Wagub Tegaskan Tidak Ada Pribumi dan Non Pribumi di Sulut
Wagub Drs Steven Kandouw, Dr Harry Widianto dan Pamuji Lestari memukul Tetengkoren saat peringatan Hari Museum Nasional di Museum Kebudayaan Sulut, Komo Dalam, Kota Manado, Kamis (19/10/2017).

Wagub Tegaskan Tidak Ada Pribumi dan Non Pribumi di Sulut

Manado, Fajarmanado.com – Wakil Gubernur (Wagub) Drs Steven Kandouw menegaskan, 2,8 juta jiwa penduduk Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang tersebar di 15 kabupaten kota adalah orang Indonesia semuanya,  tidak ada pribumi dan non pribumi.

Kandouw mengungkapkan hal tersebut saat menghadiri acara Hari Museum Nasional di Museum Kebudayaan Sulut, Komo Dalam, Kota Manado, Kamis (19/10/2017).

Museum, kata dia, harus menjadi tempat memupuk wawasan kebangsaan, yang korelasinya untuk objek wisata. Namun, Wagub menilai museum di Nyiur Melambai belum optimal pengelolaannya.

“Saya apresiasi hari museum, ini akan meningkatkan awarness kita tentang museum. Meningkatkan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air,” ujar Kandouw dalam sambutannya.

Ia mengungkapkan, museum bisa menjadi solusi ketika wawasan kebangsaan Indonesia tengah dirong-rong. “Bikin saja museum, lebih efektif datang ke museum kita bisa menyadari kekayaan bangsa kita,” katanya.

Kandouw meyangangkan belum semua menyadari pentingnya peran museum, termasuk di jajaran pemerintah, “Museum di Jogja sudah lebih bagus. Kalau di Sulut belum optimal. Padahal jika dikelola dengan hebat korelasinya juga dengan pariwisata,” paparnya.

Ia pun mengungkapkan pengalamannya ketika mengunjungi sebua museum di luar negeri. “ACnya dingin, nyaman sekali. Betah di dalam, sehari keliling tidak kelar,” ungkap dia.

Sebaliknya, museum di Sulut, tidak ada air conditoner (AC), padahal suhu udaranya panas. “Museum kita panas dan tak nyaman,” ujarnya.

Kandouw pun mengakui, Pemprov menganggarkan dana untuk museum masih kecil. “Anggaran untuk museum masih secuil,” katanya.

Namun Pemprov akan mencari jalan keluar. Jika sulit dari APBD, bisa dari swasta berupa Corporate Social Responsibity (CSR).

“BUMN juga bisa kasih CSR ke museum. BUMN untuk membantu museum di luar negeri begitu. Memang BUMN sudah banyak CSR, walaupun banyak ke infrastruktur dasar. Harusnya juga bisa juga untuk museum,” ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Dr Harry  Widianto  mengatakan dalam acara ini direktorat cagar budaya dan permuseuman bekerja sama dengan beberapa museum menyelenggarakan pameran  dengan tema “museumku merajut kerukunan hidup berbangsa” untuk mengambarkan kebhinekaan yang dimiliki bangsa Indonesia.

Menurutnya, pameran yang berjudul sepayung bersama Indonesia menyajikan beberapa koleksi gabungan dari beberapa museum di Indonesia, di antaranya museum Sulut, museum Dibra Durga di Jawa Barat, Museum Tekstil, Museum Wayang, Museum Sumpah Pemuda, Museum Indonesia dan Museum Olahraga.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI  tahun ini akan memberikan penganugerahan cagar budaya dan museum. “Penghargaan ini diberikan  kepada pelestari dan juru pelihara  dan museum terbaik 2017,” ungkap Widianto.

Terlihat hadir pada acara tersebut, Asisten Deputi Warisan Budaya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pamuji Lestari, Forkopimda Sulut, Ketua Dharma Wanita Sulut Ivonne Silangen-Lombok, Kadis Kebudayaan FD Rotinsulu, Para Kepala Museum dan tokoh Agama dan tokoh Masyarakat.

Editor    : Herly Umbas