Petani Jagung Minsel Panen, Warga Keluhkan Harga Masih Tinggi
HARGA JAGUNG merosot tajam, akibatnya Pemkab Minsel dituding belum memperhatikan petani dan warga. Soalnya, belum penampung jagung. Juga, warga mengaku harga Rp 3.500 hingga Rp 4.500/kg dan itu terlalu mahal bagi warga kecil.

Petani Jagung Minsel Panen, Warga Keluhkan Harga Masih Tinggi

Amurang, Fajarmanado.com – Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan melalui Dinas Pertanian Minsel terus menggencarkan penanaman jagung sejak akhir 2015. Bahkan, memasuki tahun 2016 ditargetkan luas areal untuk tanaman jagung sekitar 50 ribu hektar. Namun, program tersebut belum diikuti dengan penanganan pasca panen atau pemasaran hasil produksi.

Tapi herannya, harga jagung di toko ternak sejak bulan Januari hingga Maret ini merosot tajam. Adalah Rp 4.500/Kg untuk jagung. Sedangkan harga beras milu Rp 3.500/kg. sementara, harga pasaran juga bervariasi. Maka dari itu, gencarnya penanaman jagung oleh Pemkab Minsel melalui Dinas Pertanian bukannya memberikan solusi bagi warga. Tetapi ternyata, harga jagung lebih merosot tajam.

‘’Ya, harga jagung dipasaran terjun bebas. Memang, saat ini jagung di Minsel melimpah tajam. Pasalnya, panen jagung oleh kelompok tani, warga Minsel tapi ternyata belum memberikan manfaat bagi kelangsungan warga Minsel. Bagaimana mungkin kalau harga jagung melimpah drastic,’’tanya Jemmy Wauran, warga Kilometer Tiga, Rabu (8/3/2017).

Menurut Wauran, harusnya pemerintah melakukan berbagai tindakan atas merosotnya harga jagung. Diakuinya, kalau petani jelas menguntungkan. Tapi, bagi warga sangat memberatkan hal diatas.

‘’Belum lagi pabrikan yang diharapkan dapat menampung hasil panen jagung belum action. Tidak heran, bila kalangan warga mulai mengeluh dengan harga yang cukup tinggi,’’jelasnya.

Lain lagi dikemukakan Jemmy Manampiring, salah satu petani asal Desa Sulu Kecamatan Tatapaan, Minsel. ‘’Ya, saat ini masyarakat Kecamatan Tatapaan sementara lakukan panen raya jagung. Hasil panen yang melimpah ini tidaklah ditunjang dengan adanya pihak penampung. Harga jagung saat ini tetap tinggi yaitu Rp 3.500 sampai Rp 4.500/kg,’’kata Manampiring.

Manampiring mengatakan, pemerintah sangat sigap dan menggencarkan penanaman jagung. Tapi, ternyata pemerintah sendiri kurang memperhatikan pasca panen soal harga. Menurutnya, harga untuk petani bisa naik, bisa juga turun. Namun, bagi warga biasa merasa harga diatas otomatis merugi.

‘’Olehnya, melihat hal diatas pemerintah harus cari solusi. Supaya, harga jagung tidak merosot tajam. Ingat, warga Minsel ramai-ramai menanam jagung. Ini karena program bupati Christiany E Paruntu dan wakil bupati Franky D Wongkar untuk memenuhi program Nawacita Presiden Joko Widodo. Tapi, menjadi persoalan adalah bagaimana mensejahterakan rakyat sedangkan harga jagung tetap melambung walau jagung di Minsel melimpah,’’tukas Manampiring.

Hukum Tua Desa Bajo Kecamatan Tatapaan Baharudin membenarkan adanya kesulitan masyarakat dalam memasarkan hasil panen jagung. ‘’Sekitar dua minggu lalu, hasil panen jagung di Desa Bajo mencapai 20 ton. Hasilnya dibawah ke Manado, karena di Minsel belum ada penampung jagung. Namun, harga di Manado sering terjadi naik turun. Saat ditelpon sebelum diantar, dibayar Rp 2.900/kg. tapi, setelah tiba di Manado ternyata harganya Rp 2.700/kg,’’jelas Kumtua Baharudin mengaku kecewa.

Tapi katanya, apa bole buat. Sudah datang ke Manado. Tidak mungkin, sudah sewa kendaraan, lantas harus pulang kembali ke Minsel. Namun demikian, kekecewaan diatas lantaran pemerintah melalui Dinas Pertanian Minsel belum mendapatkan solusi guna melakukan pembelian jagung di Minsel.

Kepala Dinas Pertanian Minsel Frans D Tilaar, SP MSi telah mendengar keluhan petani jagung soal belum ada solusi untuk penampungan hasil panen tersebut. ‘’Namun, melalui ibu bupati Tetty Paruntu, dalam dekat ini memastikan akan ada pengusaha untuk bisa membeli hasil panen jagung. Yang pasti, ibu bupati sudah bertemu di Jakarta dan mereka menyanggupi akan memulai membeli hasil jagung di Minsel,’’ungkap Tilaar.

(andries)