Sebuah catatan Ramon Wowor, jurnalis sepuh.
Manado, Fajarmanado.com —Membawa citra sebuah Kementerian PUPR dan lebih khusus Direktorat Jenderal Bina Marga, bukan sebuah pekerjaan mudah. Itulah yang diemban Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Hendro Satrio Muhamad Kamaludin ST, MT.
Sebelum membedah atau mengupas sosok Kepala BPJN Sulut ini, penulis ingin tengok sedikit kilas balik kinerja BPJN Sulut yaitu Menteri PUPR sangat berterima kasih atas capaian Balai Besar PJN di Makasar, BPJN Sulut para UPT di daerah ini. Dimana BPJN Sulut pada tahun anggaran 2022 realisasi pekerjaan bisa capai sebesar 98 %.
Tahun anggaran 2023, lewat upaya keras dan pendekatan yang smart dari Hendro Satrio, BPJN Sulut mendapat alokasi dana dari Kementerian PUPR sebesar Rp 847 Milyar.
Dana proyek jalan dan jembatan ini tersebar dari Bolmong Raya, Minahasa dan sekitarnya, Manado hingga Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud.
BPJN Sulut ternyata bukan saja melaksanakan bangun jalan nasional, tapi jalan pedesaan turut dikerjakan sesuai permohonan pemerintah Kabupaten Kota se Sulut.

Apa sih yang plus dari Hendro Satrio ini?
Penulis, sejak awal tahun ini sudah mendengar nama pejabat Pusat yang ditempatkan di daerah ini dari kalangan jurnalis. Pada era kepemimpinan beberapa Kepala BPJN Sulut, rekan wartawan yang ingin ketemu Pimpinan Balai hanya dilayani di lantai bawah alias basement. Ruang kerja Kepala BPJN yang berada di lantai dua, seolah olah dibikin steril seperti alergi atau trauma diganggu kuli tinta alias awak pers.
Tapi suasana berobah drastis, ketika datang seorang Hendro Satrio. Pegawai atau ASN yang diangkat tahun 1995 -1996 di Kementerian PU Pusat ini. Siapa saja wartawan atau LSM yang ingin bertamu dan sudah bikin janji, siap dilayani di ruang kerja Kepala BPJN Sulut yang beralamat di Desa Sukur Minahasa Utara itu.
Hendro memang bukan sembarang pejabat instansi vertikal yang kaleng kaleng. Penempatan pertamanya di DKI Jakarta, diberi tanggung jawab sebagai PPK, dan dinilai berhasil dengan kinerja mengagumkan. Hendro kemudian diberi kepercayaan tugas ke Bali. Belum lama di situ di tempatkan di Kalimantan dan berlanjut ke Sumatera.
Atas prestasi mengangkat citra Bina Marga di empat pulau tersebut, Hendro Satrio di tahun 2022 di promosi menjabat Kepala BPJN Sulut dalam usia emas 50 tahun, setelah mengabdi dan berkarya selama 27 tahun ASN di Kementerian PU.
Bencana alam Manado 27 januari 2023, adalah saat saat paling sibuk bagi Hendro. Banyak kalangan yang tidak tahu, lembaga mana yang harus 24 jam mengatasi langsung dan secara cepat bencana longsor, jalan putus akibat bencana 27 Januari se Sulut. Yang pasti Kepala BPJN Sulut dengan jajarannya, baik itu Satker, PPK , UPT maupun THL harus siaga dengan peralatan berat memantau, mengawasi dan menuntaskan persoalan dilapangan.
Dalam percakapan santai dengan Hendro, ia baru saja pulang jam satu malam dari Bolmong. Ada dua titik besar longsor dan jalan putus harus ditangani segera. Ada 40 an titik longsor kecil juga.
Di saat pulang di tengah cuaca masih ekstrim, ada pohon tumbang melintang di badan jalan yang dilalui mobilnya. “Syukur alhamdulilah, rombongan kami tidak kena bencana,” ucap Hendro. Ia pun mengambil peralatan di dalam mobilnya, kemudian bersama sopir dan staf langsung memotong dan menyingkirkan batang kayu dari badan jalan biar lalu lintas lancar.
Saat bertamu, pejabat Pusat ini menyambut dengan wajah ceria, ramah dan bicara tersungging senyum.
Pria berkacamata minus ini, gesit bergerak mengatur staf di ruangan lain, tandanya sifat dinamis.
Beranak tiga, dan sulungnya sejak masih SD sampai sudah kuliah sekarang harus menerima ayahnya yang sering berpindah tugas. Demi tugas Negara, bertemu fisik dengan keluarga sangat kurang. Sehingga Hendro menjadwalkan dua bulan sekali ketemu. Pejabat yang tampak lincah itu, telah menjadwalkan siklus tiap bulan, ia harus adakan kunjungan langsung memantau pekerjaan BPJN ke semua Kabupaten Kota.
Sementara bertamu, teman yang mendampingi berbisik, inilah sosok kepemimpinan brokrat masa depan di Indonesia. Saya jawab; “atau saat ini dijuluki bapak infrastruktur Sulawesi Utara?”
Menelisik Figur
Nama yang diberikan orang tua disaat kita masih bayi dan tidak tahu apa apa, ternyata punya maksud. Nama adalah doa orang tua. Mari kita telisik nama Kepala BPJN Sulut secara lengkap yaitu Hendro yang cocok sebagai nama depan, bergaris emas. Bisa mendatangkan uang, melambangkan daya cipta, miliki mobilisasi, sangat cakap dan mampu mengatur orang lain (manage).
Satrio diketahui umum berjiwa kesatria, pahlawan (gentlemen), mempunyai pesona dan charisma. Sebagaima pria idaman, penampilan glamor (rapi) dan suka perhatian. Dari segi kerja, suka utarakan (penuh) gagasan, ide dan kerja keras sebagaimana orang yang perfeksionisme.
“Bapak maunya segala pekerjaan diselesaikan secara sempurna,” ujar teman seorang pegiat sosial yang merupakan teman dekat. Jika ada staf yang kurang beres bekerja, tak segan ditegor Kepala Balai. Temuan LSM di lapangan, harus segera diituntaskan . Dan ada staf BPJN turun langsung mengawasi pekerjaan.
Kembali ke soal nama
M. K. adalah Muhamad Kamaludin yang turut tercantum dalam akte kelahiran Hendro . Dan jelas punya arti tersendiri. Muhamad menandakan kesempurnaan, berani dan cerdas. Ada kehidupan yang bahagia, tenteram dan sifat sosial serta suka memberi.
Kamaludin adalah bersifat rohani yang tinggi atau menuju kesempurnaan dalam beragama. Nama memang adalah doa dari orang tua. . (ramonW).

