Yang Anak Zaman Now, Bisa Kenang dari BJ Habibie

Yang Anak Zaman Now, Bisa Kenang dari BJ Habibie

Oleh : Yan Okhtavianus Kalampung
Dosen di IAKN Manado.

TEPAT tanggal 11 September 2019, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berita meninggalnya salah seorang mantan Presiden Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie) pada usia 83 tahun.

Ruddy Habibie, sapaan familiar putra kelahiran Pare Pare ini, sempat melewati perawatan di Rumah Sakit dan bahkan sempat juga oleh netizen dikabarkan meninggal dunia pada beberapa hari yang lalu.

Ibarat ramalan, akhirnya berita hoax itu jadi kenyataan. Kita kehilangan salah satu tokoh kebanggaan Indonesia.

Ruddy Habibie dikenal luas sebagai sosok yang sederhana diiringi dengan bentuk tubuh yang tidak tinggi rupanya tidak sebanding dengan pemikirannya yang tinggi menjulang di dunia.Ia dikenal sebagai seorang jenius Indonesia.

Dalam bukunya yang berjudul The True Life of B. J. Habibie, A. Makmur Makka menjelaskan serentetan penghargaan tingkat dunia yang pernah direngkuh oleh Habibie dari berbagai negara, seperti Jerman, Inggris, Swedia dan Amerika Serikat. Ia sendiri memang sudah memiliki pengalaman tingkat dunia sejak muda.

Beberapa tahun belakangan ini, Habibie mulai diperbincangkan kembali setelah ia menuliskan buku autobiografi Habibie dan Ainun.

Di dalamnya berkisah tentang bagaimana ia berjumpa dan menjalani kehidupan bersama almarhumah istrinya sejak mereka masih remaja hingga kemudian berjumpa kembali saat Habibie menyelesaikan studi S2 di Jerman.

Kemudian, ia menjalani hidup di Jerman sambil melanjutkan studi doktoral dan akhirnya menjadi Profesor di sana.

Buku ini kemudian digubah menjadi film layar lebar dengan judul sama yang membuat Habibie dan Ainun dikenang oleh anak muda zaman Now sebagai simbol dari cinta sejati.

Film tersebut kemudian berlanjut ke sekuelnya yang berjudul Rudy Habibie yang berkisah mengenai kiprahnya saat menjadi mahasiswa Indonesia di Jerman.

Saat ini sebenarnya sementara persiapan untuk meluncurkan Film yang ketiga dengan tokoh Ainun yang diperankan oleh Maudy Ayunda, namun belum juga film itu ditayangkan, sang tokoh sudah duluan dipanggil pulang Tuhan.

Kuliah dan Nasionalisme yang tak terpisahkan
Perhimpunan Pelajar Indonesia atau sering disingkat PPI adalah organisasi kemahasiswaan yang termasuk paling mewawancarai Habibie.

Dalam jejak virtual Youtube, tercatat sebagian besar organisasi PPI di seluruh dunia pernah mewawancarainya. Seperti PPI Belanda, PPI Jerman dan beberapa PPI di kota-kotanya, PPI Turki dll.

PPI sendiri adalah organisasi perhimpunan mahasiswa dan pelajar yang sementara menuntut ilmu di seluruh dunia.

Habibie menjadi teladan bagi seluruh pelajar Indonesia terutama soal bagaimana bisa sukses selama studi di luar negeri.

Tak bisa dipungkiri, studi hingga tingkat pascasarjana merupakan salah satu trend dari anak zaman now.

Dengan akses berlimpah di internet, tiap anak muda bisa mengupayakan agar bisa studi sampai tingkat tertinggi bahkan di luar negeri.

Inilah kemudahan yang bisa dengan mudah diakses oleh anak zaman now. Sehingga tidak heran jumlah anak muda Indonesia yang sementara studi di luar negeri terbilang banyak jika dibandingkan dengan zaman Habibie kuliah dulu.

Salah satu persoalan yang dimiliki oleh anak zaman now adalah bagaimana memilliki visi yang mumpuni demi masa depan Indonesia.

Berbagai teori sudah mengatakan bahwa generasi milenial seringkali disebut sebagai generasi malas dan suka berfoya-foya. Ini nampak dari persoalan di media sosial ketika para penerima beasiswa LPDP pernah dihujat oleh netizen karena sering pamer jalan-jalan di luar negeri.

Belajar ke luar negeri bukan untuk menggali ilmu sebanyak mungkin tapi hanya menjadi sarana untuk jalan-jalan.

B. J. Habibie menjadi sosok yang baik untuk ditinjau dalam hal ini.

Dari film Rudy Habibie, kita melihat bahwa semasa muda Habibie menganggap kuliah bukanlah hal yang remeh. Ia menghabiskan banyak waktu untuk belajar dengan serius di bangku kuliah sambil aktif di organisasi kemahasiswaan yang memiliki kepedulian besar bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Dalam posisi ini, Habibie bisa disejajarkan dengan para pendiri Negara Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sam Ratulangie, dll yang menghabiskan waktu studinya bukan hanya untuk belajar tapi juga menyusun strategi sedemikian rupa untuk mengusahakan kemerdekaan Indonesia.

Inilah yang bisa terus diteladani oleh anak zaman now. Walaupun situasi dan zaman kita dengan Habibie sudah berbeda namun dengan berbagai kemudahan yang kita miliki sekarang seharusnya memberi kesempatan besar bagi kita untuk memberi sumbangsih bagi kemajuan bangsa.

Sosok Habibie memang punya kiprah dalam berbagai bidang entah itu politik, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan.

Dalam berbagai kiprahnya itu, banyak kontroversi yang muncul dari setiap tindak yang dimilikinya. Namun sebagai orang yang hidup di masa kemajuan teknologi.

Kisah hidup Habibie sebagai anak muda yang peduli dengan nasib bangsanya patut dicontoh oleh anak zaman Now.

Generasi Milenial sebagai penerus tongkat estafet kemajuan bangsa perlu meniru salah satu sosok kebanggaan rakyat Indonesia ini agar Indonesia Emas yang diidamkan itu bukan hanya menjadi isapan jempol belaka di masa depan.

Terima kasih untuk pengabdianmu Pak B. J. Habibie. Selamat Jalan. Auf Wiedersehen Profesor !

*****