Usai Divaksin, Lansia Taratara Meninggal, Ini Penjelasan Kadis Olga Karinda

Usai Divaksin, Lansia Taratara Meninggal, Ini Penjelasan Kadis Olga Karinda

Tomohon,fajarmanado.com – AP (60) Warga Taratara diduga meninggal sehari setelah menerima vaksinasi covid-19 tahap pertama. mengikuti vaksin di kelurahan Taratara ,Rabu (25/6/2021) ,AP (60) meninggal pada Kamis (26/6/2021) pekan lalu, sehari sebelumnya mengikuti vaksinasi Covid-19. Informasi yang dirangkum fajarmanado.com di Rumah Duka almarhum AP di Kelurahan Taratara, Senin (28/6/2021).

AP”Meninggal Kamis, sehari sesudah ikut vaksinasi Covid-19,” kata JP yang merupakan keponakan dari almarhum.

Menurut JP pamannya tersebut sudah mempunyai sejumlah penyakit kronis, juga dalam beberapa hari terakhir sempat berhenti mengkonsumsi obat yang wajib rutin dikonsumsi.

“Pokoknya sudah ada sakit jantung dan gula. Juga sempat berhenti minum obat pada beberapa hari terakhir sebelum meninggal. Tapi agar lebih jelasnya bicara dengan istrinya,” tambah JP.

Saat mau di konfirmasi ke Istri AP ,tidak berada di Rumah Duka di Kelurahan Taratara Satu.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Tomohon dr Olga Karinda saat di konfirmasi lewat telpon What Ap tadi malam(fajarmanado.com) ,begini penjelasan Kadis : Dari hasil konfirmasi ke puskesmas setempat memang almarhum sudah memiliki riwayat penyakit kronis.
“Menurut kami ini bukan masalah vaksin, karena setelah dilakukan vaksin petugas sempat menanyakan ke yang bersangkutan bagaimana keadaannya, penjelasan saat itu dalam keadaan sehat tidak ada masalah apa-apa. Namun ada penjelasan juga dari pihak puskesmas sesudah vaksin, almarhum sempat bekerja di kebun dengan pekerjaan Almarhum adalah membelah kelapa, juga ternyata beliau ( Almarhum) tidak mengkonsumsi obat yang wajib dikonsumsinya,” jelas Karinda .

Mekanisme screening, hingga yang bersangkutan dinyatakan lulus dan layak menerima tambahan imunitas. Karinda bilang, pihaknya tetap menjalankan prosedur dan mekanisme yang berlaku. Sehingga didapatkan hasil, yang bersangkutan layak untuk divaksin meski memiliki komorbid atau penyakit penyerta.

Yang bersangkutan memiliki komorbid tapi terkontrol. Yang jelas, semua warga tidak terkecuali wajib melewati proses screening. Kalau memang tidak layak, sudah pasti tidak akan dipaksakan untuk divaksin,kata Katinda.