TOMOHON, FAJARMANADO.com – PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Lahendong tengah sibuk memantau dan mengamati keberadaan lumpur panas yang muncul di tiga lokasi sekitar sumur panas bumi Kluster 24 Tondangouw, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon.
Humas PT PGE Area Lahendong, Dimas Wibisono mengatakan, sejauh ini belum terdeteksi adanya racun atau unsur H2S pada uap panas sekitar sumur LHD 24 tersebut selama ini.
“Masih normal, seperti halnya uap panas yang keluar sebagai reaksi vuklanologi di kawasan (objek wisata alam dan relegi) Bukit Kasih Kanonang,” ujar Wibisono didampingi stafnya, Julian Lendeng kepada fajarmanado.com di Tomohon, Rabu (23/12/2015)
Namun dia belum dapat memastikan penyebab munculnya panas dari perut bumi tersebut, apakah hanya merupakan reaksi vuklanologi biasa atau akibat adanya kebocoran sumur Lahendong (LHD) 24, yang berada di sekitar tiga lokasi lumpur panas yang muncul dalam beberapa pekan terakhir ini.
(Baca juga: Muncul di Dekat Sumur PGE)
“Kalau akibat kebocoran sumur kami, tidak sulit diatasi. Hanya dengan mengclossingnya saja akan langsung berhenti,” kata pria 31 tahun asal Malang, Jawa Timur ini.
Jika akibat reaksi vulkanologi, lanjut dia, maka akan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah dan stakeholder terkait untuk melakukan penelitian bersama guna mencarikan langkah solusi bersama.

Asisten II Pemkot Tomohon, Ronny S Lumowa, SSos, MSi senada mengatakan jika penyebab munculnya lumpur di perkebunan Ranomea, wilayah Kelurahan Tondangouw tersebut akibat kebocoran sumur panas bumi PGE, maka perusahaan BUMN itu sendiri wajib bertanggungjawab.
“Kalau disebabkan faktor lain, disebabkan oleh reaksi vulkanologi maka pemkot akan membantu dan bersama-sama mencarikan solusi terbaiknya,” papar Lumowa terpisah.
Menurut Wibisono, karateristik panas bumi yang keluar dari perut bumi berujud uap basah. Ketika meluap dan keluar di lapisan tanah maka akan bercampur menjadi lumpur berwarna sejenis dengan tanahnya.
“Lihat saja, kan tanah di lokasi semburan bagian kulit tanahnya adalah tanah liat makanya lumpurnya berwarna kecoklatan,” sambung Julian.
Namun dia mengakui jika pandangannya ini hanya berupa asumsi berdasarkan logika. “Pastinya, kita lihat saja hasil penanganannya nanti. Masih butuh sekitar 10 hari untuk dapat mengetahui penyebabnya, apakah dari sumur kami atau tidak,” kilahnya.
Menghadapi fenomena alam ini, sejak pekan lalu PGE menghentikan aktivitas pengembangan sumur Kluster 25 di Desa Leilem Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa, yang jaraknya tidak jauh dari sumur Kluster 24 di Tondangouw tersebut.
“RIGnya kita pindahkan untuk digunakan di Kluster 24. Karena untuk mengetahui kebocoran kita harus menggunakan RIG,” ungkap Wibisono, yang menggantikan jabatan Arie Turangan ini.
(her)

