Ratahan, Fajarmanado.com — Petani kelapa di Kecamatan Ratahan, Tombatu dan Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), mengeluhkan harga kopra yang turun drastis.
Harga komoditi andalan utama petani Mitra ini terjun benas dari Rp8.200/kg menjadi Rp 4.500/kg. Untuk itu mereka berharap ada intervensi pemerintah sehingga harga kopra di tingkat petani bisa terdongkrak naik lagi.
Novi Waas, warga kelurahan wawali, Kecamatan Ratahan saat ditemui Fajarmanado.com, Rabu (28/2/2018), mengakui harga kopra tiap tahun selalu tidak stabil, kadang naik kadang turun. Hingga beberapa bulan terakhir harga kembali merosot. Harga beli di tingkat petani tinggal dibanderol Rp4.500/kg.
“Apa lagi yang bisa diharapkan dari hasil seperti itu. Buah jerih payah yang selama ini dikerjakan tak lagi memberikan kesejahteraan. Harga turun pastinya kami rugi, apalagi saat ini hasil kelapa lagi bagus. Di saat hasil tengah bagus harga turun, sama saja makan di ongkos,” kata Novi.
Dia menjelaskan, perawatan yang dilakukan selama berbulan-bulan untuk mengolah buah kelapa kering menjadi kopra bukan perkara mudah. Namun hasil yang diterima tak sebanding dengan apa yang dikerjakan. Nilai rupiah yang diterima dari hasil itu, jangankan untuk membeli kebutuhan lainnya, sekadar memenuhi kebutuhan perut keluarga, petani terpaksa harus mengutang dulu.
“Sampai hari ini, saya tidak mengerti penyebab anjloknya harga kopra. Kami hanya bisa pasrah sambil mengumpulkan sisa-sisa kelapa yang sudah tiga kali panen selama setahun ini,” ujarnya.
Hal senada juga dikatakan Noldy Komalig warga Tombatu, harga kopra pada saat ini sudah tidak sesuai dengan pengeluaran untuk pembiayaan orang kerja.
” Untuk pembiayaian tenaga kerja tenagapun sudah tidak mencukupi,” tandas komalig.
Penulis : Didi Gara

