Manado, Fajarmanado.com–Putra Minahasa, Sulawesi Utara ini tak populis di telinga warga Kawanua.
Tak dikenal luas karena bukan politisi. Atau pun terlahir dari keluarga yang kaya raya. Tapi dia adalah anak dari pengencer koran di Pusat Kota Manado, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara.
Siapa sangka, keilmuwan dan kepakarannya ternyata sudah 20 tahun lebih dikiprahkan di luar negeri sehingga dinilai layak mengganti posisi yang ditinggalkan oleh almarhum Dr. Sinyo Harry Sarundajang (SHS) sebagai Duta Besar Indonesia untuk Filipina.
Ya, Dr. Frits Herman Pangemanan, MSc. PhD bisa disebut nekad beradu nasib di bidang keilmuan sejak tahun 1999 setelah sukses berkiprah di bidang jurnalistik.
Langkah berani itu dimulai Doktor Frits, sapaan akrabnya, ketika menempuh pendidikan strata 2 (S2), Master Degree di ASIAN Social Institute, (Institut Ilmu Sosial Asia), sebuah perguruan tinggi berkualitas dunia, yang berkedudukan di Manila, Filipina.
Percaya akan kemampuannya, jebolan S1 Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng Manado itu terus meningkatkan keilmuannya di bidang social, Filsafat dan Antropologi pada Ateneo de Manila University dan meraih gelar Doktor S3 nya pada rentang waktu tahun 2002–2008.
Selama mengejar ilmu, Doktor Frits, yang juga dikenal dengan sebutan FHP ini, malang melintang pula mencari nafkah sebagai dosen (Lecturer), peneliti, penulis buku skala internasional berbahasa Inggris.
Atas prestasi gemilang dan keuletannya berkarya, maka mantan wartawan The Jakarta Post tahun 1991- 1996 (Kompas Group Jakarta) ini, ditantang almamaternya untuk melanjutkan kepakarannya di bidang ilmu sosial.
Doktor Frits tak bergeming. Ia mengerahkan segala talentanya di Manila untuk menulis buku buku ilmiah guna membiayai pendidikan S-3 nya.
Buku buku karya FHP, di antaranya, ada delapan buku tentang sejarah Misi Gereja Katolik di Kepulauan Maluku, termasuk kebudayaan Tamimbar.
Selain itu, FHP dipercayakan pula mengedit lebih 10 buku lintas ilmu ilmu, mulai dari Teologi, Pastoral Gereja, Filsafat Sosial hingga sejarah keagamaan karya Uskup dan para Imam Katolik lainnya.
Dengan penuh ketekunan mengejar ilmu Strata 3 (S3) selang tahun 2016–2020, gelar Doctor of Philosophy (PhD).
Hebatnya lagi, FHP meraih gelar doktor filsafat tersebut dengan predikat “Summa Cuma Laude”.
Anak Penjual Koran
Simon Pangemanan, ayah Frits cuma seorang pengecer Koran Manado. Berjualan di emper emper toko Bendar Manado di tahun 60 sampai 70-an.
Simon Pangemanan adalah seorang Katolik puritan. Ia diberi tanggung jawab oleh Gereja sebagai Ketua atau dulu disebut Guru Jumat, sebutan Pemimpin atau Ketua Jemaat sekarang ini.
Sebagai pemimpin umat, Simon sangat mahir memimpin ibadah atau pun berpidato depan publik.
Kelebihannya itu diakui berkat tiap hari membaca koran dan dijadikan ilustrasi saat “public speaking”.
Bakat, talenta dan kecerdasan “guru jumat” tersebut menurun keanaknya Frits.
Pemuda Frits dengan berbekal Sarjana (S1) Filsafat di Pineleng Manado, hijrah ke Jakarta tahun 1988.
Berbekal kecerdasan filsafatnya, kepiawaian menulis dan fasih berbahasa Inggris serta tekad dan kerja keras, ia diterima lewat seleksi ketat sebagai staf khusus Kepala Kantor Penerangan PBB (United Nations Information Center; UNIC) yang berkantor di Gedung Dewan Pers jalan Kebon Sirih, Jakarta.
Selama bekerja di UNIC, pemuda Frits ditempa atasannya, Direktur UNIC PBB, Mr. Hisashi Uno, seorang penulis besar kebangsaan Jepang.
Banyak ilmu diturunkan Hisashi Uno kepada Frits. Antara lain, kesektariatan, kearsipan, menulis berita ilmiah maupun jurnal ala koran majalah.
Kedisiplinan kerja yang tertata rapi, terampil dalam riset, teliti menguji fakta dan cekatan menulis naskah ilmiah menjadi bekal yang tak ternilai bagi Frits.
