oleh

Yakin Dapat Koalisi, NasDem Minut Tegaskan Tak Ada Calon Tunggal di Pilkada

Airmadidi, Fajarmanado.com – Target merebut dukungan 25 kursi di DPRD yang didengungkan PDIP Minahasa Utara (Minut) untuk mengahantarkan pasangan Joune Ganda dan Kevin William Lotulong (JG-KWL) sebagai calon tunggal, dinilai mimpi di siang bolong.

Politisi partai NasDem Minut, Winovel Lotulung menegaskan, wacana kotak kosong tidak akan terjadi karena sampai saat ini partai NasDem sedang membangun komunikasi politik dengan partai Golkar, Gerindra dan Hanura untuk berkoalisi mengusung calon bupati dan wakil bupati pada Pilkada 2020, 9 Desember mendatang.

Winovel Lotulung yang juga Ketua Bapilu Partai NasDem Minut menegaskan bahwa Shintia Gelly Rumumpe (SGR) hingga saat ini masih sebagai calon Bupati yang akan diusung partai NasDem.

“Kakak SGR tetap calon Bupati. Karena hingga saat ini kami masih melakukan komunikasi politik dengan parpol lain yang memiliki kursi di DPRD,” tandasnya.

Senada dikatakan dikatakan Wasek Partai NasDem Minut Decky Senduk. Menurutnya, partai besutan Surya Paloh ini pasti akan bertarung pada Pilkada 9 Desember nanti. “Komunikasi politik masih tetap jalan. Tunggu saja pendaftaran di KPU,” kuncinya.

Wacana calon tunggal ini, juga mendapat tanggapan dari akademisi Universitas Sam Ratulangi Manado, Toar Palilingan. Menurut dia, gerakan calon tunggal atau kolom kosong, mungkin saja bagian dari upaya bakal pasangan calon (Bacalon) mempersempit kekuatan atau upaya untuk menghadang lawan.

“Sebenarnya istilahnya sesuai perundangan adalah kolom kosong. Jadi itu proses politik. Tapi apa iya ada kolom kosong di Minut? Kan belum. Masih sementara berproses. Sampai saat ini, Golkar dan NasDem belum umumkan. Masih ada Hanura dan Gerindra juga,” kata Palilingan.

Lanjutnya, hingga kini ia belum melihat Pilkada Minut mengarah ke kolom kosong karena masih ada dua kekuatan yang justru bisa saja bergabung. “Karena masih ada kekuatan besar yang ingin mengambil kesempatan untuk berbuat, baik Golkar maupun NasDem. Bukan tidak mungkin jadi power sharing papan 1 atau 2. Tapi politik itu dinamis. Kita tak tahu. Tapi pasti bisa head to head,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika politik ini dinamis dan bisa berubah sebelum penetapan calon peserta Pilkada. Ia berkeyakinan jika Pilkada Minut bakal “Head to Head” antara PDIP dengan partai Nasdem yang saat ini sedang menjalin komunikasi dengan partai lain untuk berkoalisi

“Tapi saya belum lihat arahnya seakan-akan sudah pasti kolom kosong. Sebab masih ada kekuatan besar yang masing-masing berkepentingan untuk ikut ambil bagian dalam proses demokrasi dan mengabdi untuk kepentingan rakyat. Semua partai besar begitu. Bukan tidak mungkin karena kepentingan, bisa menyatu,” sambungnya.

Sebelumnya Pengamat Politik Universitas Sam Ratulangi Ferry Liando mengatakan, salah satu ciri demokrasi adalah adanya kompetisi dalam merebut kekuasaan.

Jika terjadi calon tunggal, katanya, maka tak ada kompetisi karena hanya akan melawan kolom kosong.

Liando mengatakan, terdapat sejumlah sebab mengapa bisa terjadi calon tunggal pada Pilkada. Pertama, tidak ada pemberlakuan ambang batas parliement treshold di DPRD. Dengan demikian ada banyak parpol masuk DPRD. Hal itu menyebabkan kursi-kursi di DPRD terbagi pada banyak parpol.

“Kondisi ini kemudian amat jarang parpol memperoleh jumlah kursi 20 persen dari jumlah total kursi di DPRD. Padahal UU Pilkada mensyaratkan parpol harus bisa memiliki kursi 20 persen sebagai syarat mengusung calon. Kemudian adanya ketentuan kewajiban mundur bagi ASN atau anggota DPRD jika menjadi calon. Banyak figur bagus di birokrat dan di DPRD namun tak bersedia jika harus mengundurkan diri. Ketiga, banyak parpol mandul,” tambah Liando.

Doktor jebolan Universitas Padjajaran itu menambahkan, ada parpol yang sesunguhnya memenuhi syarat untuk mengusung namun parpol itu tak bisa menyediakan calon untuk diusung.

“Ada dugaan banyak parpol memperjualbelikan parpolnya kepada calon. Jual beli kursi sebagai syarat dukungan akan sangat rawan terjadi. Apalagi jika jumlah kursi parpol itu tak capai ambang batas. Kursi-kursi itu akan rawan dibeli. Apalagi ada calon yang diusung oleh parpol yang jumlah kursinya tidak cukup. Untuk mencukupinya Biasnya membeli kursi dari parpol lain,” tandas Liando.

Terpisah, Tokoh Masyarakat Minut Junius Mandagi juga mengungkapkan, tidak mungkin ada kolom kosong. Karena masih ada parpol yang belum menyatakan sikap.

“Sedangkan sudah mengeluarkan SK masih bisa berpaling. Jadi tidak mungkin ada kolom kosong,” ujarnya.

Lanjutnya, jika kolom kosong terjadi, pesta demokrasi rakyat tidak ada. Tetapi, tidak mungkin pimpinan parpol serendah itu, tidak mau membuat pesta demokrasi di Minut. “Baiknya mengejar kemenangan, tetapi dengan cara yang santun dan demokratis. Dalam permainan politik berdemokrasi, baiknya berpolitik santun,” tukas Mandagi.

Berdasarkan data, jumlah kursi Partai NasDem 5 kursi, Golkar 4 kursi, Gerindra 2 kursi dan Hanura 1 kursi. Jika keempat parpol ini menyatuh, maka kolom kosong tak akan terjadi di Minut.

Penulis: Joel Polutu

News Feed