Selain mencuri emas, ia membeberkan jika sempat pula divonis karena mencuri uang tunai Rp 10 juta di salahsatu rumah, juga di wilayah Kecamatan Tompaso. Tiga lainnya mencuri kacang merah, uang dan rokok di tiga warung berbeda di wilayah itu.
“Kalu ndak ada doi dalam laci, kita cuma ambe rokok-rokok,” ungkapnya, yang saat itu didampingi tahanan lainnya, yang tertangkap membawa senjata tajam, siang tadi.
Aksi-aksi pencurian yang dilancarkannya, John mengaku tidak pernah direncanakan. Niat itu muncul tiba-tiba ketika lagi butuh uang dan melihat target. “Saya tidak pernah datang ke sekolah itu,” tuturnya.
John menyatroni SMK Kristen Kawangkoan karena meyakini semua sekolah punya perangkat komputer. Saat itu, ia memarkirkan sepeda motornya di seberang jalan, tepatnya di depan Monumen Lapian-Taulu Kawangkoan.
“Saya lihat lewat kaca, ada komputer di dalam,” katanya. Ia pun berjalan ke bagian lain bangunan dan masuk melalui toilet. “Pintunya nda ada kunci. Jadi saya masuk,” kisahnya.
Plafon toilet dibobol kemudian John memanjat naik ke atas loteng sehingga membuka kembali plafon salah satu bangunan. “Oh, ndak ada orang kase belajar, belajar sendiri no,” kilahnya.
Barang-barang hasil curian tersebut direncanakannya akan dijual kepada siapa saja yang butuh. “Belum ada pembeli. Rencananya kita mo tawarkan pa orang-orang di kampung,” ujarnya polos.
Mengenai kemungkinan tersangka yang melakukan aksi yang sama di Kantor Camat Tompaso dan SMA Advent Tompaso Dua, dengan sigap dia membantah.
“Kalu itu bukang kita, mungkin orang lain,” kata John sambil menyebut satu nama. “Kalau dia kwa ba bawa,” paparnya. “Kita ndak ba bawa,” sambungnya. Yang dimaksud ba bawa adalah menggunakan ilmu hitam.
Kanit Bripka Freddy Tololiu mengatakan, semua keterangan tersangka akan dikembangkan pihaknya bekerjasama dengan Polsek Tompaso. “Soalnya, pola pencurian di Kantor Camat Tompaso dan SLA Tompaso Dua, sama,” ungkap, pria simpatik ini.
(fiser/ely)

