oleh

Pemutusan Meteran Listrik Bak “Cowboy”, PLN Manado Dinilai Krisis Kepemimpinan

Amurang, Fajarmanado.com — Kinerja PT PLN UP3 Manado kembali disorot. Aksi pemutusan meter pembatas jaringan listrik rumah tangga, kembali terjadi.

Sebagaimana dialami pelanggan listrik di Langowan, Minahasa, wilayah PT PLN (Pesero) UPL Kawangkoan, beberapa bulan lalu, aksi pemutusan aliran listrik bak “cowboy” dengan tidak menghargai pelanggan, dikabarkan kembali terjadi. Kali ini, dialami pelanggan di Amurang, Minahasa Selatan (Minsel).

Ulah oknum PLN Wilayah Suluttenggo di saat pemerintah menggratiskan pelanggan 450 Kwh dan diskon 50 persen bagi pelanggan R1 900 Kwh tengah pandemi Covid 19 saat ini, membuat pelanggan kecewa dan mengeluhkan kinerja perusahaan ber plat merah tersebut.

“Apa sih yang jadi beban PLN sehingga mereka melakukan pemutusan sepihak kepada kami pelanggan,” ujar Rini.

Sebenarnya, katanya, sebelum melakukan pemutusan jaringan listrik, manajemen PLN biasanya mengirimkan surat pemberitahuan terlebih dahulu, tapi kenyataan tidak.

“Ini perusahaan Negara tapi seakan-akan kami pelanggan tidak dihargai, oleh negara di masa sulit akibat pandemi virus corona sekarang ini,” kata ibu rumah tangga warga Amurang.

Yance Turangan, warga Amurang Barat, mengungkapkan keluhan senada. Ia mengatakan, pihak PLN semena-mena melakukan pemutusan listrik pelanggan.

“Pihak PLN tidak memberitahukan kepada kami akan melakukan pemutusan. Saya akui, kami memang sudah menunggak. Tanpa ada kabar, saat pulang kebun, lampu sudah tidak menyala. Ternyata meter listrik sudah dicabut dan dibawa,” ujar bapak yang berprofesi sebagai petani ini secara terpisah di Amurang, Selasa (19/5/2020).

Persoalan itu membuat Yance mengeluhkan langsung ke kantor PLN Amurang, tapi belum juga menindaklanjutinya.

“Kami ke kantor PLN Amurang atas permintaan pihak mereka. Tapi saat tiba di kantor kami tidak dilayani, hanya dibiarkan duduk di luar dan katanya nanti mau dipasang beberapa hari ke depan,” pungkas Turangan kecewa.

Ketua Dewan Pembina Lembaga Pemantau Penyelenggara Trias Politika, Noch Sambouw SH MH, menyayangkan hal ini terjadi.

“Di masa sekarang, pelanggan menunggak membayar itu wajar. Bisa di denda. Tapi ketika pihak PLN melakukan tindakan sembrono, itu perlu dipertanyakan. Apalagi di tengah wabah covid 19 ini. Janganlah bertindak seperti koboi,” ketus Sambouw.

Terpisah, ketua Harian DPP Pelopr Angkatan Muda Indonesia (PAMI-P), Maykel R. Tielung SE SH mengingatkan,  tindakan seperti itu perlu ditinggalkan PLN.

“Harusnya pihak PLN memberi kesan yang baik bagi masyarakat pelanggan. Di tengah pandemi Covid 19 saat ini, PLN harus lebih santun dan beretika. Kirimkan surat terlebih dahulu. Bukan seenaknya mencabut meteran listrik bagi pelanggan menunggak. Ini tidak manusiawi,” tandasnya.

Tielung menambahkan, jika hal demikian terjadi, revolusi mental belum berhasil di perusahaan plat merah tersebut.

“itu tandanya terjadi krisis kepemimpinan di PLN Manado, pihak PLN harus secepatnya mengganti pejabat-pejabat yang tidak bisa mendidik bawahannya yang memiliki karakter semena-mena. Kalau pun pihak PLN ada tupoksi, pelanggan juga ada payung hukum sebagai konsumen yang mengayomi,” papar pria yang berprofesi sebagai Advokat ini.

Sementara pihak PLN ULP Amurang dan UP3 Manado saat berita ini di ekspos belum berhasil dimintai tanggapan.

Penulis: Herly Umbas

News Feed