Manado, Fajarmanado.com — Virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika menghantam tata usaha ternak babi di Sulawesi Utara. Ancaman virus horor yang masa inkunasinya mencapai 14 hari ini membuat peternak babi panik sekaligus memukul bisnis pedagang daging babi.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Ir Stefanus BAN Liow MAP (SBANL) mengaku prihatin dan turut merasakan apa yang dialami para peternak dan pedagang daging babi di daerah Nyiur Melambai ini.
Meski pemerintah daerah belum memberikan pernyataan resmi jika virus ASF, yang pertama melanda ternak babi di Pulau Bulan, basis perternakan babi di tanah ini masuk daerah ini, namun para peternak terlanjur panik.
Seiring dengan viralnya kabar ada sejumlah ekor babi mati mendadak beberapa bulan lalu, nilai tawar peternak babi berangsur-angsur melemah. Babi penggemukan, yang beratnya sekira 80–120 kilogram, berangsur-angsur turun dari Rp.38 ribu per kilogram hingga tinggal sekitar Rp23 ribu per kilogram belakangan ini. Itu pun kalau ada pembeli.
Oleh karena itu, dalam seminggu terakhir, peternak turun tangan langsung menjagal dan menjual eceran babi penggemukan maupun indukan.
Harganya pun, sengaja diterjuanbebaskan sampai ada yang menjual Rp100 ribu 7 kilogram. Kata mereka senada, lebih baik dijual murah daripada ternak babi mati karena terlanjur kena virus ASF.
Senator SBAN Liow mengatakan, melihat fenomena ini pemerintah harus segera melakukan penanganan karena sangat berdampak pada perekonomian daerah dan nilai tambah keluarga, terutama para peternak dan pedagang.
“Harus ada langkah serius dalam penanganan ASF. Karena, dari awalnya tidak ada kasus, namun pada akhirnya sudah ada kasus. Kalau ini benar, kemungkinan besar lalu lintas ternak babi tidak dijaga ketat terutama di perbatasan masuk Wilayah Sulawesi Utara,’’ kata Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Sulawesi Utara (Sulut) yang membidangi Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Ekonomi lainnya, termasuk mitra kerja Kementerian Pertanian (Kementan) RI.
Untuk itu, Snartor SBAN Liow yang menjabat ketua Badan Urudan Legislasi Daerah (BULD) DPD RI ini mendorong pemerintah dan Perbankan untuk membantu petani yang saat ini mengalami kerugian karena menjual ternaknya di bawah harga sebenarnya.
Demam babi Afrika ini, lanjut dia, memang beda dengan virus-virus yanh menyerang ternak babi selama ini. Seperti, steptococus dan erisipelas.
“Kalau ASF tidak bisa diobati. Kalau sudah ada gejalanya lalu diberikan antibiotik atau tambahan kekebalan tubuh, justru akan lebih fatal dan dipastikan mati,” ujarnya.
“Bahkan, masa inkubasi virus ini cukup lama, sampai 14 hari. Lebih lama dengan daya tahan desinfektan,” sambung pria yang juga dikenal peduli dengan nasib warga Sulut ini.
Karena itulah, Senator SBAN Liow mengharapkan pemerintah untuk secepatnya mengambil solusi. Termasuk, menemukan vaksi yang tepat terhadap demam babi afrika ini.
[heru]

