Tondano, Fajarmanado.com – Merasa tidak puas dengan kinerja pihak kepolisian dalam mengungkap kasus penembakan di Desa Karondoran, Kecamatan Langowan Timur, Minahasa, yang merenggut nyawa Verona Kawung (22), muncul suara cibiran buat kepolisian.
Yang paling baru keluar dari mulut Allan Parinusa, Wakil Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Minahasa. Dikatakanya, situasi ini bisa memicu gerakan masa dalam bentuk berunjuk rasa.
“Seharusnya polisi terbuka tentang perkembangan kasus penembakan di wilayah Langowan Timur tersebut. Karena kasus itu sangat sensitif,” ujar Parinusa kepada Fajarmanado.com di Tondano, Senin (29/05/2017).
Lanjut dikatakanya, jika nantinya ada unjuk rasa yang menuntut keterbukaan penanganan kasus itu, tandanya jalur lain telah menemui jalan buntu. “Kuat dugaan yang sementara beredar, oknum mantan Kapolsek Langowan Timur yang bernisisial Iptu SR sebagai pelaku penembakan. Tapi kenapa penyidik tidak pernah memberi penegasan,” tuntut Parinusa.
Menurut Parinusa, informasi yang sampai kepadanya menyebutkan jika oknum polisi berinisial SR, yang santer disebut-sebut sebagai tersangka pelaku penembakan itu ditengarai memiliki kerabat berpangkat tinggi dalam tubuh Polri sehingga pengungkapan kasus tersebut tidak transparan.
“Waktu lalu, sempat saya baca di media bahwa Kapolres Minahasa pernah mengatakan kalau Iptu SR sedang dalam pengawasan Propam Polda Sulut. Itu kan sudah jelas, tapi kenapa kasus ini terkesan ditutupi untuk umum,” semburnya.”Begitu pun konprensi pers yang dijanjikan akan dilakukan Pak Kapolda, tak kunjung ada sampai sekarang ini,” sambungnya.
Parinusa bahkan menilai jika Polres Minahasa seperti tidak mau bertanggungjawab atas kasus penembakan tersebut. Buktinya, di beberapa kesempatan, Kapolres Minahasa selalu mengatakan jika Kasus itu ditangani Polda Sulut.
“Jika dikaji kenapa sampai kasus penembakan itu ditangani Polda Sulut, tandanya Polres Minahasa dipandang tidak mampu menyelesaikanya,” semburnya lagi.
Informasi yang berhasil dihimpun, karena tidak puas dengan kinerja kepolisian terkait pengungkapan kasus tersebut, pihak keluarga korban, masyarakat serta salah satu organisasi adat akan melakukan unjuk rasa di Polres Minahasa dan Polda Sulut.
Begitu juga dengan Fidel Kawung yang diketahui adalah kakak korban, dikabarkan kesal dengan kinerja kepolisian terkait penyelesaian kasus yang menewaskan adiknya. Fidel pun dikabarkan melampiaskan kekesalanya dengan merusak fasilitas umum di Desa Sumarayar. Karena perbuatanya tersebut, dirinya mendekam di ruang tahanan Polsek Langowan Timur.
Saat dimintai tanggapan, Kapolres Minahasa AKPB Syamsubair SIK mengatakan, keluarga korban telah mendapat penjelasan dari Polda Sulu di di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
“Keluarga korban sudah diberi penjelasan tentang peristiwa tersebut secara rinci oleh tim Polda Sulut di ruangan Kapolres Minahasa pada tanggal 26 April 2017,” ujar Syamsubair Senin (29/05/2017), sore tadi.
Disinggung soal ketidakpuasan keluarga terkait penjelasan dari Polda tersebut, Syamsubair tidak berkomentar lebih. Begitu juga dengan informasi akan adanya aksi unjuk rasa. “Penegakan hukum selalu mendapat penolakan dan ketidakpuasan dari pihak tersangka,” singkat Syamsubair.
Untuk diketahui, kejadian yang menewaskan Verona Kawung terjadi pada Selasa 4 April 2017 tengah malam lalu. Dimana korban diduga kuat tewas tertembak oleh oknum aparat kepolisian ketika terjadi perkelahian antar kelompok pemuda.
Korban sempat mendapat pertolongan, namun saat dalam perjalanan ke rumah sakit, korban menghembuskan nafas terakhir.
(fis)

