Olly Jadi Irup, Wolter Monginsidi ‘Tampil’ di Lapangan Sario
Suasana penaikan bendera Merah Putih pada Upacara HUT Proklamasi Kemerdekaan RI Provinsi Sulut di Lapangan KONI Sario, Kota Manado, Kamis (17/08/2017) pagi tadi. Foto: Humas Polda Sulut.

Olly Jadi Irup, Wolter Monginsidi ‘Tampil’ di Lapangan Sario

Manado, Fajarmanado.com – Upacara peringatan Detik-detik Proklamasi tingkat Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang biasanya digelar di halaman Kantor Gubernur, Jalan 17 Agustus Manado, kini dialihkan  di lapangan KONI Sario, Kota Manado, Kamis (17/08/2017).

Dentuman meriam tepat  pukul 10.00 Wita, mengawali peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 tahun 2017 dengan Inspektur Upacara (Irup)  Gubernur Sulut, Olly Dondokambey.

Terpantau, Wakil Gubernur (Wagub) Steven Kandouw hadir bersama unsur Forkopimda Sulut.  Antara lain, Kapolda Sulut, Irjen Pol Bambang Waskito, Pangdam XIII/Merdeka, Mayjen TNI Ganip Warsito, Ketua DPRD Sulut, Andre Anggow Kajati, Kepala BNNP Sulut, Kabakamla, Danlantamal VIII Manado, Danlanudsri, dan segenap Kepala SKPD tingkat Provinsi Sulut.

Upacara ditandai dengan pengibaran bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), pembacaan teks Proklamasi dan hening cipta.

Selain pejabat daerah, turut hadir sebagai peserta upacara, antara lain personel TNI-Polri, PNS dan ribuan pelajar se-Sulut serta para Veteran.

Usai pelaksanaan upacara, para peserta upacara  disuguhkan dengan lantunan lagu-lagu perjuangan yang dibawakan oleh pelajar SMA se daerah Nyiur Melambai, kemudian pementasan drama kolosal perjuangan pejuang asal Sulut, Robert Wolter Monginsidi dalam menumpas penjajahan.

Drama itu sendiri mengisahkan kegigihan pahlawan nasional asal Sulut itu berjuang melawan penjajahan yang tampak takut. Bahkan, putra Malalayang yang lahir 14 Pebruari 1925 ini, rela mati dieksekusi tembak pada 5 September 1949.

“Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku, merdeka, merdeka, merdeka!” Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Robert Wolter Monginsidi sesaat sebelum delapan butir peluru penjajah bersarang di tubuhnya.

“Terus terang saya sempat menangis dan terharu saat melihat kisah Robert Wolter Monginsidi ini. Beliau orang yang setia memperjuangkan bangsa dan tanah airnya sampai akhir hidupnya. Bahkan dia rela mati demi membela tanah air,” kata Yori, warga Sario yang menyaksikan langsung drama kolosal tersebut.

Editor : Herly Umbas