Kawangkoan, Fajarmanado.com – Rangkaian Aksi Damai 205 Tou Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) berlangsung semarak namun berakhir aman, nyaman dan benar-benar damai pada pukul 18:30 Wita, Sabtu (20/05/2017), malam ini.
Doa yang dibawakan Pdt Arthur Tewu, MTh, Ketua BPMJ GMIM Solafide Uner, wilayah Kawangkoan Satu dalam penerangan lilin kedamaian di genggaman setia peserta, menutup rangkaian kegiatannya di Terung Paliusan Kawangkoan.
Ketua KNPI Minahasa Theo Umbas SSTP dan Sekretarisnya, Edwin Pratasik SE bersama Camat Dra Meike Rantung, Kapolsek Iptu Dartha Daipaha dan Danramil 1302/08 Kapten Juris S tampak hadir sampai akhir acara.
Mereka pun berbaur dan berfoto bersama pada puncak acara yang dituntun master cerimony Silvana S Pakaya, gadis Kawangkoan yang dikenal sebagai salahsatu modeling Sulut ini.
Dalam doanya, Pdt Arthur Tewu tak hanya memohon perlindungan Tuhan untuk menjaga keutuhan NKRI dan pemerintahan Presiden Ir Joko Widodo (Jokowi), juga keadilan bagi semua warga negara, termasuk Gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Akoh.
Sebelumnya, Ketua KNPI Theo Umbas, dalam orasinya di Terung Paliusan juga menyatakan harapan yang sama. Bahkan, dengan berapi-api, ia menegaskan agar jajaran pemerintah mulai di pusat sampai di pesolok desa harus menjadikan hukum sebagai panglima.
“Hukum harus benar-benar dijadikan sebagai panglima. Jangan tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Setiap warga negara harus disetarakan dan sama di mata hukum. Yang salah katakan salah, benar katakan benar,” tegasnya.
Begitu pun dua orator yang tampil sebelumnya, yakni Hutri Laloan dan Edwin Umbas SSos. Mereka juga senada menegaskan bahwa NKRI adalah hasil perjuangan bersama masyarakat, termasuk pemuda mulai era kebangkitan nasional, tahun 1908, Hari Sumpah Pemuda tahun 1028 dan deklarasi HUT Proklamasi RI pada 17 Agustus 1945.
“Tanpa perjuangan pemuda, NKRI tidak seperti sekarang. Pemuda dari berbagai latar belakang suku, agama dan ras memberikan andil yang besar sehingga negara tercinta ini ada,” tandas, pria yang juga Ketua Pemuda GMIM Wilayah Kawangkoan Satu ini.
Hutri Laloan juga menegaskan, NKRI milik semua. Jangan membeda-bedakan warna kulit, bentuk mata dan warna rambut. “Semua yang lahir di tanah tercinta Indonesia ini, adalah (warga) Indonesia, harus diperlakukan sama di mata hukum,” ujarnya.
Acara yang diwarnai pagelaran seni budaya, mulai dari atraksi Tari Kabasaran Eben Haezer Talikuran, musik kolintang sampai stand up comedi Ucok, juga ditandai dengan pembacaan tujuh poin deklarasi Aksi Damai 205 Tou Kawangkoan, yang dibacakan oleh Valentino Laloan, STh dari Pemuda KGPM Sentrum Kawangkoan.

Inilah tujuh poin Deklarasi Aksi Damai 205 Tou Kawangkoan;
- Kami Warga Negara Republik Indonesia,Menyatakan Komitmen Untuk Menjaga Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia
- kami Warga Negara Republik Indonesia,menyatakan Ideologi Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.
3.Kami Warga Negara Republik Indonesia,menjunjung tinggi dan mendukung Supremasi Hukum dinegara Republik Indonesia.
4.Kami Warga Negara Republik Indonesia,menyatakan Menolak Organisasi dan Paham Radikalisme yang ada di Negara Republik Indonesia
5.Kami Warga Negara Republik Indonesia,menyatakan agar Pemerintah dan Masyarakat terus mengingat jasa pahlawan yang telah ambil bagian dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
6.Kami Warga Negara Republik Indonesia,menyatakan agar Rakyat Indonesia tetap menjaga Persatuan dan Kesatuan NKRI yang telah kita anut bersama dalam Filosofi Bhineka Tunggal Ika
7.Kami Warga Negara Republik Indonesia,menyatakan Mendukung Kepolisian san TNI dalam menjaga Ketertiban Keamanan bahkan Ketahanan Republik Indonesia.
(ely)

