Tondano, Fajarmanado.com – Pengurus DPD KNPI Minahasa menyebutkan ada 7 ‘keajaiban’ yang perlu disikapi dengan aksi nyata oleh pemerintahan Bupati Drs Jantje Wowiling Sajow, MSi.
Ketua DPD II KNPI Minahasa Theo Umbas SSTP mengatakan, ke 7 persoalan yang harus dijawab dalam sisa 8 bulan tiga pekan pemerintahan JWS, sapaan akrab Bupati Minahasa periode 2013-2018 ini, sebelum mengakhiri jabatan pada 17 Maret 2018, adalah, persoalan kemiskinan, pengangguran, banjir, eceng gondok Danau Tondano, program Kabupaten Cabe dan Pesona Visit Minahasa 2017, utang ke PLN dan instabilitas pemerintahan.
Bung Theo mengatakan, sesuai kajian DPD KNPI Minahasa, yang mengacu dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Minahasa, harus harus diakui bahwa cukup banyak keberhasilan yang dicapai Bupati JWS dalam 4 tahun dua bulan tiga pekan sejak dilantik pada 17 Maret 2013.
Akan tetapi, lanjutnya, ada 7 masalah besar yang perlu segera disikapi dan dicarikan langkah-langkah solusif dengan segera. “Kalau tidak, pasti JWS akan dinilai gagal memimpin Minahasa,” katanya kepada Fajarmanado.com di Tondano, Sabtu (24/06/2017)
Jebolan STPDN/IPDN Jatinangor, Sumedang, Bandung ini menguraikan, berdasarkan data BPS, di akhir kepemimpinan Bupati Drs Stefanus Vreeke Runtu (SVR) pada 2012, angka penduduk miskin di Minahasa adalah 7,16%.
Namun, saat beralih kepemimpinan kepada JWS, angka penduduk miskin daerah Toar Lumimuut ini terus bertengger di atas capaian SVR. Di tahun pertama kepemimpinan JWS, politisi PDI Perjuangan ini, kemiskinan naik sebesar 1,65 persen atau menjadi 8,81 persen.
Pada akhir 2014 atau tahun ke dua, Bung Theo menyebut bahwa JWS berhasil menekannya karena turun menjadi 8,53 persen. Tapi, di tahun ke tiga, yakni 2015 kembali naik menjadi 8,80 persen.
“Di akhir tahun 2016 diperkirakan masih berada di atas angka 8 persen. Artinya, sampai saat ini Pemerintahan JWS belum mampu mensolusikan masalah kemiskinan di Minahasa atau belum bisa menyamai prestasi SVR,” ujarnya.
Kian parah lagi, lanjut Bung Theo, di bidang pengangguran. Data BPS menunjukkan, tingkat pengangguran di Minahasa meningkat dari tahun ke tahun dibandikan dengan capaian akhir masa jabatan Bupati SVR pada 2012.
“Data BPS, penganggguran terbuka daerah kita di akhir 2012 berada pada angka 6,14 persen,” ungkap Bung Theo.
Akan tetapi, semasa pemerintahan JWS, angka penggangguran terbuka di Minahasa terus meningkat. Akhir tahun 2013 naik jadi 7,43 persen, tahun 2014 melejit naik pada angka 8.80 persen dan di akhir tahun 2015 naik lagi menjadi 9,61 persen. Sedangkan data untuk tahun 2016 dan 2017 belum dirilis BPS.
“Dua tahun terakhir ini bisa jadi naik lagi. Karena tidak ada program signifikan penyediaan lapangan kerja baru bagi masyarakat, kecuali program nasional Dana Desa dan ADD,” ujarnya.
Ia tidak menampil program pembangunan nasional dari desa tersebut tidak terlalu signifikan menyerap tenaga kerja desa setempat, karena banyak pekerjaan yang melibatkan pihak luar, semisal pengadaan material, pengaspalan jalan dan sebagainya.
