Hore..! Hasil Rapid Test 20 KERT PDP Meninggal Non Reaktif, Ini Reaksi Camat Pandey
Camat Tompaso Barat, Stefri Pandey, ST, MAP

Hore..! Hasil Rapid Test 20 KERT PDP Meninggal Non Reaktif, Ini Reaksi Camat Pandey

Tompaso, Fajarmanado.com — Ini kabar gembira bagi masyarakat Kecamatan Tompaso, Minahasa, Sulawesi Utara. Hasil rapid test terhadap sampel darah 20 orang Kontak Erat Resiko Tinggi (KERT) dengan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) warga Desa Tonsewer Selatan yang meninggal telah ke luar.

“Puji Tuhan, hasilnya semua 20 orang itu non reaktif,” kata Kepala Puskesmas Tompaso, dr. Felix N. Mamesah kepada Fajarmanado.com di Tompaso, Kamis (14/5/2020).

Ditemui di Puskesmas Tompaso, Desa Sendangan, Kecamatan Tompaso Barat, Mamesah mengatakan, ke 20 orang KERT tersebut, masih akan dilakukan rapid test 10 hari nanti.

“Untuk saat ini mereka harus melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing sambil menunggu menjalani rapid test ke dua,” ujarnya.

Sementara, 59 orang lainnya yang diduga kontak fisik dengan wanita 53 tahun, yang telah dikebumikan sesuai protokol kesehatan, segera didatangi petugas untuk diambil sampel darahnya.

Langkah ini, diakui Mamesah untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran corona virus disease atau Covid 19.

“Karena hasil swab test PDP yang dikebumikan di (pekuburan umum) Tonsewer ini, belum ke luar. Saya baru saja tanya ke RSUD Noongan,” ujarnya.

Camat Tompaso Barat, Stefri Pandey, ST, MAP mengharapkan ke 79 orang yang diduga KERT dan kontak fisik dengan PDP Tonsewer tersebut secara sadar dan mandiri melakukan isolasi diri di rumah masing-masing.

“Ini harus dilakukan, karena kita semua belum tahu hasil swab test dari almarhumah. Semoga saja non reaktif,” tandasnya sambil berharap.

Camat Pandey juga berharap agar 59 orang yang terdata sempat berada di dekat korban sebelum meninggal dunia dapat bersikap koorporatif menjalani rapid test, sebagaimana 20 orang KERT.

“ini demi diri kita sendiri, keluarga dan orang-orang dekat kita,” tegas Pandey seraya memaparkan kebanggaannya karena pemakaman PDP meninggal dunia pada Selasa, 12 Mei 2020 lalu berjalan lancar. “Terima kasih atas peran serta semua pihak, termasuk warga Desa Tonsewer raya,” sambungnya.

Ia juga berharap agar masyarakat luas tidak membentuk stigma negatif terhadap semua warga Desa Tonsewer raya sehingga dijauhi orang lain.

“Tolong jangan seperti itu. Beraktivitaslah seperti biasa. Rajin cuci tangan, jaga jarak dan senantiasa terus pakai masker apabila terpaksa ke luar rumah,” tuturnya ketika ditemui di kantornya, siang tadi.

Seperti diberitakan, wanita PDP warga Desa Tonsewer Selatan tersebutĀ  pertama kali masuk RSUD Langowan pada hari Jumat, 8 Mei 2020 dengan keluhan diare.

Saat ditanya oleh dokter dan tenaga medis, apakah adanya gejala penyakit lain, korban mengelak. Namun, ketika masuk rumah sakit yang sama tiga hari kemudian, Senin, 11 Mei 2020 sekitar pukul 15.30 Wita, baru korban mengaku mengalami sesak nafas.

Tindakan medis pun dilakukan. Hasil rapid test reaktif, foto toraks menunjukkan hasil phenomia dan oksigen 1 per di bawah 50.

“Jadi, tiga rekam medik menunjukkan ada gejala terinfeksi virus corona,” ujar dr. Mamesah yang saat itu mengaku telah berkoordinasi dengan pihak dokter RSUD Noongan ini.

“Tapi, hasil resminya, kita tunggu saja hasil swab test, karena kelenjar dalam kerongkongan atau dahak korban telah diambil untuk diswabtest,” sambung pria yang terkesan responsif ini.

Terkait dengan memutus mata rantai penyebaran Covid 19, Mamesah mengharapkan agar setiap orang yang merasakan gejala, apalagi yang tengah ditangani tenaga medis untuk secara terbuka dan polos memaparkan apa saja yang tengah dirasakan.

“Jangan disembunyikan demi kesembuhan kita dan demi orang-orang yang berada di sekitar kita,” katanya.

Mamesah juga menghimbau masyarakat agar senantiasa mematuhi anjuran pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid 19.

“Terapkan social distancing dan physical distancing, rajin cuci tangan dan membiasakan diri pakai masker apabila mendesak ke luar rumah,” pintanya.

Penulis: Herly Umbas