Kawangkoan Utara, FajarManado.com — Pengucapan syukur di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara tercoreng dengan tragedi berdarah di Desa Kiawa Dua Timur, Kecamatan Kawangkoan Utara.
Suasana suka cita sepanjang hari Minggu, 20 Juli 2025 itu berubah menjadi duka beberapa saat setelah pergantian hari.
Tak ada yang menyangka, terjadi pembunuhan pada sekira Pukul 00.30 Wita, dini pagi Senin, 21 Juli 2025 di jalan Desa Kiawa Dua Timur, Jaga 5.
Adalah Jiro Umboh, pria 20 tahun warga Jaga 3 desa setempat akhirnya meregang nyawa akibat dihujani pisau oleh tersangka MJM alias Maykel, warga sekampung, yang tercatat sebagai penduduk Jaga 5, dekat tempat kejadian perkara (TKP).
Tak kurang enam tusukan dan empat sayatan pisau membekas di bagian dada, perut dan punggung, serta sulutan bara api rokok di pipi dan di bawah mulut korban.
Teman-teman korban dan warga sempat melarikan korban ke RS Siloam Sonder. Tapi nyawa Jiro tak tertolong lagi.
“Jadi ada enam tusukan, lainnya luka gores dan bekas (sulutan) rokok,” kata anggota Polsek Kawangkoan saat melayat pada malam persemayaman, tadi malam.
“Ya cuma enam lobang,” sambung pria yang tiba di TKP dan sempat ikut memeriksa langsung jenazah korban di rumah sakit.
Dijemput Tersangka
Mengenai kronologis tersangka dan korban bertemu sebelum terjadi tindak kriminalitas dini pagi itu, ada beberapa versi yang beredar luas.
“Bukan berawal di lokasi di mana ada pesta musik, tapi di salahsatu rumah di jaga 5 yang agak jauh dari acara-acara itu,” ujar sejumlah warga setempat ketika ditemui terpisah sampai Rabu siang malam, 23 Juli 2025.
Kabar yang santer beredar di kalangan warga setempat mrnyebutkan, beberapa jam sebelum dini pagi naas itu, korban Jiro, NP alias Novri bersama rekan-rekan sebaya mereka berkumpul di salahsatu rumah di Desa Kiawa Dua Barat, berbatasan dengan Desa Kiawa Dua Timur, dua desa pemekaran dari Desa Kiawa Dua pada tahun 2008 ini.
Di rumah gadis berinisial IS alias Ita, yang dikenal sebagai tempat nongkrong kaula muda ini, mereka bercanda gurau sambil menegak minuman keras tradisional, captikus.
Sekira pukul 21.00 wita, menggunakan dua sepeda motor, yang ditunggangi tersangka Maykel dan Kevin tiba di sana. Lalu mereka ikut bergabung.
Beranjak larut malam, Maykel dan Kevin mengajak korban Jiro dan Novri berpindah tempat ke rumah rekan mereka, ES alias Enco, menggunakan dua sepeda motor.
Di teras rumah dekat rumah tersangka ini, mereka melanjutkan pesta miras. Tersangka duduk di antara korban di sisi kanan dan Novri di sebelah kiri.
Diduga telah dipengaruhi “air ajaib”, tersangka Maykel disebut-sebut mulai berulah.
Tangan kanannya yang sedang memegang rokok tersulut mengamit leher korban namun bara apinya mengenai pipi kanan korban Jiro.
Korban sontak mengeluh dan menegur tersangka yang kemudian langsung menarik dan menurunkan tangannya, tanpa menyampaikan kata maaf.
Beberapa saat berselang, kejadian yang sama terulang. Kali ini, bara api rokok tersulut pada bagian bawah mulut korban.
Dengan refleks, Jiro menebaskan tangan tersangka sehingga rokok di tangannya terlepas dan jatuh.
Menduga Maykel tak bisa terkendali lagi, korban langsung berdiri dan mengajak rekannya Novri untuk pamit pulang bersama.
Novri merespon sambil meminta Kevin untuk mengantar mereka berdua berboncengan satu sepeda motor.
Mendengar hal itu, Maykel bersikeras menawarkan diri ikut mengantar puka sehingga terjadilah peristiwa tersebut.
“Bagaimana proses penikaman itu terjadi, ya Novri deng Kevin lebe tau persis,” ujar tokoh masyarakat setempat sambil berharap agar polisi dapat melakukan penyidikan secara profesional dan transparan, tanpa rekayasa.
Anak Manja dan Penurut
Mereka juga senada menilai bahwa tersangka dikenal sebagai anak manja. Maykel sangat disanyangi ke dua orang tuanya. Tapi, disebut sebagai sayang yang salah.
Tak heran, ketika ditengarai melakukan perbuatan cabul, Maykel berusaha dibela orang tuanya.
“Berita itu sempat viral di media sosial, kalu ndak salah sekitar 2 tahun lalu,” ungkap mereka senada. “Kiapa stou kasus itu ndak berlanjut di pegadilan,” sambung warga lainnya.
Yang jelas, Maykel kemudian dipindah sekolah lanjutan atas dari SMAN 1 Kawangkoan ke Palembang.
“Mungkin saja karena kasus itu, sepulangnya dia dari Palembang, tidak lagi menetap di desa ini, tapi di rumah mereka di Bengkol (Manado). Baru kali ini saya tau dia datang,” duga warga lainnya, yang tinggal di kompleks rumah orang tua tersangka.
Sementara korban Jiro dikenal sebagai anak penurut dan suka membantu orang tua.
Selesai SMA, dia tidak kuliah tapi membantu di bengkel ayah tirinya dan pekerjaan lainnya. Hasil dari semua itu, ia berikan kepada ibunya.
“Dia kerja sama-sama deng kita di Rumah Makan Ragey Kawangkoan akhir-akhir ini,” ungkap Sisko.
Kepala Desa (Kades) Kiawa Dua Timur, Olie Karinda, SH menghimbau kepada masyarakat, terutama keluarga korban dan tersangka untuk menyerahkan sepenuhnya proses penyidikan kasus ini kepada pihak kepolisian.
Berbicara pada malam penghiburan, ia menyakinkan jika polisi akan bekerja secara profesional dan transparan untuk menguak penyebab dan kronologi peristiwa berdarah ini.
Prosesi ibadah penguburan almarhum Jiro Umboh berlangsung aman dan lancar di bawah pengawalan puluhan personil Polres Minahasa pada siang hingga sore hari, Rabu, 23 Juli 2025.
[**]

