TOMOHON, FAJARMANADO.com – Fenomena alam pemunculan lumpur panas di sekitar area sumur panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) area Lahendong semakin mengkuatirkan masyarakat sekitar jangan sampai menjadi Lapindo part two.
Luapan lumpur panas mirip Lapindo, yang didahului letupan tak jauh dari Kluster 24 di perkebunan Ranomea, wilayah Kelurahan Tondangouw, Kecamatan Tomohon Selatan,Kota Tomohon dikabarkan terjadi sejak awal pekan lalu.
Mulanya hanya berbentuk kubangan kecil, tapi kini kian membesar hingga telah mencapai diameter 20 meter sehingga dibuatkanlah tanggul oleh PGE untuk mencegah lumpur tumpah dan menyebar ke perkebunan penduduk sekitarnya.
Sejak muncul Senin (14/12/2015), pekan lalu, tak henti-hentinya menarik perhatian masyarakat setempat maupun sekitarnya, baik dari bagian Selatan Kota Tomohon maupun Kecamatan Remboken dan Sonder, Kabupaten Minahasa, yang masih cukup dekat dengan lokasi semburan.
Polisi pun terpaksa melingkari lokasi semburan dengan police line untuk mencegah jangan sampai ada pengunjung terjerembab masuk lumpur yang mengeluarkan uap panas tersebut. “Masyarakat sudah dilarang mendekat untuk menghindari kemungkinan masalah yang terjadi,” kata Lurah Tondangouw Tamboto Kaligis.
“Kalau terus membesar seperti ini, kami sangat kuatir jangan sampai terjadi seperti luapan lumpur Lapindo,” komentar Rommy, warga Tondangouw di lokasi luapan lumpur.
Lokasi luapan lumpur panas tersebut, hanya berjarak sekitar 20 meter di seberang jalan kluster 24. Namun letaknya lebih rendah dengan pemukiman penduduk Desa Tondangouw, yang berjarak sekitar 200 meter. Jika semakin meluap, lumpur akan tumpah menuju dataran rendah yang berupa ngarai menuju anak sungai DAS (Daerah Aliran Sungai) Nimanga, yang bermuara di pantai Tombariri.
Humas PT PGE Area Lahendong, Dimas Wibisono mengatakan, peristiwa tersebut masih merupakan manifestasi alam yang kerap terjadi di setiap daerah wilayah vulkanologi.
Berdasarkan penelitian awal, lumpur panas itu tidak ikut membawa gas beracun. “Kami akan mengecek apakah peristiwa semburan lumpur panas itu berasal dari sumber sumur bor atau tidak,” jelas Wibisono kepada wartawan, Selasa (22/12/2015).
Tim ahli PGE, kata dia, kini tengah melakukan kajian konprehensif untuk meneliti penyebab menyembulnya lumpur panas tersebut. “Kami baru menggunakan tim ahli internal untuk mengkaji akan peristiwa alam itu,” ujarnya.
Namun, Wibisono mengaku belum dapat menginformasikan hasil kajian tim itu. “Mereka sedang bekerja. Sabar ya, hasilnya akan saya sampaikan nanti,” katanya disela mendampingi tim dari Dinas ESDM Sulut melakukan peninjauan lokasi lumpur panas Tondangouw, siang tadi.
(her)

