Pengunjung Kota Kawangkoan Membludak, Petugas Parkir Tak Nongol
Penampakan mobil dan pengunjung di Pusat Kota Kawangkoan, Minahasa pada Rabu (12/6/2019) sore. Foto: Heru

Pengunjung Kota Kawangkoan Membludak, Petugas Parkir Tak Nongol

Kawangkoan, Fajarmanado.com — Eksistensi Kawangkoan, Kabupaten Minahasa sebagai kota pariwisata dan kuliner semakin nyata. Tingkat kunjungan di wilayah yang dikenal sebagai Kota Kacang, Biapong dan Ragey ini terus saja membludak.

Tak hanya di hari-hari libur, di hari kerja kemacetan kerap terjadi pula di dua titik kawasan kuliner, yakni pusat pertokoan dan di kawasan kuliner di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara.

Kemacetan kerap terjadi pada sore sampai malam. Kawasan parkir di pusat kota tak mampu menampung mobil-mobil pengunjung, sehingga mengular di sisi Jalan Lapian-Taulu, sampai di depan Gereja GPdI Pusat Kawangkoan dan depan Bank SulutGo Cabang Kawangkoan.

Kelompok pengunjung yang kebanyakan dari luar kota Kawangkoan ini tak lain sebagai penikmat sajian dua rumah kopi dan mie, Sarina dan Toronata serta rumah kopi Gembira yang hanya khusus menawarkan aneka minuman bersama biapong dan roti bakar.

Tak jarang pula, pengunjung membludak hingga menggunakan halaman Gereja GMIM Sentrum Kawangkoan bagi penikmat Rumah Kopi & Mie TS.

Titik macet lain, juga langganan terjadi pada kawasan kuliner yang baru bermunculan sekitar 10 tahun terakhir di bilangan Kelurahan Talikuran.

Di kawasan yang masih berada di jalan utama Kota Kawangkoan ini, juga berjejer sejumlah rumah kopi dan mie serta rumah-rumah makan yang menawarkan aneka menu khas. Ada ikan bakar, ragey, daging ayam bakar, babi tore, bahkan bubur Manado alias tinutuan.

Setidaknya ada tiga rumah kopi dan mie di kawasan itu. Yakni, Berkat dan dua lainnya bernama sama, GloriA. Sedangkan rumah makan adalah Ragey dan FU.

Rumah makan Ragey, yang muncul pertama kali di kawasan tersebut, menawarkan aneka menu yang unik.

Selain Ragey, daging babi yang tempoe doeloe menjadi menu khas para penjual daging babi di pasar ini, rumah makan milik Adrie Lomboan juga menawarkan aneka menu unik. Semisal, daging kelelawar, tikus dan ular patola.

Sementara rumah makan FU menyajikan menu khas dan simpel, seperti nasi babi tore sayur kangkung dan nasih ayam goreng atau bakar sayur kangkung, serta aneka ice.

Berada pada satu kawasan yang berdekatan, menyebabkan ruas jalan Lapian-Taulu di Kelurahan Talikuran sering macet.

Halaman parkir yang disediakan para pengelola usaha tak mampu menampung para pengunjung yang datang dengan kendaraan bermotor. Tak pelak, mobil-mobil terpaksa diparkir menggunakan bahu kiri kanan jalan.

Pantauan Fajarmanado.com, tak ada petugas berseragam Dinas Perhubungan yang menata parkir dan mengatur arus lalu lintas di dua kawasan kuliner tersebut.

Yang tampak, hanya para pria berpakaian preman. Menggunakan pluit, mereka sibuk mengatur kendaraan-kendaraan. Tentu saja mendapat imbalan, meski nilainya bervariasi sesuai kerelaan para sopir.

Menurut pengakuan para tukang parkir, uang jasa parkir bukan milik pribadi mereka. Tapi disisihkan untuk disetor kepada oknum Dinas Perhubungan.

Setoran dilakukan sekali seminggu. Di kawasan parkir depan rumah kopi dan mie Sarina dan Toronata sekitarnya sebesar Rp.150 ribu, sedankan di parkiran depan rumah kopi Gembira sekitarnya Rp.300 ribu.

Kepala Perparkiran Unit Kawangkoan, Edwin Korua belum berhasil dihubungi. “Dia jarang datang, mungkin sebentar,” kata salahsatu petugas parkir di Kawangkoan, Kamis (13/6/2019) pagi.

Penulis: Heru