Disorot Tidak Rampung, Welly Janji Segera Fungsikan Proyek DAK Pasar Desa Kanonang Dua
Penampakkan bangunan Pasar Desa Kanonang Dua, Kawangkoan Barat yang tidak didukung dengan prasarana sanitasi yang representatif. Foto: Heru.

Disorot Tidak Rampung, Welly Janji Segera Fungsikan Proyek DAK Pasar Desa Kanonang Dua

Kawangkoan Barat, Fajarmanado.com — Bangunan Pasar Desa Kanonang Dua, Kecamatan Kawangkoan Barat, Minahasa kini disorot warga. Proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) Dinas Perdagangan Minahasa tahun 2017 ini dianggap asal jadi dan tidak tuntas.

Bangunan berukuran panjang 15 meter dan lebar 12 meter, yang berada di atas lahan desa, tepatnya di bagian belakang Balai Desa Kanonang Dua itu, tak dilengkapi dengan water closed (WC) representatif, layaknya fasilitas publik lainnya.

Kian ironis lagi, bangunan yang dikerjakan kontraktor tersebut juga tidak didukung dengan prasarana sanitasi, terutama drainase, yang berfungsi sebagai saluran air pembuangan dari kawasan pasar desa ke drainase induk.

Yang ada, hanya drainase yang melingkar pada ke empat sisi bangunan terbuka itu. Akibatnya, jika hujan mengguyur, air tergenang di halaman pasar dan bagian belakang kantor desa.

Karena itulah, kalangan tokoh masyarakat lima desa Kanonang raya, yang berada pada satu hamparan pemukinan, ini menduga telah terjadi manipulasi Rencana Anggaran Proyek (RAP) dan anggaran pada pekerjaan itu oleh kontraktor.

“Kalau tidak salah ingat, sesuai papan proyek terpasang waktu itu, pasar desa ini beranggaran sekitar 430 juta (rupiah). Padahal, hanya sebegitu ukurannya,” ujar tokoh masyarakat setempat.

Pantauan Fajarmanado.com pada Senin (17/6/2019) siang tadi, pembangunan WC yang berada di sudut belakang pasar tidak tuntas dikerjakan. Pintu terkesan dibuat asal jadi dan tidak kokoh sehingga telah terlepas dari konsengnya.

Di bagian dalam ruang WC, tak terlihat adanya bak penampungan air serta ledeng dan kran air. Yang tampak hanya lubang kecil menembus dinding, kemungkinan besar bakal dijadikan tempat ledeng air masuk.

Sekitar 2,5 meter di sebelah Utara bangunan WC, ada lubang berukuran sekitar 1×1 meter. Kemungkinan besar berfungsi sebagai ceptic tank.

Sementara pada empat sisi bangunan, dibangun melingkar drainase terbuka dengan tinggi-lebar sekitar 30 cm. Namun, itu hanya sampai di pojok kanan depan.

Meski tampak dibuat drainase darurat menuju drainase induk desa, air tampak masih tergenang di sepanjang drainase pasar.

Sesuai informasi yang sempat beredar, kata sumber, pasca pembangunan pasar pemerintah menyiapkan pula anggaran perawatan sebesar Rp.30 juta.

“Tapi, kami tidak tahu bagaimana endingnya sampai saat ini,” kilah sumber pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) ini.

Sementara itu, Hukum Tua (Kumtua) Desa Kanonang Dua, Welly Rawis tak menafikkan kabar ini.

“Ya, makanya sampai sekarang belum ada serahterima dari Dinas Perdagangan kepada kami,” komentarnya ketika dikonfirmasi di Kantor Camat Kawangkoan Barat, Kamis (13/6/2019).

Ia mengakui bahwa bangunan pasar tersebut tidak dilengkapi dengan WC representatif dan drainase penghubung ke saluran pembuangan air utama desa di depan Kantor Desa.

“Inilah yang jadi persoalan utama. Sudah berkali-kali saya hubungi pihak Dinas PU tapi belum ada realisasi sampai saat ini,” katanya, yang siang itu ditemani Kumtua Kayuuwi Satu, Meikie Mamesah, SH.

Kumtua teladan nasional 2016 ini juga tak menampik adanya sorotan masyarakat selama ini.

“Untuk itulah, kami segera memanfaatkan dan mengfungsikannya. Tapi, WCnya akan diperbaiki  dan saluran air buangannya, dilengkapi dulu,” kata dia.

Soal sumber dana, menurut Kumtua Welly, akan diupayakan secara swadaya pemerintah desa, BPD, LPM dan masyarakat.

“Menyesal kalau tidak dimanfaatkan. Di samping sebagai pasar umum, juga pasar souvenir,” ujarnya.

Pengfungsinnya sebagai pasar souvenir,  ia mengatwkan, akan dikoordinasikan dengan pengelola objek wisata Bukit Kasih Kanonang dan instansi dinas terkait.

“Lokasinya, kan hanya berjarak sekitar 100 meter dari simpang empat jalan Bukit Kasih, telah didukung pula dengan akses jalan yang representatif,” kilahnya.

Penulis: Herly Umbas