Lewat tugas tugasnya inilah, Frits akhirnya bergaul lebih jauh dalam pusaran dunia internasional PBB.
Di gedung Dewan Pers ini pula ia bertemu dan bergaul dengan tokoh tokoh pers Indonesia, seperti Gonawan Mohamad (Majalah Tempo), Husein Assegaf, Jakob Oetama, Zulharmans, Ed Zoelverdi sampai penyair Sutardji Calzoum Bachri.
Di saat saat rehat kerja, ia mendengar rutin tokoh tokoh tersebut membahas isu isu pers.
Di masa itu, perantau dari kampoeng pece Tikala Kumaraka itu nekad mengikuti tes tertulis, psikotes dan wawancara untuk merebut bea siswa jurnalistik yang dibuka Lembaga Pers Dr. Soetomo.
Dari seribu calon pendafatar, hanya 15 orang saja yang diterima saat itu. Satu di antaranya adalah pemuda Frits, yang semasa duduk di bangku sekolah dasar, saat pulang sekolah disuruh ayahya menjual Koran di pasar 45 Manado.
Diklat berlangsung ketat dan disiplin, dan Frits masuk sebagai lulusan terbaik dan langsung ditawari bergabung Majalah Tempo oleh Gonawan Mohamad.
Namun, melihat kepiawaiannya berbahasa Inggris, Raymond Toruan dari Koran berbahasa Inggris grup Kompas bersikeras merekrutnya.
Selang tahun 1991-‘1996 di Jakarta Post, FHP banyak ditugaskan meliput keliling benua Asia dan Eropa.
Tahun 1997, FHP dan rekan rekannya mendirikan Majalah Pasar Modal dan bergerak rutin di Pasar Modal Surabaya, Pasar Modal Jakarta dan Pasar Modal Singapura.
Di masa kerja jurnalistiknya, wartawan ulet kerja ini membantu mendirikan majalah ordo religious Tarekat Missionaris Hati Kudus Indonesia di Jakarta.
Di antaranya adalah majalah Hati Baru dan Shalom.
Berkat bantuan lobi pimpinan Tarekat, FHP peroleh bea siswa dari Filipina untuk pendidikan Strata-2 (S-2) di mana ilmuwan social Asia belajar yaitu di Manila, The Asian Social Institute.
Krismon 1999
Sejak krisis ekonomi (Krismon) tahun 1999, wartawan yang sudah menjelma cendekiawan muda ini ambil keputusan tepat. Ia memilih meneruskan pendidikan lebih tinggi.
Semasa menempuh studi lanjut, FHP disibukkan bekerja sebagai Profesional Interpreter pada International Forum/Seminar sehingga ia berkeliling benua Asia dan Afriika.
Keaktifan tetapnya yaitu sebagai peneliti, penulis dan editor buku dan jurnal dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
Dan tahun 2006 , FHP direkrut jadi dosen mengajar culture, language, history, journalism, dan politik. Juga Studi Religi berupa religion, spirituality, Christian and Scriptual History.
Tempat mengajarnya di Ateneo de Manila University dan Lembaga Research ACAS.
Selain sebagai dosen, peneliti dan penulis buku sekitar 20 an buku berbahasa Inggris, FHP ditunjuk membantu Dubes Filipina Dr. Sinyo Harry Sarundajang untuk menulis beberapa buku literatur yang diberi Pengantar oleh tiga Duta Besar dan tiga Atase Pendidikan dan Kebudayaan di era berbeda pada tahun 2018.
Ada yang menarik saat kerja khusus di Kedubes Filipina, di saat acara hut perkawinan ke 50 keluarga Sarundajang-Laoh.
Ketika itu, SHS memperkenalkan Doktor Frits Pangemanan sebagai ilmuwan putra Minahasa kelas Asia dengan karya karya internasional.
Lulusan doctoral Filipina yang meraih predikat Summa Cum Laude ini mempunyai jaringan yang sangat luas.
Menurut SHS, Dr Frits mengajar pada beberapa perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di Manila.
Para mantan mahasiswanya adalah para tokoh dari Komisi Perguruan Tinggi Filipina dan tokoh tokoh militer dari lingkungan National Education Police Intelegence Group yang berpangkat Jenderal dan pernah duduk dalam kuliah bahasa, budaya dan kesejarahan Indonesia.
Mantan Gubernur Sulut dua periode itu pun tak canggung menyebut Dr. Frits sempat menyalurkan sejumlah mahasiswa Indonesia dari Jawa untuk dapatkan bea siswa belajar di Manila.
[Ramon/heru]

