Sementara itu, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Sulawesi Utara mengutuk keras tindakan pelemparan bom Molotov yang mengakibatkan jatuhnya korban di Samarinda pada Minggu (13/11) pekan lalu. GP Ansor Sulut yang diwakili Rusli Umar, mengatakan, pihaknya tidak setuju dan mengutuk tindakan pemboman yang dilakukan di rumah Ibadah.
“Semua agama mengajarkan tentang kebaikan, tidak ada agama yang mengajarkan untuk berbuat anarkis. Islam pun mengajarkan tentang kebaikan. Kami mengutuk keras tindakan di Samarinda dan yang terjadi di Jakarta. Saya katakan dengan tegas, mereka bukan Islam, karena Islam tidak mengajarkan untuk berbuat kejahatan,” tegas Umar berapi-api yang disambut tepuk tangan dan teriakan Indonesia.
Lanjut, Umar mengatakan, tidak ada ajaran Islam yang mengatakan akan masuk surga jika membom dan membakar rumah ibadah Gereja, apalagi sampai membunuh orang Kristen.
“Membom, membakar gereja dan membunuh orang Kristen bukan jalan untuk masuk surga. Tidak ada yang menjamin mereka masuk surga, tidak juga Islam. Yang menentukan mereka masuk surga adalah perbuatan dan perilaku mereka selama hidup di dunia,” jelas Umar.
Peristiwa di Samarinda itu tindakan radikal dari orang yang tidak mengerti agama, tidak ber Tuhan. Mereka mengatasnamakan agama. Islam tidak mengajarkan perbuatan yang membenci agama lain, kata Umar lagi.
Selanjutnya, para pemuda lintas agama Sulawesi Utara ini melakukan pemasangan 1000 lilin dan doa bersama buat Indonesia di perempatan jalan Dotulolong Lasut.
Beberapa organisasi pemuda lintas agama ikut dalam aksi malam ini datang dari Pemuda GMIM, Pemuda GP Ansor Sulut, PMII Sulut, Aliansi Seni dan Budaya Islam Indonesia Sulut, PMKRI Sulut, GMKI, Pemuda Minahasa Makatana, Perhimpunan Pemuda Konghucu Indonesia Sulut, Pemuda Budha Sulut, Pemuda Hindu Sulut, Civitas Akademik UTSU, Civitas Akademik STAKN Manado dan berbagai elemen organisasi pemuda dari Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu serta pemeuda adat Sulawesi Utara lainnya.
(Fred)