Persoalan banjir, menurutnya, belum bisa diatasi pemerintahan Minahasa sekarang ini. Beberapa lokasi, seperti di wilayah Toulour, Kiniar, Tataaran dan beberapa titik lainnya masih saja menjadi langganan banjir belakangan ini.
“Berdasar kajian dan olah lapangan KNPI, memang ketika dilanda banjir Pemkab selalu turun memberikan berbagai bantuan, termasuk makanan bagi masyarakat korban. Padahal yang dibutuhkan masyarakat adalah langkah nyata agar tidak terjadi banjir Lagi. Misalnya pembuatan Tanggul atau solusi lainnya,” ungkapnya.
Sekitar tahun 2014, Pemkab mencanangkan Minahasa sebagai Kabupaten Cabe. Namun hasil pengamatan KNPI, program ini tidak berjalan maksimal dan lebih terkesan hanya slogan semata.
Indikasi konkretnya, bisa dilihat dari fluktuasi harga cabe yang tidak terkendali selama ini sehingga sempat mencapai di atas Rp100 ribu per kilogram. Realita di lapangan, kebutuhan masyarakat Minahasa masih sangat bergantung pada cabe yang didatangkan dari Gorontalo dan Surabaya.
“Begitu pun dengan program Visit Minahasa 2017. Sudah dilaunching di Jakarta akhir tahun 2016 tapi kesiapan objek wisata di daerah ini tidak maksimal sebab tidak bisa ada langkah konkret penataan objek-objek wisata yang sudah ada, termasuk penyusunan paket-paket wisata yang bakal ditawarkan kepada wisatawan,” katanya.
Bicara wisata, lanjut Bung Theo, bagaimana membuat para pengunjung betah atau berlama-lama tinggal dan berbelanja di daerah tujuan wisata. Khusus di Minahasa, kemungkinan tersebut sangat kecil karena belum didukung dengan akomodasi, baik homestay maupun hotel representatif yang cukup dan memadai.
“Penanganan eceng gondok di Danau Tondano, juga tidak maksimal dan terprogram secara sistimatis. Bukannya berkurang, tapi malah terus menyebar tak terkendali. Alat berat yang digunakan terkesan tidak banyak membantu,” ujarnya.
Persoalan lain yang juga harus disikapi, adalah pembayaran hutang Pemkab Minahasa Ke PLN yang sudah mencapai miliaran rupiah. Ironisnya, kewajiban Pemkab itu tercipta dari Penerangan Jalan Umum (PJU).
“Sudah banyak sambungan lampu jalan yang diputus PLN dan tentu sangat merugikan masyarakat. Padahal masrarakat konsumen listrik juga membayar Pajak Penerangan Jalan atau PPJ. Artinya yang membayar bukan hanya Pemkab, tetapi juga masyarakat. Yang Aneh, masyarakat sudah bayar namun Pemkab masih menghutang,” imbuhnya.
Bung Theo juga mengatakan, KNPI Minahasa menilai ada instabilitas dalam pemerintahan, karena sangat kental didominasi pertimbangan politik praktis penguasa di daerah.
“Saat ini, ASN dijadikan motor penggerak kepentingan politik pribadi oknum penguasa,” tandasnya.
Namun demikian, Bung Theo mengatakan, apabila pemerintahan JWS serius membangun Minahasa maka ke 7 masalah besar ini bisa dituntaskan dalam sisa waktu kepemimpinannya.
“Tujuh masalah besar ini saya yakin akan dapat disolusikan dalam sisa waktu kepemimpinan Bupati JWS sampai akhir Maret 2018. Kalau tidak, pasti Bupati JWS akan dikatakan gagal oleh rakyat memimpin Minahasa selama satu periode,” tegas.
“Kami DPD KNPI Minahasa menunggu langkah nyata dari kebijakan-kebijakan solutif Dari Pemkab Khususnya Bupati JWS, agar benar2 terwujud Minahasa Hebat, Minahasa Maju,” pungkas Bung Theo.
Penulis : Fiser Wakulu
Editor : Herly Umbas

