sawah baru di Kecamatan Tatapaan belum berjalan dengan baik. Hal diatas lantaran, bendungan Sulu-Paslaten yang dikerjakan tahun 2016 lalu dengan anggaran Rp 22,3 miliar belum berjalan.

‘’Ya, sawah baru seluas 600 hektar di wilayah Tatapaan hingga saat ini belum tergarap dengan baik. itu karena, bendungan Sulu-Paslaten belum berjalan dengan baik. Bahkan, kondisi air dari bendungan tersebut justru tidak bisa mengalir dan masuk ke sawah-sawah tersebut,’’ujar Yulius Pesik, warga Sulu belum lama.

Menurutnya, kenapa bendungan Sulu-Paslaten belum bisa berfungsi dengan baik. padahal, debit air DAS Nimanga sangat besar. Tapi ternyata, air tak bisa mengalir ke sawah. Dengan demikian, apapun alasan bupati untuk menindaklanjuti rencana swasembada beras dari pencetakan sawah baru di wilayah Tatapaan bakal tak terealisasi.

‘’Oleh sebab itu, Pesik minta instansi terkait yaitu Dinas PUPR Minsel lebih khusus Bidang SDA untuk cari solusi. Jangan hanya ngomong tanpa dasar, ingat kalau gagal bilang gagal. Kalau ada masalah bilang akan cari solusi. Tapi ternyata, Kepala Bidang SDA Franky Lukar justru membuat masalah dengan statmen bahwa bendungan Sulu-Paslaten tidak ada masalah. Kecuali, tertutup dengan sampah, mengakibatkan air tak bisa masuk ke saluran sawah,’’tanyanya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa Selatan Frans Tilaar, SP MSi mengakui kalau sekitar 600 hektar sawah baru di Tatapaan belum bisa ditanam padi. ‘’Itu karena, aliran air ke sawah dari bendungan Sulu-Paslaten belum bisa berjalan dengan baik. Akibatnya, apapun yang diharapkan bupati bakal tersendak. Tapi, pihaknya tetap mencari solusi agar keinginan bupati tercapai,’’jelas Tilaar.

Dikatakan Tilaar, perhitungan potensi yang masih belum tergarap di Tatapaan sebesar 3.000 ton beras per panen. Asumsinya, setiap hektar menghasilkan 5 ton dengan harga beras saat ini. tapi, kerugian mencapai Rp 24 miliar lebih akibat hal diatas.

‘’Sedangkan dalam setahun, bisa capai 2,5 kali panen atau 5 kali panen dalam 2 tahun. Sehingga, potensi kerugian cukup besar. Apalagi, sawah di Tatapaan sebelum bendungan Sulu-Paslaten rusak dan kini sudah diperbaiki dengan anggaran 22 miliaran rupiah. Harusnya, produksi setelah bendungan diperbaiki mencapai 7 ton perhektar lebih. Namun ternyata, bendungan pun belum juga selesai. Apa yang akan dilakukan nanti,’’tegasnya.

Bahwa, ungkap Tilaar petani sawah di Tatapaan sudah siap menanam padi. Hanya saja, kendala diatas adalah pasukan air tidak bisa masuk ke sawah. Kecuali itu, sisa air hujan yang tertampung di sawah-sawah tersebut.

‘’Dengan demikian, bendungan dan irigasi yang belum berfungsi dengan baik. Maka, pihaknya akan mencari solusi dan juga melakan pertemuan dengan Dinas PUPR dalam rangka mencari solusi dengan baik soal kendala diatas. Serahkan saja kepada kami, bahwa pastinya bendungan Sulu-Paslaten akan berfungsi segera,’’pungkas Tilaar.

Dari amatan Fajarmanado.com di wilayah Sulu dan Paslaten para petani mengaku kecewa dengan sikap tidak professional oleh sejumlah oknum di Dinas PUPR Minsel. Jadi, kata petani bupati Tetty Paruntu harus bersikap adil melihat petani. Bagaimana target akan naik, sementara proyek bendungan tidak beres.

(andries)