Manado, Fajarmanado.com – Menyikapi peristiwa pemboman jemat gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Samarinda pada Minggu (13/11) yang menimbulkan korban jiwa seorang balita Intan Olivia Marbun (2,5 tahun), pemuda lintas agama di Sulawesi Utara mengadakan aksi damai bertema NASIONAL.IS.ME (Aku Nasional). Sekitar 200 an pemuda lintas agama, yang terdiri dari Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu serta Khonghucu, menggelar aksi pemasangan 1000 lilin di monumen Perang Dunia ke-II di kawasan Gereja Sentrum Manado, Jumat (18/11) malam.
Gelar aksi keprihatinan diawali sambutan Ketua Komisi Pelayanan Pemuda Sinode GMIM, Penatua Toar Pangkey. Dalam sambutannya dihadapan ratusan pemuda, Pangkey mengatakan kehadirannya bukan hanya sebagai orang Kristen, namun hadirnya sebagai orang Indonesia yang prihatin dan terpukul atas peristiwa Samarinda.
“Saya datang kesini bukan sebagai orang Kristen, namun saya sebagai orang Indonesia. Saya menyatakan turut berbelasungkawa atas peristiwa yang terjadi pada jemaat HKBP Samarinda,”terang Pangkey dihadapan ratusan pemuda Sulawesi Utara.
Pangkey menambahkan, kegiatan penyalaan 1000 lilin di Kota Manado tidak lepas dari rasa keprihatinan dan kesedihan pemuda di Sulut atas jatuhnya korban jiwa Intan Olivia Marbun.
“Adik Intan Olivia Marbun menjadi korban dari perbuatan orang yang tidak bertanggungjwab. Kami membuat kegiatan ini buat Intan dan agar tidak ada intan-intan lainnya. Harapan saya, kita tetap bisa menjaga kerukunan dan kebersamaan yang sudah terjalin dengan baik di Sulawesi Utara,” jelasnya.

