Kawangkoan Barat, Fajarmanado.com — Pemandangan tak lazim terlihat di perkebunan Maumbi, wilayah Desa Tombasian Bawah, Kecamatan Kawangkoan Barat, Minahasa, Sulawesi Utara.
Puluhan wanita berbagai usia produktif berbaur dan gotong royong bersama belasan pria membangun jalan usaha tani.
Para kaum hawa itu tak segan dan nekat memikul batu dalam karung dan menjunjung pasir dalam wadah ember.
Tak hanya itu, mereka pun ikut menata bebatutuan di kulit tanah dan secara gotong royong memindahkan material speci pada wadah ember secara estafet.
Sementara belasan pria terbagi dua kelompok, mencampur material speci dan melakukan pengecoran.
“Saya bangga dengan antusias masyarakat di sini membangun desa. Tak hanya pria, tapi juga wanita,” kata Hukum Tua (Kumtua) Desa Tombasian Bawah, Rickie Koampa kepada Fajarmanado.com, Jumat (7/6/2019).
Bahkan, lanjut dia, setiap pekerjaan pembangunan jalan usaha tani, para pekerja wanita lebih banyak dengan pria. Tahun lalu ada 98 orang, 70 lebih adalah wanita.
Desa Tombasian Bawah memfokuskan pemanfaatan dana desa selama ini untuk membuka dan membangun jalan kebun dengan konstruksi rabat beton.
“Pengalaman kami, rabat beton lebih tahan lama di banding dengan aspal lapis penetrasi. Buktinya, jalan rabat beton yang kami bangun dengan dana PNPM pada tahun 2009 masih bagus sampai sekarang ini,” jelasnya.
Pria yang memasuki 13 tahun memimpin Desa Tombasian Bawah ini menilai pembangunan jalan perkebunan konstruksi rabat beton adalah multi manfaat.
Disamping membuka akses ekonomi dan memperlancar mobilisasi hasil-hasil pertanian dan perkebunan, juga menyerap tenaga kerja lebih banyak sebagaimana salahsatu tujuan dikuncurkannya dana desa dari Pemerintahan Presiden Joko Widodo, yaitu pemberdayaan masyarakat.

“Saya tidak pernah membatasi jumlah tenaga kerja dalam membangun jalan. Siapa pun dia, pria maupun wanita, silahkan. Asalkan, ikut aturan jam kerja,” kata dia di Kawangkoan Barat.
Selain memaksimalkan penyerapan tenaga kerja, juga untuk mempercepat realisasi tahapan program dan menyesuaikan dengan kondisi cuaca.
“Terus terang, realisasi program pembangunan fisik dana desa kami saat ini sudah mencapai 35 persen, karena kami punya rekanan pihak ke tiga yang siap mendrop material meski belum langsung dibayar,” ujarnya.
Sesuai APBDes 2019, Dana Desa Tombasian Bawah dialokasikan melanjutkan pembangununan jalan rabat beton sepanjang 850 meter dari pekebunan Mawale ke Maumbi.
“Nilai anggarannya, 645 juta (rupiah) lebih,” ungkap pria yang juga Penatua Pria Kaum Bapa GMIM Wilayah Kawangkoan Dua.
Recky Koampa mengakui dana sebesar itu terkesan terlalu besar bila hanya bisa membangun jalan rabat beton 850 meter.
“RAP kan dibuat oleh Dinas PU. Mulanya terjadi perdebatan, tapi ketika pendamping desa turun memantau dan diberikan penjelasan, akhirnya disetujui,” katanya.
Pekerjaan jalan rabat beton dari perkebunan Mawale ke Maumbi tak ada akses jalan lain membawa material. Kondisi jalan masih tanah yang becek apabila hujan.
“Jadi, material diturunkan di posisi nol, kemudian dipindahkan dengan tenaga manusia, mulai dari batu sampai pasir dan semen,” kata suami dari Eva Jetty Ruindungan ini.
“Jadi, anggaran banyak yang terserap untuk biaya HOK (Hari Orang Kerja),” sambung dia.
Penulis: Herly Umbas

