Diduga Asal Jadi, Tanggul Jalan Trans Minsel-Mitra Ambrol Lagi
Penampakan tanggul dan jalan yang ambrol, di antara Kelurahan Boyungon dan Desa Kilomenter Tiga, Kecamatan Amurang, Minsel pada Kamis (5/1/2017). Foto: Andries Pattyranie

Diduga Asal Jadi, Tanggul Jalan Trans Minsel-Mitra Ambrol Lagi

Amurang, Fajarmanado.com – Diduga bangun asal-asalan, tanggul jalan penghubung Kelurahan Buyungon dengan Desa Kilometer Tiga, Kecamatan Amurang, Minsel kembali ambrol. Kendaraan roda empat pun kini tidak bisa lagi melintas.

Ironisnya, tanggul berbandrol Rp.4,4 miliar tahun anggaran 2016 ini tercatat sudah dua kali ambruk. Pertama ketika tengah dikerjakan sekitar April 2016, longsor besar sempat terjadi dan menyebabkan sebuah mobil dump truk masuk jurang berkedalaman sekitar 50 meter.

Peristiwa ke dua terjadi pada awal Desember 2016 ketika proyek pembuatan tanggulnya telah selesai, sehingga dilakukan perbaikan dan tuntas menjelang akhir tahun.

Hujan deras yang mengguyur lebih sepekan terakhir, kembali menyebabkan tanggul jalan trans yang jadi nadi utama penghubung Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel dengan Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) ini kembali ambrol pada Selasa (3/1/2017) lalu.

Peristiwa ke tiga ini menyebabkan mobil berbagai jenis tidak bisa lagi melintas, kecuali sepeda motor dan pejalan kaki. Masyarakat pun memberikan tanda awas dengan sebuah karung yang digantung pada bambu dan ditancapkan agak melintang di tikungan jalan.

Pantauan Fajarmanado.com, tanggul ambrol ikut membawa lebih dari separoh badan jalan ikut terbawa longsor pada beberapa bagian. Badan jalan aspal hotmix yang tersisa tak lagi sampai 2 meter.

Peristiwa ini diduga keras akibat tanggul tidak dibangun menancap pada dasar jurang tetapi hanya ditebing yang struktur tanahnya masih labil, tidak keras. Hal ini menyebabkan ketika tanah di dasar dan bagian bawah tanggul tergerus air, tanggul pun ikut terbawa dan ambrol.

“Seharusnya dibangun dari dasar, bukan hanya menggantung seperti ini,” ujar Jantje Sonambela, warga Buyungon sambil menunjuk dasar tanggul yang masih jelas terlihat tidak berada di dasar jurang.

Ia mengebut banyak keganjilan dalam proyek yang dikerjakan oleh salahsatu pengusaha bonafide asal Kota Manado ini. “Masakan, dengan anggaran 4,4 miliar bangunannya bisa ambruk sampai berkali-kali,” imbuhnya.

Sonambela mengatakan, jika kontraktor telah melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar proyek, maka perencanaannya yang tidak tepat. Seharusnya diperhitungkan berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan tergerusnya tanah di bagian dasar tanggul yang bisa mengancam kekuatan tanggul menahan longsoran.

Ia juga menyayangkan kinerja Petugas Pembuat Komitmen (PPK) dan pengawas proyek yang tidak becus mendampingi proses pekerjaan proyek tersebut secara kontinyu sehingga seenaknya pelaksana proyek mengerjakannya.

“Siapa tahu ketebalan tanggul di bagian bawah dan kwalitas campuran spesinya tidak sesuai dengan bestek, karena terjadi patahan tanggul di bagian bawah, di atas dasar atau fondasi tanggul,” ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Minsel Jootje Tuerah, ST MM belum berhasil dikonfirmasi. Berkali-kali hendak ditemui maupun dihubungi melalui saluran telepon, belum direspon.

Namun informasi dari sejumlah staf isntansi teknis ini menyebutkan bahwa Kepala Bidang Bina Marga Ventje Karouwan, ST MSi dan sejumlah staf sudah turun ke lokasi.

(andries)